Berita Prabumulih
Respon Walikota Soal Santri di Prabumulih Tewas Dianiaya, Orangtua Anaknya Dicubit Saja Sakit
"Mohon kepada petugas kepolisan mengusut, karena ini kan menyangkut nyawa, siapa sih orangtua yang tidak sayang dengan anak," kata Ridho.
SRIPOKU.COM, PRABUMULIH - Seorang santri di Prabumulih tewas dianiaya setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Peristiwa memilukan ini ikut menjadi perhatian Walikota Prabumulih, Ridho Yahya.
Respon walikota soal santri di Prabumulih tewas dianiaya, Ridho mengharapkan petugas kepolisian mengusut kasus tersebut karena menyangkut hilangnya nyawa seseorang.
"Mohon kepada petugas kepolisan mengusut, karena ini kan menyangkut nyawa, siapa sih orangtua yang tidak sayang dengan anak.
Kalau dicubit saja sakit, apalagi meninggal dunia," ungkap Ridho ketika diwawancarai wartawan di ruang kerjanya, Kamis (9/8/2021).
Ridho mengungkapkan, karena petugas kepolisian ada di pihak netral, maka dari itu harus mengusut tuntas kasus tersebut.
"Harus diusut apa, kenapa dan apa menyebabkan almarhum meninggal tersebut, harapan kita secepatnya sehingga terjawab," katanya.
Lebih lanjut, pria yang gemar olahraga ini mengaku pondok pesantren Al Furqon yang menjadi tempat korban menempuh pendidikan sudah lama berdiri.
Sejak itu, baru pertama kali ada kejadian santri meninggal diduga karena dianiaya.
"Kepada guru dan murid jangan sampai kalau ada permasalahan jadi berkembang tapi cepat-cepat diatasi oleh guru atau muridnya, kalau ada gesekan langsung ditengahi," bebernya.
Ridho mengaku, permasalahan tersebut harus menjadi pemebelajaran bagi lembaga pendidikan lainnya sehingga tidak ada kekerasan atau penganiayaan di lingkungan sekolah.
"Kalau ada peristiwa atau gesekan langsung ditengahi diberikan pemahaman," katanya.
Curahan Hati Ibu Santri Tewas di Prabumulih
Isi curahan hati ibu santri di Prabumulih tewas dianiaya. Wanita 43 tahun itu mengatakan, korban merupakan anak semata wayangnya.
Mengenakan jilbab dan baju merah muda berpadu dengan masker coklat, warga Kecamatan Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir itu merasa sangat terpukul dan sedih atas kematian anaknya itu.
Terlebih kematian anaknya itu dinilai tidak wajar diduga setelah dianiaya oleh kakak kelasnya.