Berita Prabumulih
Respon Walikota Soal Santri di Prabumulih Tewas Dianiaya, Orangtua Anaknya Dicubit Saja Sakit
"Mohon kepada petugas kepolisan mengusut, karena ini kan menyangkut nyawa, siapa sih orangtua yang tidak sayang dengan anak," kata Ridho.
"Ini anak aku semata wayang, makanya aku sedih dek, sedih sedih nian," ungkap ibu korban dengan suara bergetar dan meneteskan air mata.
Ibu korban menangis lantaran sedih anaknya meninggal diduga karena dianiaya, bukan karena sakit.
"Kalau dia mati oleh wabah sekarang ini, tidak jadi masalah, berarti kendak Ilahi. Cuma, yang aku sedih, jasadnya meninggal itu dalam keadaan sakit terluka itu," kenangnya.
Sebelum meninggal dunia, katanya, korban sempat meminta dipeluk karena akan meninggal dunia.
"Waktu dia mau meninggal malam Selasa itu katanya, mak peluklah aku ini, aku ini sakit siapa tau aku mati.
Waktu itu saya ngomong jangan mati nak, kalau kau mati, bagaimana dengan ibu," bebernya.
Setelah dipeluk, korban mengatakan jika sangat sayang dengan ibunya namun tidak bisa apa-apa termasuk makan karena mengalamu sakit.
"Dia mengatakan sangat sayang dengan saya, dia bercita-cita ingin menjadi polisi setelah tamat sekolah," bebernya lirih.
• Update Kasus Seorang Santri di Prabumulih Tewas Dianiaya, Aparat Kepolisian Pelajari Rekaman CCTV
Sementara saat ditanya mengenai kronologi tewasnya santri di Prabumulih, ibu korban menuturkan, aksi penganiayaan terjadi Kamis (19/08/2021) yang lalu.
"Anak saya mengatakan dia dianiaya oleh kakak kelas di asrama pondok pesantren itu pada malam Jumat (19/8/2021)," bebernya.
Usai kejadian, sambung ibu korban, dirinya membawa pulang anaknya tersebut dan dibawa berobat ke seorang bidan di Desa Menanti.
Lalu kemudian dibawa berobat ke rumah sakit pada Sabtu (5/9/2021) dan meninggal dunia pada Minggu malam.
"Saat itu dia belum mengaku, karena dia sering bengong, setelah dipaksa ditanya baru dia bercerita tapi dia minta jangan diceritakan dengan bapak.
Dia ngomong ada beberapa teman pelakunya," katanya.