Mata Lokal Desa
Malam Tapai dan Gema Nostalgia,Saat Tradisi Lawas Kembali Menghangatkan Jantung Kayuagung
Bukan hanya karena riuh rendah suara ribuan orang, tetapi juga karena aroma manis tapai yang menguar, bercampur dengan gema musik tradisional
Penulis: Nando Davinchi | Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Udara malam di sekitar Tugu Jam Kayuagung, Jumat (29/8/2025), terasa berbeda.
Bukan hanya karena riuh rendah suara ribuan orang, tetapi juga karena aroma manis tapai yang menguar, bercampur dengan gema musik tradisional yang seolah menarik waktu kembali ke masa lalu.
Malam itu, tradisi lawas yang sempat tertidur, "Malam Tapai", bangkit kembali dengan semarak, menghangatkan kenangan dan jantung kota.
Tapai adalah makanan tradisional hasil fermentasi bahan pangan berkarbohidrat seperti singkong atau beras ketan, yang menggunakan ragi (khususnya Saccharomyces cerevisiae) untuk mengubah gula menjadi alkohol dan asam, sehingga menghasilkan rasa manis keasaman yang khas, tekstur lunak, dan sedikit alkohol.
Malam Tapai maksudnya Para pedagang yang hendak berjualan di Kalangan (pasar) Kayuagung dengan berdagang makanan tradisonal seperti tapai dan lainnya.
Sejak senja, warga dari berbagai penjuru Ogan Komering Ilir (OKI) mulai berdatangan. Mereka tumpah ruah, mengubah area Tugu Jam menjadi lautan manusia yang disatukan oleh rasa rindu dan penasaran.
Di atas panggung megah, pementasan seni budaya silih berganti memukau mata. Lantunan lagu-lagu daerah membangkitkan nostalgia, sementara pertunjukan teater rakyat seperti "Kereta Mabang Handak" dan tarian "Cang Incang" yang sarat makna filosofis, dibawakan dengan penuh semangat oleh para pelajar dan Forum OSIS, membuktikan bahwa warisan budaya ini telah terpatri di jiwa generasi muda.
Ini bukan sekadar pasar malam biasa. Ini adalah sebuah perayaan identitas, sebuah ruang di mana kenangan masa kecil bertemu dengan semangat masa kini.
Di tengah keramaian, wajah sumringah Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki, tak bisa disembunyikan.
Ia berjalan di antara kerumunan, menyapa warga, dan menyaksikan langsung bagaimana tradisi yang ia dorong untuk dihidupkan kembali ini disambut dengan antusiasme luar biasa.
"Alhamdulillah, tradisi Malam Tapai yang merupakan warisan budaya Kayuagung berlangsung meriah. Ribuan warga datang, ini menunjukkan betapa dalamnya kecintaan masyarakat terhadap budayanya sendiri," ujar Muchendi dengan bangga.
Lebih dari sekadar perayaan budaya, Malam Tapai adalah denyut nadi baru bagi ekonomi kerakyatan. Ratusan pelaku UMKM membuka lapak, menjajakan segala rupa produk khas OKI.
Mulai dari makanan tempo dulu, hasil bumi segar, hingga kerajinan tangan yang menawan.
"Mereka mengaku dagangan mereka habis diserbu pembeli," tambah Muchendi, menunjuk deretan stan yang sibuk melayani pelanggan.
Bagi generasi yang lebih tua, Malam Tapai malam itu adalah sebuah dejavu yang manis. Muchendi menjelaskan, tradisi ini telah ada sejak era 1980-an.
| Kok Bisa Ada Kata Kerbau di Nama Desa Ulak Kerbau Ogan Ilir Sumsel? Dijuluki Kampungnya Penjahit |
|
|---|
| Melihat Napal Jaringan Desa Singapura OKU, Wahana Seluncuran Alami di Sungai Ogan Digemari Anak-anak |
|
|---|
| Desa Remayu, Jejak Perdagangan Kuno di Tengah Harta Karun Pecahan Keramik Belanda dan Cina |
|
|---|
| Ruwatan Bumi di Karang Binangun Sumsel : Doa, Budaya, dan Bisikan Leluhur di Tengah Deru Zaman |
|
|---|
| Inovasi Desa Talang Lubuk Banyuasin, Ubah Buah Nipah Jadi Tepung Bernilai Ekonomis Tinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/malam-tapai-OKI.jpg)