Mata Lokal Desa

Desa Remayu, Jejak Perdagangan Kuno di Tengah Harta Karun Pecahan Keramik Belanda dan Cina 

Desa Remayu di Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, ternyata menyimpan jejak sejarah perdagangan kun

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Yandi Triansyah
Disbudpar Musi Rawas
PECAHAN - Masyarakat di Desa Remayu Kecamatan Tuah Negeri, ketika menunjukan pecahan piring dan gelas buatan Cina dan Belanda yang ditemukannya. Foto diambil beberapa waktu lalu 

SRIPOKU.COM, MUSI RAWASDesa Remayu di Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, ternyata menyimpan jejak sejarah perdagangan kuno yang menarik.

Temuan pecahan piring dan gelas buatan Belanda serta Cina di wilayah ini menjadi bukti kuat bahwa Desa Remayu dulunya diperkirakan sebagai salah satu jalur perdagangan penting pada masanya.

Emiliana, Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Musi Rawas, mengungkapkan bahwa berdasarkan cerita para sesepuh, Desa Remayu pernah beberapa kali berpindah lokasi.

Semula, desa ini berada di seberang sungai, namun karena sering diganggu oleh binatang buas, penduduk akhirnya pindah ke lokasi yang sekarang, dekat jalan lintas utama dan masih di tepian Sungai Kelingi serta Sungai Musi.

 Lokasi desa yang lama, yang kini telah menjadi kebun duku yang melimpah, adalah tempat di mana masyarakat sering menemukan artefak-artefak bersejarah ini.

Saat musim panen duku tiba dan warga membersihkan kebun mereka, tidak jarang mereka menemukan pecahan keramik berupa piring, vas bunga, bahkan sendok kuningan dan gelas.

"Pecahan keramik itu ada yang buatan Belanda dan ada juga yang buatan Cina. Sehingga diperkirakan Desa Remayu ini juga menjadi salah satu jalur perdagangan di masa itu," jelas Emil.

Ia menambahkan bahwa asal-usul keramik tersebut dapat diidentifikasi dari keterangan yang tertera di bagian bawah piring atau vas bunga yang ditemukan warga.

Sayangnya, karena ketidaktahuan akan nilai sejarahnya, banyak dari temuan pecahan keramik ini yang dibuang begitu saja oleh masyarakat.

"Itukan yang mereka temukan itu hanya pecahan, jadi mereka buang saja," ujar Emil.

Penemuan benda-benda ini menguatkan dugaan bahwa lokasi kebun duku yang sekarang dulunya merupakan pemukiman padat penduduk dan kemungkinan besar adalah jalur perdagangan yang sibuk. Transportasi pada masa itu diperkirakan memanfaatkan jalur sungai.

Meskipun demikian, Emiliana menekankan bahwa temuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan sepenuhnya.

Hingga saat ini, aktivitas masyarakat di Desa Remayu juga masih sangat bergantung pada sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan mencari ikan.

Untuk menuju ke lokasi dusun lama dari Desa Remayu yang sekarang, warga harus melewati jembatan gantung.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved