Disrupsi Pendidikan Tinggi di Daerah
Beberapa pendidikan tinggi kita masih tampak mempertahankan wajah “lama” nya yang serba lambat, manual, unresponsive, unproductive, dan unaccountable.
SRIPOKU.COM -- Dewasa ini banyak pendidikan tinggi di daerah, baik negeri maupun swasta sedang mengalami kegagapan dalam menghadapi gelombang perubahan besar dan mendadak yang tidak diperkirakan akan terjadi sebelumnya.
Ada 2 (dua) perubahan besar yang harus dihadapi oleh seluruh pendidikan tinggi di daerah, yaitu:
1). Revolusi Industri 4.0 (dan kebijakan Kampus Merdeka);
2). Bencana non alam pademi Covid 19.
Baca juga: Pentingnya Kemampuan Presentasi Akademik Berbahasa Inggris Bagi Guru SD di Era Revolusi Industri 4.0
Perubahan besar dan mendadak ini menuntut pendidikan tinggi di daerah, mampu menjadi turbin penggerak dalam merespon perubahan yang sangat cepat dan mendadak, bukan ha-nya untuk diri sendiri namun juga demi kemaslahatan daerah dan anak bangsa.
Namun demikian beberapa pendidikan tinggi kita masih tampak mempertahankan wajah “lama” nya yang serba lambat, manual, unresponsive, unproductive, dan unaccountable.
Fenomena ini menuntut tumbuh berkembangnya energy kolaboratif yang saling sinergis in-tra dan antar organisasi, didukung oleh lahirnya agile leadership dan agile bureaucratic yang dapat menjadi stimulus dan berperan penting dalam mentrasformasi perguruan tinggi yang “lama” menjadi lebih lincah, inovatif, responsive, dan sensitive terhadap perubahan yang terjadi.
Revolusi Industri 4.0 (dan kebijakan Kampus Merdeka)
Salah satu dampak dari bergulirnya Revolusi Industri 4.0 adalah makin pesatnya perkem-bangan teknologi informasi digital yang mendudukan pendidikan tinggi pada tantangan perubahan yang tak bisa dihindari.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Sekarang ini pendidikan tinggi bukan saja diharuskan, namun dipaksa untuk membongkar persepsi mengenai pendidikan dan pola transformasi keilmuan (Agus Suwignyo,dkk. 2020).
Di tahun 1990 pada berbagai forum UNESCO sudah menekankan kepada semua negara yang ada di dunia untuk mempersiapkan pendidikan tingginya dalam menyambut Revolusi Industri 4.0 (Unesco, 1997, 1999).
Walaupun begitu, perubahan beberapa pendidikan tinggi berjalan dengan lamban dan tidak secepat yang direncanakan.
Disamping itu, Revolusi Industri 4.0 nampaknya hanya berkaitan dengan aspek instusional pendidikan, terutama yang berkaitan dengan akses terhadap pengetahuan (Hatma Sur-yatmojo,dkk,2020).
Revolusi tersebut terlihat belum menyentuh aspek yang subtansial dalam pendidikan, sebagai contoh yang berkaitan dengan transformasi karakter ilmu dan proses produksi.
Di beberapa daerah, memperlihatkan respon yang diberikan pemerintah terhadap adanya Revolusi Industri 4.0 dibidang pendidikan tinggi masih terbilang lamban.
Walaupun di tahun 1994 sudah disetujui adanya perdagangan bebas yang memposisikan pendidikan menjadi produk publik (Agus Suwignyo,dkk.2020).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/dr-ir-h-abdul-nadjibmm.jpg)