Breaking News:

Disrupsi Pendidikan Tinggi di Daerah

Beberapa pendidikan tinggi kita masih tampak mempertahankan wajah “lama” nya yang serba lambat, manual, unresponsive, unproductive, dan unaccountable.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Dr. Ir. H. Abdul Nadjib, MM. Dosen FISIP UNSRI / Pemerhati Kebijakan Publik Daerah 

Walaupun begitu, perubahan beberapa pendidikan tinggi berjalan dengan lamban dan tidak secepat yang direncanakan.

Disamping itu, Revolusi Industri 4.0 nampaknya hanya berkaitan dengan aspek instusional pendidikan, terutama yang berkaitan dengan akses terhadap pengetahuan (Hatma Sur-yatmojo,dkk,2020).

Revolusi tersebut terlihat belum menyentuh aspek yang subtansial dalam pendidikan, sebagai contoh yang berkaitan dengan transformasi karakter ilmu dan proses produksi.

Di beberapa daerah, memperlihatkan respon yang diberikan pemerintah terhadap adanya Revolusi Industri 4.0 dibidang pendidikan tinggi masih terbilang lamban.

Walaupun di tahun 1994 sudah disetujui adanya perdagangan bebas yang memposisikan pendidikan menjadi produk publik (Agus Suwignyo,dkk.2020).

Di awal tahun 2020 secara resmi pemerintah membuat sebuah kebijakan yang terkait dengan pendidikan tinggi yang secara khusus merespon tuntutaan Revolusi Industri 4.0.

Respon yang ditunjukkan oleh pemerintah yaitu dengan adanya program Kampus Merdeka.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Program tersebut memberikan ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk memilih bidang pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut.

Program tersebut mendorong supaya pembelajaran tidak terbatas hanya pada ruang kampus saja, namun juga di tempat-tempat lain di masyarakat dan melibatkan berbagai agensi yang luas (Kemendikbud 2020).

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved