Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Kisah Perjalanan Apriyani Rahayu Raih Emas Olimpiade Tokyo, Mulai dari Raket Kayu dan Bulu Ayam

Memang kebiasaan dia khususnya orang Sulawesi Tenggara selalu menghormati yang tua. Sudah tradisinya bagi kami masyarakat Konawe.

Editor: Soegeng Haryadi
SULTRA.TRIBUNNEWS.COM
Amirudin, ayah Apriyani Rahayu 

AMIRUDIN, ayah pebulutangkis Apriyani Rahayu memiliki mimpi besar terhadap anaknya di masa depan setelah berhasil meraih medali emas di Badminton Olimpiade Tokyo 2020 bersama Greysia Polii. Dalam wawancara khusus oleh Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribun Network, Rachmat Hidayat, Sabtu (7/8), Amirudin ingin sekali agar Apriyani Rahayu menjadi pelatih bulutangkis andal untuk melahirkan bibit-bibit atlet baru. Berikut petikan wawancaranya.

******

Bagaimana perasaan Anda ketika tahu Apriyani meraih medali emas?
Saya sangat berbahagia dan bangga sekali karena putri saya dapat medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Alhamdulillah. Dan saya berterimakasih seluruh masyarakat Indonesia khususnya di Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Konawe Kelurahan Lawulo yang telah mendoakan anak saya sehat dan bisa meraih emas.

Selepas naik podium apakah Apriyani sempat telepon, dan apa yang dia sampaikan?
Iya dia langsung menghubungi saya sambil menangis lalu bilang alhamdulilah tercapai cita-cita piala dunia. Dan doakan lagi ke depannya supaya dapat terus mumpung masih ada waktu.

Ada yang menarik putri Anda selalu mencium tangan dari pasangan mainnya, bisa diceritakan apakah hal ini menjadi kebiasaan menghormati orang yang lebih tua?
Memang kebiasaan dia khususnya orang Sulawesi Tenggara selalu menghormati yang tua. Sudah tradisinya bagi kami masyarakat Konawe.

Menjadi atlet ada batas usianya sebenarnya apa harapan besar untuk putri Anda ke depan?
Alhamdulillah saat ini putri saya sudah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Satu-satunya harapan ke depan kalau dia sudah gantung raket supaya dia bisa balik membina anak-anak putra putri daerah di bidang bulutangkis (menjadi pelatih).

Bisa diceritakan aktivitas latihan Apriyani dalam satu hari berapa kali, kebiasaan sehari-harinya seperti apa?
Hari-harinya Apri sangat memperhatikan latihan kebetulan dari rumah ke tempat latihan sejauh 9 kilometer terpaksa orang tua turun tangan mengantar. Latihannya setiap hari pagi, siang, dan malam.

Kegiatan sebagai ASN apakah tidak mengganggu latihan?
Apri berdinas di Kementerian Pemuda dan Olahraga, jadi persisnya sudah diatur orang pusat.

Boleh tahu dari banyak kejuaraan yang dimenangkan Apriyani, biasanya digunakan untuk apa penghargaan tersebut?
Karena baru terjadi ini Olimpiade saya tidak tahu akan digunakan untuk apa hadiahnya.

Waktu Apriyani mendapat medali emas di Tokyo Anda sampai meneteskan air mata, apa penyebabnya?
Putri saya sudah beberapa tahun selalu juara bulutangkis namun suasana Olimpiade ini berbeda tentu kita ada rasa terharu. Ditambah saya juga mengingat almarhum mamahnya yang selalu mengantar kemana-mana. Itulah sehingga meneteskan air mata.
Kalau masalah juara yang baru-baru ini di Spanyol dia juara satu, alhamdulilah di Perancis, India, Thailand empat kali juara satu. Orang tua kewajibannya tinggal berdoa dan bisa dia aktif latihan terus sesuai program di pelatnas.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved