Learning Loss Dan Gagalnya Fungsi Sekolah Di Masa Pandemi

Selama masa pandemic covid-19 sejak dua tahun lalu sekolah seperti kehilangan arah untuk mengorganisir pelaksanaan pembelajaran peserta didik.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
DR. Abdurrahmansyah Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang 

Harus dipahami bahwa kemampuan guru dalam mengimplementasikan kurikulum sangat berkaitan dengan pengetahuan guru mengenai kurikulum teoritik dan implementatif.

ilustrasi
Update 1 Agustus 2021. (https://covid19.go.id/)

Pengetahuan tentang kurikulum selanjutnya mempengaruhi sikap guru terhadap perubahan kurikulum dalam bentuk respon dalam mengembangkan kurikulum dan pembelajaran yang lebih efektif.

Guru yang sekedar mengajarkan struktur materi seperti pada kurikulum normal dan tidak melakukan redesain ulang sehingga sesuai dengan kondisi pandemic, merupakan sikap yang buruk dalam merespon perubahan kurikulum.

Bahkan dapat menimbulkan mal praktik pendidikan.

Mengacu pada penerapan kurikukum darurat di negara-negara Eropah yang sering mengalami cuaca ekstrem dan bencana alam sehingga menghajatkan peserta didik untuk tidak dapat da-tang ke sekolah dalam waktu yang cukup lama.

Maka sekolah memberlakukan konsep curriculum packages.

Konsep kurikulum paket didesain secara sederhana sehingga peserta didik dapat belajar dan mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan ketersediaan fasilitas di sekitarnya.

Peserta didik tidak dituntut untuk belajar sesuai kurikulum formal seperti di masa normal, sehingga mereka tetap fun dan senang belajar.

Sebagai konsekwensi dari penerapan curriculum packages, maka penilaian hasil belajarpun menggunakan konsep automatic promotion.

Pada pola penilaian ini semua peserta didik diluluskan.

Penerapan kurikulum di masa darurat seperti ini, lebih mengutamakan sisi psikologis peserta didik sehingga tidak merasa tertekan dan stress.

Di Indonesia, penerapan kurikulum di masa pandemic justru banyak menimbulkan akibat psikologis pada peserta didik.

Mengacu fenomena di Indonesia dan Malaysia misalnya, terdapat beberapa kasus peserta didik yang melakukan aksi bunuh diri karena tidak mampu beradaptasi dengan problem pembelajaran daring yang dihadapi.

Hal ini mengindikasikan betapa sangat menyiksanya proses pembelajaran sistem daring dengan berbagai sisi keterbatasan dan ketidakmampuan orang tua dalam memfasilitasi proses pembelajaran online.

Kebijakan pendidikan yang dikeluarkan pemerintah di masa pandemic sejauh ini terkesan kurang komprehensif dan tidak mendasar.

Manajemen sekolah, guru, tenaga pendidikan terlihat kesulitan dan tidak siap mengorgani-sasikan pembelajaran di masa pandemic.

Banyak orang tua dan peserta didik membenci pola pembelajaran daring yang dikoordina-sikan sekolah.

Seabrek permasalahan pendidikan di masa pandemic ini merupakan ujian dan tantangan bagi para pembuat kebijakan pendidikan di negeri ini.

Pola rekrutmen guru dan penguatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan melalui pelatihan perlu dievaluasi secara serius, sehingga sekolah dapat berfungsi dengan baik.

Sekolah dikatakan berfungsi dengan baik jika mampu mengembangkan potensi intelektual, moralitas, skill, dan spiritualitas peserta didik secara optimal.

Mengabaikan salah satu dari proses pengembangan potensi itu adalah sebuah potret buruk dari sistem persekolahan.

Semoga pandemic ini segera berlalu sehingga sekolah kembali menjalankan fungsinya untuk mendidik anak bangsa secara benar (logic), baik (ethic), dan indah (art). Wallahu a’lam bi al-Shawwab.

Oleh : DR. Abdurrahmansyah
Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved