Memahami Apa Itu Moderasi Beragama?
Peresmian Rumah Moderasi Beragama di Kampus B UIN Raden Fatah Palembang telah dilakukan Menteri Agama yang disaksikan langsung Gubernur Sumsel.
makna kedua adalah: wasit berarti pelerai (pemisah, pendamai) antara pihak-pihak yang berselisih;
dan makna ketiga adalah: wasit berarti pemimpin di pertandingan (seperti wasit sepakbola, badminton, atau olah raga lainnya).
Adapun lawan kata moderasi adalah tatharruf, yang dalam bahasa Inggris mengandung makna extreme, radical, dan excessive; bisa juga dalam pengertian berlebihan.
Dalam bahasa Arab, setidaknya ada dua kata yang maknanya sama dengan kata extreme, yaitu al-guluww, dan tasyaddud.
Dalam konteks beragama, pengertian “berlebihan” ini dapat diterapkan untuk menyebut orang yang bersikap ekstrem, yaitu melampaui batas dan ketentuan syariat agama.
Jadi, tidak ekstrem, adalah salah satu kata kunci paling penting dalam moderasi beragama. Karena, ekstremitas dalam berbagai bentuknya, diyakini bertentangan dengan esensi ajaran agama dan cenderung merusak tatanan kehidupan bersama, baik dalam kehidupan beragama maupun bernegara.
Sehingga moderasi beragama itu adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama. Hal itu dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa moderasi beragama merupakan pencerminan dari makna agama yang inklusif dengan tidak hanya mengakui kebenaran mutlak ajaran agama yang dianutnya, tetapi juga memahami kebenaran agama yang dianut orang lain.
Memahami tidak harus berarti mengakui dengan “hati keimanan”; karena beragama sesungguhnya dibenarkan dalam hati yang merupakan rahasia dan hanya Tuhan yang Maha mengetahuinya.
Memahami dengan pengertian akademik, bahwa ada “kebenaran lain” selain kebenaran yang kita anut dan pahami.
Dalam ajaran Islam, jelas sikap ini harus diterima karena dalil-dalil ajaran Islam dengan jelas juga telah mendakwahkan bahwa tidak ada paksaan dalam bergama dan “Agamamu adalah bagimu, dan agamaku adalah milikku”.
Kebenaran Esoteris suatu ajaran agama yang dipahami kebenarannya dengan hati keimanan terkadang sulit dipahami bagi orang lain yang tidak mengimaninya.
Di sinilah kerap terjadi “ketegangan spiritual” antar pemeluk agama yang berpotensi menjadi konflik terbuka sesama pemeluk agama.
Jika kebenaran esoteris ini dibiarkan berkembang dalam satu ajaran agama tertentu dan digiring oleh kepentingan-kepentingan politik aliran.
Maka sempurnalah sentiment keagamaan negatif berubah menjadi koflik horizontal antar warga masyarakat dan bahkan memicu kerusuhan sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/yazwardi-jaya.jpg)