Breaking News:

Wawancara Eksklusif

30 Tahun Addie MS 'Merawat' Twilite Orchestra, Sempat Dicibir Cuma Dua Bulan: Syukur Tiada Henti

Menurut Addie tak mudah membangun sebuah grup musik orkestra, sampai-sampai banyak cibiran yang menyebut bakal cuma bertahan 2 bulan

Editor: Soegeng Haryadi
ISTIMEWA
Addie MS 

Dengan semangat gotong royong bukan terus mengeluh pemerintah begini, kurang ini, dikit-dikit ngeluh, tapi look at yourself apa yang kamu bisa lakukan. Saya ngomong sama GM Plataran Hotel, apa yang bisa kita lakukan langsung pengadaan masker, sanitizer, mudah-mudahan yang melihat mau ikut juga.

Ada diskusi antar musisi untuk saling membantu?
Ada tapi bukan yang menonjol sekali. Komunitas-komunitas tertentu. Kalau bicara pandemi ini, meski bukan epedimiolog. Bukan dokter, tapi common sense, saya memiliki pandangan kita tidak bisa optimis epidemi akan berakhir pada waktu tertentu.1918 ada panic flu. Second wave lebih dahsyat.
Kemudian hilang begitu saja. Itu faktor x kita tidak tahu. Kemudian banyak virus yang belum ketemu vaksin, kok bisa kita hidup dengan virus itu. Muncul virus baru yang kita sedang berlomba-lomba menyempurnakan vaksin.

Semua coba. Ada yang kontra, tapi yang paling penting jangan pernah menduga-duga ah ini paling setahun lagi, percuma. Saya berpendapat ini epidemi yang tidak mudah dihentikan. Karena ini sudah dunia.

Begitu ada interaksi bangsa lain, muncul lagi. Untuk diisolasi, sekarang New Zealand aman, karena masyarakatnya kurang dari Jakarta. Singapore mungkin lebih mudah. Indonesia secara geografis lebih sulit.

Akhirnya saya lebih mengambil pilihan bagaimana melihat kehidupan sekarang dari Maret lalu selama pandemi ini ada, bagaimana kita hidup dengan cara baru. New Normal itu sebenarnya coba dimaknai secara positif saja.

Memang benar kita harus mencoba berdamai dengan New Normal ini. Seperti Pak Jokowi pernah sampaikan. Sekarang baru Singapore yang mesti berdamai. Tidak relevan, semoga kita bisa kembali seperti dulu.

Yakin banyak kebiasaan yang tidak bisa seperti dulu. Sekarang bisa Zoom mana mau masalah bisa diselesaikan dengan Zoom kita bertemu. Banyak sekali cara hidup, gaya hidup, akan berubah. Saya analogikan seperti anak kecil umur 10 tahun dicemplungin di satu daerah bahasa lain, Paris misalnya.
Kalau anak kecil, seperti gelas yang dikosongkan, dia siap meenrima apa saja. Karena kecil resistensi akan mudah mengadaptasi kondisi yang baru. Jadi mau tidak mau saya harus berusaha menggambarkan diri saya anak kecil yang selalu ingin tahu ini itu.

Dengan situasi ini, sikapi dengan sikap positif. Yakin bahwa di semua masalah pasti ada celah kesempatan. Kalau belum-belum sudah ngeluh, pemerintah tidak beres, ketua RT begini, nyalahin orang gampang, tapi kita tidak akan going anywhere. Mending apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi ini. Challenge-nya kita bisa lulus atau tidak.

Satu titik membuat Anda bertekad untuk fokus di orkestra?
Kecintaan terhadap sesuatu sering kali kita tidak bisa jabarkan. Kenapa kita taksir a, tiba-tiba kita suka b. Itu sesuatu yang tidak bisa digambarkan secara spesifik. Begitu saya mendengar piano klasik Beethoven kok rasanya gimana.Atau lama-lama mendengar orkestra yang katanya kompleks, begitu mendengar kok indah. Apalagi kalau melihat film-film, scoring orkesnya itu simfoni, Star Wars.
Semuanya main, semuanya bersuara. Manakala musik itu diberikan gambar yang bergerak, kita tidak ada resistensi, kita menikmati. Seringkali dalam hidup itu, sudah di-blur. Visual sering kali merusak menipu, kita kurang mengolah kepekaan kita.

Padahal itu berpengaruh sekali. Saya beberapa kali kadang-kadang bermain saja. Ada seribu penonton, saya akan mainkan dua jenis musik, satu tenang, satu dinamis. Masing-masing dua menit. Coba semua pegang denyut nadi.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved