Cerpen Sihar Emry : Ziarah Diri
Ucapan kondektur adalah titah. Membantahnya sama dengan pindah ke bus berikutnya yang selisih waktunya satu jam keberangkatan dari bus yang ditumpangi
Adalah mulia menjernihkan kehidupan, tapi jangan sampai abai dalam mencegah munculnya kuasa yang mengotori kehidupan. Kuasa ini ada di tiap masa dan tak pernah mati. Selalu bersalin rupa atas nama apa saja.
Dia teringat kembali perbincangan di rest area. Dialek dan pilihan kosakata yang tak akrab di telinga. Potongan rambut. Setelan pakaian. Penampilan si penumpang itu berasal dari masa yang jauh di belakang. Dia tersentak. Sebuah dugaan tercetus di pikiran. Apakah dia bapakku?
"Manusia akan memiliki keberanian menguburkan beliung, pedang, tombak, dan segala macam senjata jika berhasil membunuh ketakutan pada sengsara," sebuah suara memecah lamunannya.
Dia bangkit. Sepasang matanya mengitari area pekuburan mencari asal suara.
Dia terpaku. Si pemilik suara, penumpang itu, berjalan keluar area pekuburan melewati gapura dan menyeberang. Dari seberang penumpang itu tersenyum lewat matanya, melambaikan tangan, dan seterusnya, dan seterusnya.... (*)
Cerpen Sihar Emry
Ziarah Diri
https://www.kompasiana.com/siharemry/60b8a8c3d541df27dc4bb822/ziarah-diri?page=all
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ziarahjpg.jpg)