Cerpen Sihar Emry : Ziarah Diri
Ucapan kondektur adalah titah. Membantahnya sama dengan pindah ke bus berikutnya yang selisih waktunya satu jam keberangkatan dari bus yang ditumpangi
Esok setelah penjemputan dan hari-hari sesudahnya ibunda dan dia yang masih bayi hidup menyandang stigma.
Yang membuat ibu membawanya pindah. Jauh. Ke tempat yang tak mengenal mereka. Di sana dia tumbuh. Di sana dia mendengar tutur ibu sebelum mati tentang alasan bapak dijemput dan tak pernah kembali.
Tutur yang disimpan hati dan pikiran lantas berbuah menjadi tekad mencari keberadaan bapak. Di mana tinggal jika masih hidup, di mana makam jika sudah mati.
Pencarian yang menuntun kaki menjelajahi bagian-bagian negeri menemui saksi-saksi. Mencari keterangan apakah bapak pernah dihadapkan pada pengadilan. Pencarian yang kandas tanpa hasil.
Empat bulan jelang usia 30 tahun dia mati di kamar ICU karena satu penyakit. Kepada malaikat dia meminta hidup satu kali lagi. Permintaan yang ditanggapi dengan mengirimkannya ke rahim seorang perempuan. Istri sahabatnya. Dia lahir kembali di tahun yang sama dengan tahun dia mati.
Atas nama persahabatan dan persaudaraan, sahabatnya, yang kini dia panggil papa, memberi dia nama serupa namanya di kehidupan sebelumnya.
Kehadirannya sebagai seorang anak menambah semangat papa kukuh memegang pilihan. Menjaga harapan bahwa perubahan segera datang.
Di tahun ketiga kehidupannya yang kedua, papa sempat menghilang. Bersembunyi. Baru kembali setelah sosok yang memerintahkan penjemputan bapak di tahun paling absurd tumbang oleh kekuatan rakyat. Kejatuhan sang diktator menyudahi pergerakan papa.
Papa memulai kehidupan baru. Jauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan, utak-atik konstitusi, tukang-menukang undang-undang, sulap-menyulap proyek-proyek pemerintahan. Papa membuka usaha penjualan material bangunan.
"Segala sesuatu butuh fondasi yang kuat. Rumah, keluarga, negara. Itu kata sahabat Papa," kata papa satu kali mengutip ucapannya dulu.
Dari usaha itu kebutuhan dan fasilitas yang dia butuhkan untuk tumbuh dan berkembang dipenuhi. Papa dan mama membebaskannya hidup dengan pilihan-pilihan yang dia buat.
Selama tak mendatangkan angkara, selama tak menzalimi, selama tak mengoyak negeri. Dia pun meneruskan pencariannya hingga lelah menyergap.
Dia memilih berdiam di rumah. Hari-hari menjadi lumbung tanya. Akankah pencariannya menemukan muara? Atau hal sia-sia yang hanya meletihkan tubuh dan jiwa? Pertanyaan yang menuntunnya menziarahi makamnya sendiri.
Dia baca namanya yang tertulis di nisan. Huruf-huruf yang hampir pudar.
Kematian adalah penghargaan tertinggi atas sebuah pilihan. Ucapan si penumpang kembali terdengar di kepalanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ziarahjpg.jpg)