Cerpen Sihar Emry : Ziarah Diri

Ucapan kondektur adalah titah. Membantahnya sama dengan pindah ke bus berikutnya yang selisih waktunya satu jam keberangkatan dari bus yang ditumpangi

Editor: aminuddin
taman pendidikan.com
Ziarah 

Dua puluh menit waktu rehat di rest area habis. Kondektur mempersilakan penumpang naik ke bus. Kopi masih tersisa setengah gelas dan perbincangan menggantung tanpa rasa puas, tapi dia tak punya kuasa meminta waktu rehat ditambah. 

Ucapan kondektur adalah titah. Membantahnya sama dengan pindah ke bus berikutnya yang selisih 1 jam keberangkatan dari bus yang ditumpangi.

"Aku yang bayar. Semoga kau tak keberatan," ucap seseorang, sesama penumpang temannya melewati waktu rehat, lantas membayar tagihan kepada pramusaji yang menunggu.

 "Senang berbincang denganmu," penumpang itu mengatupkan tangan di depan wajah memberi salam perpisahan saat mereka sama-sama berdiri. "Semoga perjalananmu menyenangkan."

Belum sempat dia menanggapi, penumpang itu telah mengambil langkah. Berjalan melewati bus lalu menyeberang ke jalur yang mengarah ke kota keberangkatan mereka. 

Dari seberang penumpang itu tersenyum lewat matanya, melambaikan tangan, dan menaiki bus yang berhenti di depannya.

Gegas dia masuk ke bus lewat pintu depan begitu mendengar suara kondektur memanggil untuk terakhir kali. Para penumpang lain telah merunduk menatap layar gawai. Sebagian menggantungkan earphone di telinga.

Begitu dia duduk bus mundur pelan-pelan ke badan jalan. Dalam laju yang perlahan mengencang suara Dolores O'Riordan memenuhi bus lewat Animal Instinc. Suara sang vokalis mengantarnya balik pada percakapan yang baru lewat di rest area.

Dia memalingkan wajah ke kanan. Menatap bangku kosong di baris sebelah, tempat penumpang itu tadinya duduk. Membayangkan si penumpang di sana. 

Satu tarikan napas panjang mengisi paru-parunya. Dia lalu menyandarkan kepala. Menutup mata. Membiarkan diri dibuai tembang band yang pernah dia saksikan di sebuah panggung festival rock.

 Tiga puluh menit dia lelap hingga Dying In The Sun memulihkan kesadaran. Matanya terbuka. Dia arahkan pandang keluar jendela. Hampir tiba di tujuan. 

Bersamaan lagu selesai, bus berhenti di satu halte. Kondektur menyebut nama tempat yang jadi titik berhentinya. Dia raih tas tangan di samping dan turun.

Begitu bus berlalu dia menyeberangi jalanan sepi. Memasuki area pekuburan bergapura putih. Menuju sebuah makam yang sekali pernah dia kunjungi atas ajakan papanya. 

Kunjungan 10 tahun lalu. Sehari setelah dia menerima ijazah SMP, sehari sebelum keluarganya pindah ke kota kelahiran papanya.

Dia berjongkok menghadap nisan. Membaca namanya di sana.Dia lahir di tahun paling absurd. Tahun saat sebuah pemberontakan gagal tapi menyingkirkan pemimpin negeri. Pemberontakan yang membuat bapaknya dijemput dari rumah saat dia berusia 5 bulan dan tak pernah kembali. Tiada kabar hidup pun mati.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved