Breaking News:

Virus Corona di Sumsel

Bukan Berarti tidak Ada Klaster Ramadan, Iche Ahli Epidemiologi Soroti Tracing Covid-19 di Sumsel

"Mengubah perilaku saja susah, apalagi mengubah tradisi yang secara turun-temurun sudah dilakukan. Saya lebih setuju umat Islam salat di rumah,"

sripoku.com/jati
Epidemiolog Universitas Sriwijaya Iche Andriany Liberty.  

Laporan wartawan Sripoku.com, Jati Purwanti

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Salat Id berjemaah di hari raya tahun ini menuai banyak pro dan kontra dari berbagai pihak.

Ada banyak pihak yang menginginkan salat sunah tersebut digelar dengan syarat protokol kesehatan yang ketat, namun tak sedikit pula yang menyetujui larangan salat tersebut.

Ahli Epidemiologi Universitas Sriwijaya, Iche Andriany Liberty, mengatakan saat salat berjemaah kemungkinan besar umat Islam akan patuh dengan aturan protokol kesehatan, namun tradisi bersalam-salaman dan berpelukan usai salat akan sulit terhindarkan.

Objek Wisata Danau Ranau di OKU Selatan Hampir Dipastikan Tutup Saat Lebaran 2021

"Mengubah perilaku saja susah, apalagi mengubah tradisi yang secara turun-temurun sudah dilakukan. Saya lebih setuju umat Islam salat di rumah masing-masing saja," katanya, Kamis (6/5/2021).

Menurut Iche, di tengah penularan kasus aktif yang terus terjadi dan persentase kematian akibat infeksi Covid-19 di Sumsel, semestinya kegiatan yang melibatkan banyak orang dan berpotensi menjadi kerumunan massa ditiadakan.

Adapun persentase kematian di Sumsel gara-gara Covid-19 yakni 4,93 persen, sedangkan angka kematian nasional 2,7 persen.

"Belajar dari India. Kasus di sana menurun dan vaksinasi berjalan dengan sangat baik, tetapi dengan euforia dan kegiatan keagamaan yang tidak patuh protokol kesehatan menyebabkan Tsunami Covid-19," ujarnya.

Isu Cinta Segitiga Dibalik Perawat Cantik Dibakar Hidup-Hidup, Bahkan Orang Terdekat Korban

Dia menegaskan, tidak adanya laporan kasus penularan Covid-19 dari aktivitas keagamaan saat bulan ramadan tidak mengindikasikan tidak adanya klaster penularan akibat aktivitas ibadah.

Apalagi pelacakan kasus masih belum optimal.

"Tracing di Sumsel ini minim, seharusnya jika ada satu kasus positif harus dilakukan tracing ke 30 kontak erat.

Namun, di Sumsel tidak begitu. Kasus tidak terlacak karena tidak ada tracing," jelas dia.

Iche berharap setiap kepala daerah di Sumsel untuk ikut aktif melakukan imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menjadi media penularan Virus Corona.

Terlebih, saat ini juga telah muncul mutasi Virus Corona yang penularannya semakin cepat.

Dinas PUBM Sumsel Anggarkan Rp 1,3 Triliun untuk Pelelangan Proyek Infrastruktur

"Semua pihak harus berperan. Masyarakat akan patuh aturan jika pemerintah juga rutin memberikan imbauan masyarakat akan lebih patuh," kata Iche.

Penulis: Jati Purwanti
Editor: Refly Permana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved