Breaking News:

Buya Menjawab

Bagaimana Sikap Kita dalam Menghadapi Dilema sebagai Karyawan?

Dalam menjalankan tugas sebagai 'karyawan' kadang menghadapi dilema. Jika diikuti haram, tidak diikuti kita tersisih bahkan dimarjinalkan.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/ ANTON
Ilustrasi - Sebagai seorang muslim, diperlukan sikap istiqomah, jika sudah mengetahui sesuatu itu haram, maka bagaimanapun harus kita hindari apapu 

Demikian pernyataan Rasulullah Saw. ”Ibarat buih terapung di atas air. Bisa dibawa hanyut, bisa terdampar dan didamparkan ke pinggir. Tidak mempunyai daya gerak, kalaupun bergerak, hanya lamban menumpang kepada gerak angin atau arus, terserah kearah mana saja hendak dibawanya.

Sahabat bertanya: “Kenapa jadi begitu ya Rasulallah? Rasulullah menyambung keterangannya. Lantaran sudah dicabut rasa takut dari hati lawan-lawanmu. Dalam pada itu telah tertanam kelemahan jiwa dalam hatimu sendiri. Bertanya pula para sahabat; Kelemahan jiwa seperti apa yang dimaksud itu?

Dijawab oleh Rasulullah saw.: ”HUBBUN DUNYA WAKAROHIYATUL MAUT, Rakus dunia dan takut mati. Maksudnya: Kepingin yang berlebih-lebihan kepada dunia dan takut yang berlebihan kepada mati, candu kesenangan dan takut risiko. Bagi orang yang dihinggapi penyakit ini, seluruh pikirannya dan keinginannya ditujukan untuk menikmati kesenangan dunia semata-mata. Candu kesenangan yang tidak mengenal batas dan mengenal puas.

Ibarat orang yang minum air laut semakin diminum, bertambah haus. Tak ada baginya perbedaan antara kesenangan yang pantas dan bersih dengan kesenangan yang tidak wajar dan merusak. Jangan dicoba menyebut istilah halal dan haram, pemisahan seperti itu dianggap sebagai tradisi kuno, sudah tidak up to date, tidak laku lagi di abad ini, lantaran itu pula diganti dengan norma-norma bikinan sendiri yang menurut seleranya lebih up to date, moderen atau muttakhir. Tidak usah pula dibaca-baca masalah malu dihadapan mereka, rasa malu untukl berbuat sesuatu yang selama ini dipandang melanggar kesopanan, dianggap mereka sebagai ciri keterbelakangan, malah ciri nifaq."

Sebaliknya berlaku dan bertindak semaunya, kapan dan dimana mereka senang, dianggap sebagai kejujuran (honesty) sebagai ciri kehidupan dan kemajuan yang terpuji dizaman moderen sekarang ini. Satu-satunya nilai hidup yang dituju dan dipuja di dunia ini ialah kesenangan jasmaniah atau materi (comfort).

Ke arah inilah seluruh angan-angan, tenaga dan kepeduliannya ditujukan, tidak ada lagi nilai-nilai selain daripada itu, jiwanya kosong dari segala sesuatu yang berupa idealisme yang untuk itu seseorang rela menderita dan berkorban untuk mencapainya. Berbahagialah mereka yang tidak ikut larut dan terombang ambing oleh suasana yang meruntuhkan moralitas bangsa.

Rasulullah Saw. menyatakan MAN TAMASSAKA BISUNNATIY ‘INDA FASADI UMMATIY, FALAHU AJRU MI’ATA SYAHIDIN Artinya: ”Barang siapa tetap berpegang kepada sunnahku ,ditengah-tengah hancurnya akhlaq ummatku, maka baginya pahala seratus orang mati syahid”. Semoga generasi muda kita terhindar dari penyakit HUBBUD DUNYA WAKAROHIYTUL MAUT- Terlalu cinta dunia.

Jadi tetaplah dalam pendirian: haram tetap haram, apapun risikonya wajib kita hindari. (*)

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Youtube Sriwijayapost di bawah ini:

Dan jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

ilustrasi
Update 27 Januari 2021. (https://covid19.go.id/p/berita/)
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved