Buya Menjawab
Bagaimana Sikap Kita dalam Menghadapi Dilema sebagai Karyawan?
Dalam menjalankan tugas sebagai 'karyawan' kadang menghadapi dilema. Jika diikuti haram, tidak diikuti kita tersisih bahkan dimarjinalkan.
BUYA, dalam menjalankan tugas sebagai 'karyawan' kadang menghadapi dilema. Jika diikuti kita tahu bahwa itu haram, tetapi jika tidak diikuti kita tersisih bahkan dimarjinalkan. Bagaimana sikap kita, Buya? Mohon bimbingan. Terimakasih.
0812780xxxx
Jawab:
ANANDA sebagai seorang muslim, diperlukan sikap istiqomah, jika sudah mengetahui sesuatu itu haram, maka bagaimanapun harus kita hindari apapun risikonya. Perhatikan ayat Al Quran surah Al-Kahpi ayat 28 berikut.
Baca juga: Buya Menjawab: Boleh Sholat Jumat dan Corona Berakhir saat Bintang Tsurayya Terbit Pekan Kedua Juni
Dalam Al-Quran Surah Al Kahfi Allah berfirman, "Dan bersabarlah Kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaaNYA;dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini;dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami,serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampawi batas". (ALKAHFI 28)
Berikut penjelasan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Haritsah bin Wahbi R.a berkata(yang artinya): "Aku mendengar Rasulullah SAW.bersabda;Maukah kamu aku tunjukkan siapa ahli surga itu? Setiap orang yang lemah dan diremehkan,tetapi kalau ia berbuat baik kepada Allah niscaya Allah menganggapnya baik. Maukah kamu aku tunjukkan siapa penghuni neraka itu? Setiap orang yang kasar, keras dan sombong". (Riadlusshalihin Vol.I, hal. 244).
Rasulullah SAW. memberikan penjelasan bahwa penghuni surga itu adalah orang yang lemah dan diremehkan (oleh manusia), padahal apabila ia berbuat baik kepada Allah SWT niscaya Allah menganggapnya baik,bahkan apresiasi Allah sangat tinggi dengan keikhlasannya. Apabila dihubungkan dengan surah ALKAHFI ayat 28 di atas; Pemuda gua yang hidup dimasa raja Dekyanus yang sewenang-wenang dan minta di akui sebagai Tuhan, namun pemuda gua tetap pada pendirian mereka bertuhankan ALLAH SWT., lalu tersingkir dan dimarjinalkan, diremehkan dinilai lemah oleh penguasa ketika itu, justru disisi Allah mereka mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi.Mereka istiqomah,tidak mau mengikuti jejak orang-orang yang hatinya sudah dilalaikan Allah dari mengingat NYA.
Selanjutnya Rasulullah memberikan penjelasan tentang penghuni neraka adalah mereka yang kasar,keras dan sombong. Kenapa mereka kasar, keras dan sombong? Ternyata ada mekanisme yang menggiring mereka berhati keras;
"Jumudnya hati (hati yang tidak mudah tersentuh melihat kesusahan orang lain) disebabkan oleh kerasnya hati, hati yang keras disebabkan oleh banyaknya dosa,banyaknya dosa disebabkan oleh terlalu panjang angan-angan,panjang angan-angan disebabkan oleh terlalu mencintai dunia,terlalu mencinta dunia sebab dari segala kesalahan (dosa)."
Rasulullah Saw. pernah menyatakan, pada mulanya Islam itu dianggap orang sebagai barang asing (aneh dan ganjil). Dalam keadaan semacam itu, berbahagialah mereka yang rela dianggap orang sebagai orang asing, tidak mau turut-turutan terbawa arus umum, malah berjuang memperbaiki apa-apa yang sudah dirusak orang sesudahku.
"Selanjutnya dalam suasana santai Rasulullah Saw.menyampaikan peringatan yang serius; “Akan datang suatu masa dimana ummat-ummat lain akan berdatangan memperebutkan kamu, hampir-hampir ibarat segerombolan orang rakus, berkerumun berebut-rebutan disekitar hidangan makanan mereka.
Mendengar itu para sahabat terheran-heran kenapa sampai demikian nasib generasi ummat Islam sesudah mereka nantinya, mereka bertanya: ”Apakah lantaran di waktu itu kita berjumlah kecil Ya Rasul? Dijawab oleh Rasulullah Saw.: Bukan!, jumlahmu besar, akan tetapi kualitasmu adalah seperti buih yang terapung-apung di atas air bah.
Demikian pernyataan Rasulullah Saw. ”Ibarat buih terapung di atas air. Bisa dibawa hanyut, bisa terdampar dan didamparkan ke pinggir. Tidak mempunyai daya gerak, kalaupun bergerak, hanya lamban menumpang kepada gerak angin atau arus, terserah kearah mana saja hendak dibawanya.
Sahabat bertanya: “Kenapa jadi begitu ya Rasulallah? Rasulullah menyambung keterangannya. Lantaran sudah dicabut rasa takut dari hati lawan-lawanmu. Dalam pada itu telah tertanam kelemahan jiwa dalam hatimu sendiri. Bertanya pula para sahabat; Kelemahan jiwa seperti apa yang dimaksud itu?
Dijawab oleh Rasulullah saw.: ”HUBBUN DUNYA WAKAROHIYATUL MAUT, Rakus dunia dan takut mati. Maksudnya: Kepingin yang berlebih-lebihan kepada dunia dan takut yang berlebihan kepada mati, candu kesenangan dan takut risiko. Bagi orang yang dihinggapi penyakit ini, seluruh pikirannya dan keinginannya ditujukan untuk menikmati kesenangan dunia semata-mata. Candu kesenangan yang tidak mengenal batas dan mengenal puas.
Ibarat orang yang minum air laut semakin diminum, bertambah haus. Tak ada baginya perbedaan antara kesenangan yang pantas dan bersih dengan kesenangan yang tidak wajar dan merusak. Jangan dicoba menyebut istilah halal dan haram, pemisahan seperti itu dianggap sebagai tradisi kuno, sudah tidak up to date, tidak laku lagi di abad ini, lantaran itu pula diganti dengan norma-norma bikinan sendiri yang menurut seleranya lebih up to date, moderen atau muttakhir. Tidak usah pula dibaca-baca masalah malu dihadapan mereka, rasa malu untukl berbuat sesuatu yang selama ini dipandang melanggar kesopanan, dianggap mereka sebagai ciri keterbelakangan, malah ciri nifaq."
Sebaliknya berlaku dan bertindak semaunya, kapan dan dimana mereka senang, dianggap sebagai kejujuran (honesty) sebagai ciri kehidupan dan kemajuan yang terpuji dizaman moderen sekarang ini. Satu-satunya nilai hidup yang dituju dan dipuja di dunia ini ialah kesenangan jasmaniah atau materi (comfort).