Breaking News:

Ingat, Usai Divaksin Tetap Tetapkan Prokes, Kemungkinan Masih Bisa Tertular

Efikasinya 65,3 persen menunjukkan bahwa orang yang disuntik vaksin akan masih terkena Covid-19 kemungkinannya 34,7 persen.

Dok Pribadi
Ahli Mikrobiologi Sumsel, Prof Yuwono. 

PALEMBANG, SRIPO -- Hasil uji klinis vaksin Sinovac akhirnya diberikan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) kepada PT Bio Farma sebagai pengusung vaksin ini di Indonesia.

Vaksin Sinovac dinyatakan memiliki efikasi 65,3 persen, dari segi keamanan dinyatakan aman. Sementara efek samping ada dilaporkan, tetapi ringan dan bersifat reversible.

Namun masih banyak masyarakat yang belum paham mengenai apa itu efikasi, cara penghitungannya, dan mengapa adanya perbedaan efikasi antara Indonesia, Turki dan Brazil yang sama-sama menggunakan vaksin Sinovac.

Baca juga: Besok Vaksinasi Covid-19 di Sumsel Dimulai, Gandus yang Pertama

Menurut ahli mikrobiologi Sumsel sekaligus Direktur RS Pusri, Prof DR dr Yuwono M Biomed mengatakan, arti dari efikasi adalah kemanjuran, penghitungannya dengan membandingkan berapa persen orang yang disuntik vaksin dengan orang yang tidak disuntik vaksin, berapa orang yang terinfeksi.

Vaksin Sinovac dengan efikasi atau kemanjuran 65,3 persen dalam uji klinis berarti terjadi penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi, dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi (atau plasebo).

"Efikasinya 65,3 persen menunjukkan bahwa orang yang disuntik vaksin akan masih terkena Covid-19 kemungkinannya 34,7 persen. sama seperti di Brazil 78 persen kemungkinan orang yang sudah disuntik Sinovac disana 22 persen masih bisa terinfeksi, begitu juga dengan Turki," ujarnya, Selasa (12/1).

Baca juga: Vaksinasi Perdana di Palembang Sesuai Jadwal, Gubernur Orang Pertama

Menurutnya, dengan efikasi tersebut masih besar kemungkinan orang-orang Indonesia terkena Covid-19. Oleh karena itu tetap 3T dan 3M harus dilakukan selama masa vaksinasi berlangsung. "Vaksin saja tidak cukup, jangan mengandalkan vaksin saja, Tapi 3T dan 3M jalan, serta tetap menjaga imunitas," ujarnya.

Selain itu, ada tiga faktor yang menyebabkan adanya perbedaan efikasi antara Indonesia, Turki dan Brazil. Pertama, latar belakang ras atau suku secara genetik yang berbeda dan seperti yang diketahui, contohnya di Amerika bisa ada ratusan ribu orang meninggal karena flu biasa setiap tahun, sedangkan di Indonesia, flu, batuk atau pilek biasa saja. "Jadi mereka lebih rentan dibandingkan kita di Indonesia," ujarnya.

Kedua, pengaruh desain penelitian, yaitu di Brazil dan Turki yang mengikuti uji klinis fase 3 ini lebih dari 10 ribu orang, tapi di Indonesia hanya ada 1.600 orang, dan sampai saat ini belum tuntas, hingga keluarnya izin EUA tersebut.

Baca juga: Vaksinasi Urgent, Jika tak Mau Divaksin Harus Beri Alasan

"Hal ini sesuai dengan aturan WHO, 3 bulan pertama hasil boleh dikeluarkannya EUA, nanti setelah 6 bulan data keseluruhan baru selesai," ujarnya.

Ketiga, kemungkinan vaksin Sinovac yang dibuat di Indonesia dengan Brazil dan Turki berbeda variannya, sehingga menyebabkan efikasi di Indonesi berbeda-beda.

Sedangkan yang menyebutkan bahwa efikasi disebabkan subyek di Indonesia banyak masyarakat umum, sedangkan di luar negeri subyek mayoritasnya tenaga kesehatan bisa saja mempengaruhi, tapi mengenai ini dasarnya tidak kuat.

"Tapi tidak apa, asal efikasi diatas 50 persen masih baik, tinggal kita berhitung tentang risiko terinfeksinya," ujarnya. (cr39)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved