Membaca Narasi Teater di Sumatera

Pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, saat ini merupakan satu bukti bagaimana manusia gagal mengelola dirinya hidup harmonis dengan alam

Editor: aminuddin
Membaca Narasi Teater di Sumatera - taufik1jpg.jpg
dok.pribadi
Galang-Galang Padang oleh Komunitas Senin Nan Tumpah
Membaca Narasi Teater di Sumatera - matajpg.jpg
dok.pribadi
Antropogenik menarasikan persoalan perubahan iklim global.

Bagi sejumlah kelompok teater, hal ini merupakan persoalan penting di Indonesia.

Tepatkah narasi itu yang dipilih kelompok teater di Indonesia?

Mungkin ya.

Tapi mungkin narasi identitas manusia urban tersebut sudah saatnya ditinggalkan.

Sebab ada hal yang jauh lebih mencemaskan pada saat ini, yakni ancaman musnahnya umat manusia.

Baca juga: Teater Potlot Tampilkan Antropogenik pada Temu Teater se-Sumatera di Taman Budaya Jambi

Ancaman musnahnya umat manusia dikarenakan berbagai persoalan lingkungan hidup.

Perubahan iklim global, mendorong manusia menuju krisis pangan, krisis air bersih, terserangnya berbagai penyakit mematikan, serta ancaman perang global memperebutkan sumber daya alam.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, pada saat ini merupakan satu bukti bagaimana manusia gagal mengelola dirinya hidup harmonis dengan alam.

Kebebasan berekspresi atas tubuh pun gagal menghadang serangan Covid-19.

Banyak kaum urban yang sukses mencapai kebebasan atas tubuhnya pun tumbang.

Baca juga: Komunitas Seni Budaya Sumsel Ramaikan Festival Rentak Batanghari 2020 di Gedung Teater Jakabaring

Peperangan Identitas Global

Selama sepekan [22-29 November 2020], saya bersama Teater Potlot mengikuti dua pertemuan kelompok teater se-Sumatera, yakni di Taman Budaya Jambi dan Taman Budaya Sumatera Barat.

Sangat mengejutkan.

Tidak banyak kelompok teater di Sumatera yang mencemaskan ancaman pandemi Covid-19, termasuk pula berbagai persoalan lingkungan yang secara nyata mengancam masa depan manusia di Sumatera.

Persoalan kebebasan [eksistensialisme], cinta, politik, identitas, masih mendominasi narasi yang ditampilkan belasan kelompok teater.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved