Membaca Narasi Teater di Sumatera

Pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, saat ini merupakan satu bukti bagaimana manusia gagal mengelola dirinya hidup harmonis dengan alam

Editor: aminuddin
Membaca Narasi Teater di Sumatera - taufik1jpg.jpg
dok.pribadi
Galang-Galang Padang oleh Komunitas Senin Nan Tumpah
Membaca Narasi Teater di Sumatera - matajpg.jpg
dok.pribadi
Antropogenik menarasikan persoalan perubahan iklim global.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Selama rejim Orde Baru, teater merupakan rumah diskusi dan ekspresi bagi mereka yang mendukung demokrasi.

Menolak hegemoni.

Menolak kekerasan.

Berbagai kelompok teater di Indonesia pun menyuarakan kebebasan.

Narasi disentralisasi dan antihegemoni bukan hanya ditujukan kepada realitas di luar teater, juga di dalam teater.

Peranan sutradara dan naskah yang dinilai “menindas” pun diperlemah.

Ditolak.

Bahkan dibunuh alias ditiadakan.

Dampaknya lahir berbagai bahasa ucap yang mengejutkan lahir dari berbagai kelompok teater.

Mulai dari rupa, bunyi, gerak hingga ruang.

Tubuh yang sebelumnya ditindas bahasa verbal berubah menjadi rahim bahasa verbal yang baru.

Panggung teater yang sebelumnya dikuasai gedung pertunjukan, bergerak atau berpindah ke ruang-ruang privasi atau publik.

Halaman kantor, trotoar jalan, pasar, bahkan kamar mandi umum, menjadi ruang pertunjukan teater.

Pemikiran postmodernisme menjadi sangat popular pada saat itu.

Teater di Indonesia berusaha mendekontruksi semua hal yang mapan atau terpusat yang menghancurkan demokrasi dan kebebasan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved