Membaca Narasi Teater di Sumatera
Pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, saat ini merupakan satu bukti bagaimana manusia gagal mengelola dirinya hidup harmonis dengan alam
Kondisi ini membuat kelompok teater akrab dengan para penggerak prodemokrasi.
Mulai dari akademisi, intelektual, mahasiswa, hingga aktifis demokrasi.
Baca juga: Teater Potlot Selalu Bersikap Terbuka dan Melibatkan Para Ahli dalam Setiap Proyek yang Dikerjakan
Baca juga: 13 Oktober, Teater Potlot-SAU Dance Pentaskan Live Streaming Rahim Sungai Musi Via Platform Youtube
Maka, dapat dikatakan kelompok teater di Indonesia pada saat itu berperan penting dalam proses reformasi 1998.
Tidak heran, misalnya, setelah rejim Orde Baru tumbang, banyak para pekerja teater kemudian terjun ke politik atau masuk ke dalam kekuasaan baru.
Ironinya, setelah reformasi 1998, sejumlah kelompok teater di Indonesia yang sebelumnya begitu aktif bergerak, akhirnya berhenti.
Seolah peranan mereka sudah selesai.
Semua persoalan diserahkan kepada masyarakat dan kekuasaan yang baru.
***
PASCA reformasi 1998, sebenarnya tumbuh banyak kelompok teater di Indonesia.
Melalui “sekolah teater” mereka mampu melahirkan banyak aktor.
Para aktor ini kemudian sukses mempertunjukan seni teater sebagai dunia hiburan dan pendidikan.
Di sisi lain, teater pun sibuk menjelaskan identitas manusia urban.
Kebebasan tubuh manusia urban.
Manusia yang dinilai belum menemukan posisi nyamannya menghadapi berbagai perubahan atau modernitas disebabkan masih adanya nilai-nilai tradisional yang menghegemoni tubuh manusia.
Misalnya nilai-nilai yang belum dapat menerima perbedaan orientasi seks, keyakinan beragama, dan kebebasan berekspresi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/taufik1jpg.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/matajpg.jpg)