Sebuah Jalan Menuju Takdir Allah SWT

Belajar dari kisah Nabi Yusuf as. dalam Al Qur’an, paling tidak terdapat lima ta­hapan sunnatullah yang dilalui menuju takdirnya

Editor: Salman Rasyidin
ist
John Supriyanto 

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “Tuhan telah mencipta takdir bagi semua Apa yang makhlukNya limapuluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi”.

Artinya, jauh sebelum manusia hidup bahkan sebelum diciptakan, Tuhan telah menetapkan takdirnya masing-masing. akan terjadi, ditemui dan dialami serta bagaimana prosesnya berlangsung telah ditetapkan dan diatur secara rapi dan detail dalam catatan takdir Tuhan.

Tapi perso­alan­nya, manusia tidak ada yang tahu bagaimana dan seperti apa takdirnya, sehingga terkadang mengklaim bahwa setiap capaian adalah hasil dari upayanya.

Seperti halnya Qarun yang jemawa karena berasumsi bahwa kekayaannya adalah sebuah prestasi dan karena kecerdasan yang ia miliki.

Dalam hal ini Tuhan memang tidak menuntut manusia untuk mengetahui rahasia di balik takdir dan ending dari sebuah proses.

Manusia hanya diminta untuk mengimaninya dengan benar.

Sebab hanya dengan iman yang benar itulah manusia dapat ridha terhadap takdirnya.

Bila terhadap nikmat manusia dituntut sabar dan atas musibah diminta bersabar, maka terhadap takdir manusia dituntun Tuhan untuk bersikap ridha.

Ridha adalah komitmen primordial asasi seorang beriman. Ketika seseorang berucap “radhitu billahi rabba”, maka keridhaan terhadap Allah SWT membawa konsekuensi ridha terhadap takdir dan segala apa yang telah ditetapkan bagi hambaNya.

Selain itu, keridhaan terhadap takdir juga membangun mental berbaik sangka (husn az-zhann) terhadap segala rencana-rencana Allah SWT. 

Bisa jadi mu­sibah dan bencana adalah suatu hal yang sangat menyakitkan dan itu sangat ma­nusiawi.

Namun, rasa sakit yang luar biasa itu tiba-tiba lenyap dan mus­nah ketika mengetahui adanya hikmah terindah yang terjadi setelahnya.

Ka­rena itulah dalam bahasa para sufis “senyuman terindah dari seorang hamba a­dalah senyum keridhaan yang terpancar dari hati yang sedang berduka”.

Segala hal yang mungkin dibenci kehadirannya oleh manusia seperti rasa takut, kelaparan, kekurangan dan kehilangan (Qs. al-Baqarah : 155), bahkan se­gala macam bentuk penyakit, wabah, musibah, bencana dan lain-lain ada­lah utusan Allah Swt. untuk membentuk sebuah kondisi.

Begitu pula semua hal menyenangkan dan menggembirakan yang mungkin diharapkan keha­dir­an­nya juga diciptakan untuk membentuk sebuah kondisi.

Masing-masing kon­disi menjalankan perannya dalam mengiringi, melingkupi dan mewarnai perjalanan panjang hidup manusia hingga akhirnya.

Bagaimana Yusuf dengan begitu mudah memaafkan saudara-saudaranya yang telah berbuat zhalim sebelumnya.

Bahkan ia melebihkan takaran tim­bang­an dan sempat diam-diam mengembalikan uang dengan cara dima­suk­kan dalam karung-karung gandum yang mereka.

Tidak ada kebencian dan den­dam sedikitpun yang terpancar dari wajah menawannya.

Tidak hanya itu, Yu­suf juga dengan ringannya memaafkan sang ratu dan wanita-wanita istana yang menggoda dan memfitnahnya.

Mengapa demikian?

Sebab semua ma­khluk yang terlibat dalam proses sejarah hidup seseorang hanyalah men­ja­lankan peran sunnatullah untuk mengantar pada sebuah takdir.

Kemarahan, kebencian dan dendam adalah bentuk lain dari pengingkaran terhadap ren­cana-rencana terbaik Allah Swt. 

Pelajarannya adalah jangan pernah berburuk sangka pada sebuah proses, sebab yang mengetahui ending dari sebuah kisah hanyalah yang empunya cerita.Wallahu a’lam !

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved