Sebuah Jalan Menuju Takdir Allah SWT

Belajar dari kisah Nabi Yusuf as. dalam Al Qur’an, paling tidak terdapat lima ta­hapan sunnatullah yang dilalui menuju takdirnya

Editor: Salman Rasyidin
ist
John Supriyanto 

Oleh : John Supriyanto

Penulis adalah dosen Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Raden Fatah dan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an Al-Lathifiyyah Palembang

Belajar dari kisah Nabi Yusuf as. dalam Al Qur’an, paling tidak terdapat lima ta­hapan sunnatullah yang dilalui untuk menuju takdirnya sebagai seorang nabi se­kaligus pembesar di Negeri Mesir.

 Tahapan pertama, Tuhan men­ja­di­kan ra­sa cemburu dalam hati saudara-saudara Yusuf yang kemudian berakhir de­ngan di­buangnya Yusuf ke dalam sumur.

Tahapan kedua, Yusuf dite­mu­kan oleh se­se­orang yang tidak begitu tertarik padanya, sehingga segera ia men­jualnya de­ngan harga murah dan ternyata pembelinya adalah seorang ra­ja.

Tahapan ke­ti­ga, Yusuf tumbuh sebagai seorang pemuda sempurna dengan ke­tampanan ya­ng luar biasa, sehingga mempesona bagi siapa saja yang me­mandangnya.

Ke­em­pat, diberinya Yusuf kemampuan mentakwil mimpi.

Ke­li­ma, terjadinya mu­sim subur dan musim kemarau yang masing-masing ber­langsung selama tu­juh tahun.

Al Qur’an memaparkan kisah Yusuf dengan sangat menarik dan satu-satunya ki­sah utuh yang dimuat dalam satu surat.

Hal ini berbeda dengan kisah-kisah na­­bi lain yang biasanya cenderung diungkap acak dan tidak utuh yang ter­sebar da­lam beberapa surat Al Qur’an.

Lihat bagaimana Allah SWT merekayasa banyak kondisi untuk mengantar Yu­­suf pada takdirnya. 

Andai saja tidak ada kecemburuan dalam hati saudara-sa­udara Yusuf, tentu tidak akan muncul niat untuk menyingkirkannya.

 Andai pe­nemu Yusuf tersebut tertarik hati memeliharanya, sudah pasti ia tidak akan men­jualnya, sedangkan ketetapan takdirnya diasuh dan dibesarkan dalam ling­kungan istana.

Bila saja Yusuf seorang pemuda yang biasa-biasa saja, mungkin ia tidak akan menarik hati bagi sang ratu dan wanita-wanita istana.

Meskipun namanya tetap bersih dari tuduhan perselingkuhan, ia tetap me­mi­lih dipenjara dan ternyata penjara pula yang melambungkan namanya sebagai pentakwil mimpi.

Lalu nama baik dan kemampuan itu jugalah yang ke­mu­dian menjadi pe­nyebab kebebasannya hingga diangkat menjadi pembesar is­tana.

Tidak cukup sampai di situ, ternyata musim subur dan musim kemarau panjang itu yang kemudian menyebabkan bertemunya kembali Yusuf dan orang tua berikut saudara-saudaranya.

Sebenarnya, Tuhan bisa saja menjadikan Yusuf seorang nabi dan pembesar Mesir tanpa harus melalui tahapan-tahapan sebab akibat tersebut.

Tapi me­ngapa hal itu tidak Tuhan lakukan?

Sebab Tuhan ingin menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi harus sejalan dengan sunnatullah dan hukum se­bab akibat (Qs. al-Fath : 23).

 Bahwa semuanya harus berproses, baik cepat atau­pun lambat.

 Tidak ada yang instan bahkan terhadap mukjizat sekalipun yang mungkin dianggap oleh sebagian orang bertentangan dengan sunnatullah.

Segala sesuatu terjadi tentu atas izin-Nya dan itu ‘harus’ melalui proses hukum sebab akibat dan sunnah-sunnahNya.

Usaha adalah media untuk menggapai takdir.

 Atau dalam ungkapan yang lain, takdir merupakan ending dari sebuah rangkaian tahapan usaha.

Untuk me­nuju sebuah takdir, manusia harus mengikuti alur sunnatullah yang ha­kikatnya adalah sebuah rekayasa Tuhan.

Atas kuasa dan izinNya, Tuhan bisa saja menjatuhkan satu kwintal emas pada seseorang yang mungkin akan menjadikannya mendadak kaya.

Tapi, hal itu tidak pernah terjadi meski ma­nusia ngotot berdoa sampai menangis darah.

 Sebab, ‘tidak mungkin’ Tuhan me­nentang di antara sunnah-sunnahNya.

Begitu pula bila berkaca dari banyak peristiwa dalam sejarah kehidupan Nabi SAW bagaimana sunnatullah juga meliputi perjalanan risalah beliau.

Ke­ka­lah­an umat Islam di perang Uhud misalnya.

Logika terbatas manusia bisa sa­ja mengatakan bahwa Allah SWT. tidak adil terhadap Nabi Saw. dan para sa­habat.

Bukankah mudah saja bagiNya untuk memberikan kemenangan.

Tapi se­jarah menuturkan bahwa Nabi Saw. mengalami luka-luka dan berdarah di se­kujur tubuhnya.

Ternyata, kekalahan itupun tidak terlepas dari hukum se­bab akibat.

Pertama terpecahnya kesatuan pasukan akibat provokasi kaum mu­nafiq;

kedua terlalu percaya diri karena kemenangan pada perang Badar se­tahun sebelumnya;

ketiga, ketidaktaatan sebagian pasukan atas instruksi Na­bi SAW dan ketertarikan mereka pada harta rampasan perang membuat lalai dari siasat dan tipu muslihat musuh.

Sebab-sebab tersebut sengaja Allah SWT bangun sedemikian rupa.

Karena un­tuk mengantar mereka pada takdir kekalahan harus diciptakan kondisi yang melatarinya.

Tidak mungkin sebuah kekalahan terjadi begitu saja tanpa a­danya sebab.

Ternyata dengan peristiwa kekalahan itu Allah Swt. ingin memberikan pembelajaran bahwa kemenangan atau kekalahan adalah sebuah akibat dari rangkaian-rangkaian sebab.

Hikmahnya luar biasa, setelah peristiwa Uhud, pasukan Islam menjadi lebih solid, tangguh dan dengan persiapan yang matang, sehingga tidak ada satupun peperangan yang di­ha­dapi kecuali mereka mendapatkan kemenangan.

Sebab-sebab yang sun­na­tullah itu adalah rekayasa Tuhan untuk mengantarkan mereka pada takdir ke­ka­lahan.

Di antara tujuannya adalah untuk mendewasakan umat bahwa hasil segala sesuatu adalah akibat dari serangkaian sebab-sebab.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “Tuhan telah mencipta takdir bagi semua Apa yang makhlukNya limapuluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi”.

Artinya, jauh sebelum manusia hidup bahkan sebelum diciptakan, Tuhan telah menetapkan takdirnya masing-masing. akan terjadi, ditemui dan dialami serta bagaimana prosesnya berlangsung telah ditetapkan dan diatur secara rapi dan detail dalam catatan takdir Tuhan.

Tapi perso­alan­nya, manusia tidak ada yang tahu bagaimana dan seperti apa takdirnya, sehingga terkadang mengklaim bahwa setiap capaian adalah hasil dari upayanya.

Seperti halnya Qarun yang jemawa karena berasumsi bahwa kekayaannya adalah sebuah prestasi dan karena kecerdasan yang ia miliki.

Dalam hal ini Tuhan memang tidak menuntut manusia untuk mengetahui rahasia di balik takdir dan ending dari sebuah proses.

Manusia hanya diminta untuk mengimaninya dengan benar.

Sebab hanya dengan iman yang benar itulah manusia dapat ridha terhadap takdirnya.

Bila terhadap nikmat manusia dituntut sabar dan atas musibah diminta bersabar, maka terhadap takdir manusia dituntun Tuhan untuk bersikap ridha.

Ridha adalah komitmen primordial asasi seorang beriman. Ketika seseorang berucap “radhitu billahi rabba”, maka keridhaan terhadap Allah SWT membawa konsekuensi ridha terhadap takdir dan segala apa yang telah ditetapkan bagi hambaNya.

Selain itu, keridhaan terhadap takdir juga membangun mental berbaik sangka (husn az-zhann) terhadap segala rencana-rencana Allah SWT. 

Bisa jadi mu­sibah dan bencana adalah suatu hal yang sangat menyakitkan dan itu sangat ma­nusiawi.

Namun, rasa sakit yang luar biasa itu tiba-tiba lenyap dan mus­nah ketika mengetahui adanya hikmah terindah yang terjadi setelahnya.

Ka­rena itulah dalam bahasa para sufis “senyuman terindah dari seorang hamba a­dalah senyum keridhaan yang terpancar dari hati yang sedang berduka”.

Segala hal yang mungkin dibenci kehadirannya oleh manusia seperti rasa takut, kelaparan, kekurangan dan kehilangan (Qs. al-Baqarah : 155), bahkan se­gala macam bentuk penyakit, wabah, musibah, bencana dan lain-lain ada­lah utusan Allah Swt. untuk membentuk sebuah kondisi.

Begitu pula semua hal menyenangkan dan menggembirakan yang mungkin diharapkan keha­dir­an­nya juga diciptakan untuk membentuk sebuah kondisi.

Masing-masing kon­disi menjalankan perannya dalam mengiringi, melingkupi dan mewarnai perjalanan panjang hidup manusia hingga akhirnya.

Bagaimana Yusuf dengan begitu mudah memaafkan saudara-saudaranya yang telah berbuat zhalim sebelumnya.

Bahkan ia melebihkan takaran tim­bang­an dan sempat diam-diam mengembalikan uang dengan cara dima­suk­kan dalam karung-karung gandum yang mereka.

Tidak ada kebencian dan den­dam sedikitpun yang terpancar dari wajah menawannya.

Tidak hanya itu, Yu­suf juga dengan ringannya memaafkan sang ratu dan wanita-wanita istana yang menggoda dan memfitnahnya.

Mengapa demikian?

Sebab semua ma­khluk yang terlibat dalam proses sejarah hidup seseorang hanyalah men­ja­lankan peran sunnatullah untuk mengantar pada sebuah takdir.

Kemarahan, kebencian dan dendam adalah bentuk lain dari pengingkaran terhadap ren­cana-rencana terbaik Allah Swt. 

Pelajarannya adalah jangan pernah berburuk sangka pada sebuah proses, sebab yang mengetahui ending dari sebuah kisah hanyalah yang empunya cerita.Wallahu a’lam !

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved