Tiga Mutiara Kehidupan
Tiga Mutiara Kehidupan Hamba Allah
Menurut Ali bin Abi Tholib, sahabat dan sekaligus menantu Rasulullah SAW, ada tiga mutiara yang harus kita miliki dalam meniti kehidupan ini.
”Katakanlah, taatlah kepada Allah SWT dan taatlah kepada Rasul, dan jika kamui berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapatkan petunjuk, dan tidak lain kewajiban Rasul itu menyampaikan amanat Allah dengan terang”.
Bila di dunia sudah memperoleh petunjuk Allah SWT yang membuatnya semakin sibuk dalam ketaatan, maka pahala yang besar akan diperoleh nya dan Allah menjamin tidak akan dikurangi sedikitpun.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Hujurat 14: ”dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Muriara kehidupan ketiga yang perlu kita miliki oleh setiap kaum muslimin yaitu, hendaklah menjadikan peristiwa kematian sebagai pelajaran.
Mati merupakan suatu kepastian yang akan dialami oleh setiap orang, bahkan kepada setiap yang bernyawa.
Namun demikian tidak sedikit manusia yang lupa bahwa dia akan mati sehingga didalam Islam dikenal adanya perintah untuk dzikrul maut atau mengingat kematian.
Diharapkan dengan selalu mengingat mati, seseorang akan berisap-siap, karena mati tidak diperkirakan oleh siapapun juga selain Allah SWT.
Oleh sebab itu ajaran Islam menggariskan kepada pengikutnya agar dapat mempergunakan waktu selagi hidup dengan sebaik-baiknya.
Dimasa selagi hidup inilah kesempatan kita meraup pahala sebagai bekal kelak setelah kita mati.
Tentunya semua orang berharap termasuk kita agar menjadi orang yang beruntung di akhirat kelak untuk ditempatkan Allah di dalam surga yang penuh dengan segala kenikmatan.
Agar dapat dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan segala kenikmatan itu kita diwajibkan untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya sejak dini dari dunia ini.
Jadi sudah sewajarnya manakala kita mempergunakan kesempatan yang ada ini sebelum hilang kesempatan itu untuk mengingat Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Akan bijaksana, terpuji dan bermanfaat apabila kita selalu berkesempatan mawas diri, sekedar merenungi perjalanan hidup.
Mawas diri dalam arti menghitung–hitung sudah berapa banyak pahala yang kita peroleh dan berapa besar pula dosa yang sudah kita perbuat.
Kita himpun semua perbuatan yang baik yang telah kita kerjakan, kemudan kita rekap pula perbuatan yang menyimpang dari ajaran Allah SW.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/daudr_20181102_131709.jpg)