Liputan Eksklusif
Pelajar di Pelosok Bersusah Payah Ikut Belajar Daring, Panjat Duku Cari Sinyal
Diceritakan Dewi, setelah berhasil pinjam ke Koperasi, ia pun membelikan anaknya ponsel android bekas, seharga Rp 250 ribu.
PALEMBANG, SRIPO -- Pandemi corona alias covid-19 yang melanda dunia saat ini benar-benar mengubah tatanan kehidupan masyarakat, tak terkecuali di Provinsi Sumsel.
Selain harus mematuhi protokol kesehatan, seperti selalu pakai masker saat ke luar rumah, cuci tangan, dan menghindari kerumunan, berbagai kegiatan pun harus berevolusi.
Salah satu yang harus berubah tatanan adalah sektor pendidikan. Karena paparan virus mematikan itu belum ada tanda-tanda berakhir, sementara vaksin antivirus tersebut belum juga ditemukan, maka sistem pendidikan di Indonesia menggunakan Pembalajaran Jarak Jauh (PJJ).
Sistem ini mengharuskan kita menggunakan jaringan internet, sehingga siswa dan guru belajar mengajar secara online.
• Siswa yang Tinggal di Desa Pelosok Sumsel Terpaksa Menginap di Perbukitan, Susahnya Belajar Daring
Bagi siswa yang tinggal di perkotaan, mungkin sistem tersebut relatif tak ada kendala. Apalagi bagi siswa dari keluarga mampu, yang segala faslitas belajar elektronik pun ada di rumah. Begitu pula guru yang ada di sekolah, menggunakan fasilitas sekolah. Namun tentu tidak demikian dengan siswa yang tinggal di pelosok desa. Terbatasnya kepemilikan gawai/gadget, komputer/laptop dan akses internet, menjadi masalah utama pembelajaran sistem online.
Kondisi ini memicu ketimpangan akses media pembelajaran, sehingga semakin dalam jurang antara anak-anak dari keluarga ekonomi mampu dan kurang mampu. Antara anak-anak yang tinggal di perkotaan dan pedalaman pelosok pedesaan.
Kondisi inilah yang dirasakan Dafa, Primadaya (11), murid kelas V Sekolah Dasar Negeri 97 Desa Singapura Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatera Selatan. Dia mewakili potret kelam murid di pelosok saat mengikuti PJJ. Terhitung sejak bulan April 2020, pemerintah menegeluarkan kebijakan “belajar dari rumah” dengan sistim daring (dalam jaringan). Sistem itu pun berlanjut setelah tahun ajaran baru, Juli 2020 ini.
• Perjuangan Pelajar di Pelosok Belajar Sistem Daring, Daki Bukit Cari Sinyal
Hidup di pedalaman yang terisolir, yang pertama terbayang dibenak kita adalah beratnya tantangan, tidak tersedianya infrasetruktur yang memadai, tidak ada listrik , jalan yang hancur komunikasi dengan dunia luar yang terputus.
Pengalaman ini tergambar jelas saat awak Sripo sengaja mengunjungi salah seorang murid SD yang tinggal di pelosok pedesaan, tapatnya di Talang Piyabung, masuk dalam administrasi Desa Asamkelat, atau nama sekarang Desa Singapura Kecamatan Semidangaji Kabupaten Ogan Komering ulu.
Lokasinya cukup jauh dari jalan raya, dibutuhkan waktu satu jam bila ditempuh dengan sepeda motor atau sekitar 5 KM dari perkampungan penduduk . Apabila berjalan kaki bisa memakan waktu sampai 3 jam.
• Punya Satu Handphone, 4 Kakak Beradik di Palembang Bergantian hingga Rebutan Demi Bisa Belajar
Untuk sampai di talang ini diperlukan persiapan fisik dan mental yang tangguh. Sepanjang perjalanan kami melewati jalan setapak yang berlumpur, rusak, serta sulit dilewati. Akses jalan yang tidak biasa untuk warga kota tentunya, dan menghabiskan waktu 1 jam perjalanan melewati jalan rusak tersebut menggunakan kendaraan roda dua.
Motor yang mengantarkan kami ke lokasi adalah jenis Honda Win tahun 2006 , dengan motor tua terbayang bagaimana rasanya saat menempuh medan yang berat.
Sebelum sampai ke pondok Dafa , sepeda motor yang saya tumpangi harus menyeberangi jembatan darurat untuk melewati anak Sungai. Itu semua demi untuk melihat dari dekat bagaimana perjuangan bocah kelas V Sekolah Dasar bernama Dafa Primadaya (11) yang berjuang keras untuk mendapatkan sinyal selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) di musim pandemi covid-19.
• Video: Anak Seorang Nelayan yang Tak Punya Handphone, Datang ke Sekolah, Belajar Sendirian di Kelas
Orangtua Dafa sehari-harinya bekerja sebagai penyadap karet, dipondok yang berukuran 5 X 4 M di tempati 4 anggota keluarga. Di saat anak-anak belajar dari rumah ini mereka memang lebih banyak menghabiskan waktu di kebun.
Namun kendala yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan sinyal untuk menerima tugas-tugas sekolah. Menurut Endnag (50), untuk mendapatkan sinyal memang bukan perkara gampang.
“Terkadang harus berjuang berburu sinyal sampai ke atas pohon” kata ibu dua anak ini.
Sebagai anak yang hidup dan tumbuh dialam yang keras bagi Dafa tentu memanjat pohon bukan masalah, bocah kelas V SD ini sudah terbiasa memanjat pohon.
Pengalaman ini juga yang sering dilakukan Dafa, sebab apabila hanya beridiam diri di pondok, maka tugas-tugas yang dikirim via WA tidak akan pernah sampai. Itulah sebabnya selama belajar Daring ini setiap hari Dafa rutin berburu sinyal sampai keatas pohon.
“Aku naik pucuk pohon duku, baru dapat sinyal,” kata Dafa.
• Video : Utamakan Kesehatan Siswa, SMPN 41 Palembang Belajar Melalui Daring Prakarya dari Serat
Selain harus memanjat pohon untuk mencari sinyal, apabila batre habis Dafa diantar oleh ayahnya Ismail untuk mencari tempat numpang ngecas karena pondok mereka belum ada jaringan listrik. Terkadang batre bisa dicarger dengan menggunakan acu bekas.
Gubernur Sumsel Herman Deru, mengatakan, pihaknya akan segera melakukan pengecekan ke daerah yang sulit mendapatkan akses internet.
"Saya lihat tingkatan dulu karena di dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), meski saya belum membaca langsung, itu ada bantuan kuota untuk siswa sekolah daring. Itu soal kuota internet," katanya, Selasa (28/7/2020).
Sementara itu, menurut Deru, untuk mengatasi persoalan jaringan internet Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel telah bermitra dengan PT Indonesia Connet Plus atau ICON+, anak perusahaan PT PLN (Persero), untuk merealisasikan program internet masuk desa di provinsi itu sejak Juni 2019 lalu.
"Kita sekarang sudah bermitra (MoU) dengan Icon Plus. Selama ada kabel listrik itu bisa ada internetnya. Nanti saya minta laporan saja di mana desanya yang belum ada internet itu." ujarnya
Cari Utangan
Cerita Dewi Sartika (31), ibu dari Redi Rahyudi (13) pelajar salah satu SMP di Kabupaten Empat Lawang, harus berhutang ke koperasi untuk membeli ponsel Android agar anaknya bisa mengikuti belajar secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Dewi, ibu rumah tangga di Dusun 1V di Desa Mekar Jaya kecamatan Tebing Tinggi, mengaku sudah tiga hari pinjam uang ke Koperasi keliling sebesar Rp 250 ribu untuk membelikan anaknya Hp android, agar bisa mengikuti sekolah pembelajaran jarak jauh yang saat ini diterapkan sekolah imbas pandemi Covid-19
Dengan pinjaman sebesar Rp 250 ribu itu, angsuran yang harus ia dan suaminya bayar sebesar Rp 12.500 setiap harinya selama 24 hari. Walaupun tidak terlalu besar, jumlah pinjamannya itu menurutnya terasa berat di tengah kondisi yang serba sulit saat ini. Karena sehari-hari suaminya Rohmansyah (35), yang bekerja sebagai buruh tani getah karet, menghidupi keluarganya tiga orang anak.
Biasanya hasil sadap getah dalam tiga hari hasil sebanyak 27 Kg, dijual dengan harga di Tebing Tinggi saat ini Rp 3.500 per kg. Diceritakan Dewi, setelah berhasil pinjam ke Koperasi, ia pun membelikan anaknya ponsel android bekas, seharga Rp 250 ribu, harga itu sebesar pinjamannya di Koperasi keliling.
"Belinya seharga Rp 250 ribu, android bekas (second)," kata Dewi.
Sayangnya, android yang dibeli tersebut ternyata rusak bagian LCD nya. "Baru dibeli berapo hari hari, handpone ternyata rusak, di layarnya tidak menampilkan gambar, hanya putih saja, " terang Dewi kepada Sripoku.com, Senin (27/7).
Saat ini android yang baru ia beli harus diperbaiki di counter handphone, biaya perbaikan LCD itu seharga Rp 200 ribu, agar memiliki ponsel android itu kembali, ia harus membayar Rp 200 ribu mengganti perbaikan layar yang rusak.
Sementara anaknya Redi dibincangi mengatakan sebelumnya ia mengikuti belajar tatap muka, sistemnya seminggu pertemuan masuk sekolah dan seminggu belajar secara daring di rumah.
Setelah baru dua hari memiliki android ia mengaku awalnya cukup senang karena bisa terbantu mengetahui tugas dari guru, cuma sekarang rusak lagi. Untuk mengetahui tugas ia akan bertanya tugas ke sekolah atau ke teman sekelas.
Redi bercita-cita sebagai Tentara ini berharap agar kondisi berangsur normal, sekolah kembali seperti semula kembali. " Harapan kami agar sekolah lagi seperti dulu, karena sekolah sekarang tidak asyik," ungkapnya. (eni/cr27/mg3)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/panjat-duku-cari-sinyal.jpg)