Liputan Eksklusif

Pelajar di Pelosok Bersusah Payah Ikut Belajar Daring, Panjat Duku Cari Sinyal

Diceritakan Dewi, setelah berhasil pinjam ke Koperasi, ia pun membelikan anaknya ponsel android bekas, seharga Rp 250 ribu.

Editor: Soegeng Haryadi
DOK. SRIPO
Panjat Duku Cari Sinyal 

“Terkadang harus berjuang berburu sinyal sampai ke atas pohon” kata ibu dua anak ini.

Sebagai anak yang hidup dan tumbuh dialam yang keras bagi Dafa tentu memanjat pohon bukan masalah, bocah kelas V SD ini sudah terbiasa memanjat pohon.

Pengalaman ini juga yang sering dilakukan Dafa, sebab apabila hanya beridiam diri di pondok, maka tugas-tugas yang dikirim via WA tidak akan pernah sampai. Itulah sebabnya selama belajar Daring ini setiap hari Dafa rutin berburu sinyal sampai keatas pohon.

“Aku naik pucuk pohon duku, baru dapat sinyal,” kata Dafa.

Video : Utamakan Kesehatan Siswa, SMPN 41 Palembang Belajar Melalui Daring Prakarya dari Serat

Selain harus memanjat pohon untuk mencari sinyal, apabila batre habis Dafa diantar oleh ayahnya Ismail untuk mencari tempat numpang ngecas karena pondok mereka belum ada jaringan listrik. Terkadang batre bisa dicarger dengan menggunakan acu bekas.

Gubernur Sumsel Herman Deru, mengatakan, pihaknya akan segera melakukan pengecekan ke daerah yang sulit mendapatkan akses internet.

"Saya lihat tingkatan dulu karena di dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), meski saya belum membaca langsung, itu ada bantuan kuota untuk siswa sekolah daring. Itu soal kuota internet," katanya, Selasa (28/7/2020).

Sementara itu, menurut Deru, untuk mengatasi persoalan jaringan internet Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel telah bermitra dengan PT Indonesia Connet Plus atau ICON+, anak perusahaan PT PLN (Persero), untuk merealisasikan program internet masuk desa di provinsi itu sejak Juni 2019 lalu.

"Kita sekarang sudah bermitra (MoU) dengan Icon Plus. Selama ada kabel listrik itu bisa ada internetnya. Nanti saya minta laporan saja di mana desanya yang belum ada internet itu." ujarnya

Cari Utangan
Cerita Dewi Sartika (31), ibu dari Redi Rahyudi (13) pelajar salah satu SMP di Kabupaten Empat Lawang, harus berhutang ke koperasi untuk membeli ponsel Android agar anaknya bisa mengikuti belajar secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Dewi, ibu rumah tangga di Dusun 1V di Desa Mekar Jaya kecamatan Tebing Tinggi, mengaku sudah tiga hari pinjam uang ke Koperasi keliling sebesar Rp 250 ribu untuk membelikan anaknya Hp android, agar bisa mengikuti sekolah pembelajaran jarak jauh yang saat ini diterapkan sekolah imbas pandemi Covid-19

Dengan pinjaman sebesar Rp 250 ribu itu, angsuran yang harus ia dan suaminya bayar sebesar Rp 12.500 setiap harinya selama 24 hari. Walaupun tidak terlalu besar, jumlah pinjamannya itu menurutnya terasa berat di tengah kondisi yang serba sulit saat ini. Karena sehari-hari suaminya Rohmansyah (35), yang bekerja sebagai buruh tani getah karet, menghidupi keluarganya tiga orang anak.

Biasanya hasil sadap getah dalam tiga hari hasil sebanyak 27 Kg, dijual dengan harga di Tebing Tinggi saat ini Rp 3.500 per kg. Diceritakan Dewi, setelah berhasil pinjam ke Koperasi, ia pun membelikan anaknya ponsel android bekas, seharga Rp 250 ribu, harga itu sebesar pinjamannya di Koperasi keliling.

"Belinya seharga Rp 250 ribu, android bekas (second)," kata Dewi.

Sayangnya, android yang dibeli tersebut ternyata rusak bagian LCD nya. "Baru dibeli berapo hari hari, handpone ternyata rusak, di layarnya tidak menampilkan gambar, hanya putih saja, " terang Dewi kepada Sripoku.com, Senin (27/7).

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved