Krisis Ekonomi 2020

Antisipasi Krisis Ekonomi 2020

McKinsey and Company mempublikasikan riset terbaru tentang potret kondisi ekonomi global pa­­da bulan maret 2020.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Markoni Badri, MBA 

BPS bahkan mempredilsi partum­buh­an ekonomi Indonesia terkontraksi antara minus 4.8 persen sampai minus 7 persen (CNN In­do­nesia, 22/06/20).

Data tersebut di atas memberikan gambaran bahwa ekonomi Indonesia semakin mem­per­ha­tin­kan dan perlu penanganan yang serius agar tidak terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Efek Krisis Ekonomi

Sebuah krisis ekonomi dapat berbentuk resesi atau depresi, yang juga umumnya disebut krisis e­konomi riil.

Suatu negara disebut mengalami resesi ekonomi apabila penurunan Produk Do­me­tik Bruto (PDB) nya berlangsung selama enam bulan berturut-turut.

Ini ditandai dengan peng­a­ng­guran tinggi, kesempatan kerja rendah, tingkat upah stagnasi dan kejatuhan dalam penjualan retail.

Resesi ekonomi biasanya terjadi tidak lebih dari satu tahun dan efeknya lebih ringan dari de­presi.

Sedangkan depresi ekonomi merupakan titik terendah dalam sebuah siklus ekonomi, yang di­ci­rikan dengan antara lain;

Pertama, kemampuan belanja pemerintah menurun (G),

Kedua, jum­lah pengangguran besar (lebih dari 50 persen dari jumlah tenaga kerja),

Ketiga, konsumsi ma­syarakat menurun (c),

Keempat, harga naik dengan laju yang lebih rendah dari laju normal,

Ke­lima, upah menurun atau persentase lebih kecil dari pada laju pada saat normal, dan terakhir a­da­lah hilangnya harapan masyarakat terhadap masa depan.

Dengan kata lain, semua kegiatan e­ko­nomi merosot dan berdampak pada setiap sektor.

Scenario Keluar dari Krisis Ekonomi

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved