Begini Cara Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Bangkitkan UMKM di Tengah Pandemi
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI (KemenKopUKM) terus membuat sejumlah terobosan untuk membantu memulihkan kondisi
SRIPOKU.COM -- Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI (KemenKopUKM) terus membuat sejumlah terobosan untuk membantu memulihkan kondisi usaha UMKM yang merupakan kelompok usaha yang paling terdampak oleh krisis pandemi Covid-19.
Menteri Koperasi & UKM RI Teten Masduki menyatakan, lebih dari 236.980 pengusaha skala kecil dan menengah telah melaporkan kondisi usaha mereka yang terpuruk di tengah situasi pandemi ini.
Pelaku usaha kecil dan menengah ini mengaku telah kehilangan pendapatan dikarenakan mengalami penurunan permintaan atas produk dan jasa yang ditawarkan.
Dia menjelaskan, kehilangan pendapatan ini menjadikan kondisi UMKM semakin terhimpit oleh masalah kredit perbankan, di mana mereka pada akhirnya tidak lagi memiliki kemampuan membayar cicilan pembiayaannya.
“Saat ini pemerintah sudah mencoba membantu masalah cashflow ini dengan memberikan restrukturisasi utang mereka selama enam bulan di mana mereka tidak perlu mencicil, lalu subsidi kreditnya dari pemerintah termasuk menghapuskan pajak untuk UMKM,” ungkap Menteri Teten dalam acara dialog "Resep UMKM Bangkit Bersama GoFood” yang digelar hari ini.
Teten mengaku sudah turun langsung memantau kondisi UKM di berbagai wilayah di Indonesia.
• Meskipun Berhasil Ditangkap, Polisi Kesulitan Gali Informasi Pembakaran Toyota Alphard Via Vallen
• Tak Hanya Layani Nafsu Pelanggannya, PSK Ini Juga Rela Lakukan Hal Terlarang Ini
• Pilkada 2020 Ogan Ilir, Calon Petahana Ilyas Panji Alam: Saya Harus Berpasangan Sama Golkar!
Dia menegaskan, pemberian kelonggaran atau relaksasi pembayaran, yaitu berupa restrukturisasi pinjaman/pembiayaan kepada mitra penerima dana bergulir program pembiayaan KemenKopUKM, merupakan salah satu strategi penting untuk menggerakkan kembali roda perekonomian rakyat dengan menghidupkan kembali koperasi dan UMKM di sektor riil.
Teten melihat sejumlah UMKM telah mampu memanfaatkan peluang pertumbuhan e-commerce sebagai marketplace online bagi penjualan produk dan jasanya.
“Data penjualan e-commerce dalam catatan Bank Indonesia, menunjukkan peningkatan 18 persen bulan lalu. Penjualan secara online itu meningkat antara lain karena memang ada kebijakan social distancing, kebijakan PSBB, lalu work from home, sehingga orang cenderung belanja lewat online,” ujarnya.
Namun dia menyayangkan UMKM yang terhubung ke marketplace online ini baru 13% atau setara 8 juta. Oleh karenanya, transformasi digitalisasi UMKM sekarang menjadi salah satu prioritas untuk membuka akses-akses pemasaran produk UMKM.
Strategi KemenKopUKM antara lain adalah menjalin sejumlah kemitraan strategis, seperti dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk mengakomodir produk-produk hasil UKM ke dalam e-katalog dan masuk dalam pengadaan belanja pemerintah.
Kemudian, dengan pihak swasta, kerja sama juga dibangun dengan platform digital, seperti GoFood dan Gojek untuk membangkitkan kembali UMKM sektor makanan dan minuman di Indonesia.
Digitalisasi, menurut Teten, juga mendorong proses bisnis mereka lebih efisien dan bisa bersaing, serta bisa mengakses pembiayaan yang lebih besar.
"Ke depannya, digital record kesehatan usaha itu jauh lebih dipertimbangkan dalam memberikan referensi pembiayaan dibandingkan dengan aset," jelasnya.
Apalagi mengingat kalau UMKM tidak punya aset, jadi kalau masih model lama, itu akan sulit. Tapi kalau seperti GoFood, mitranya kan UMKM, dari cashflownya mereka bisa ketahuan, mana anggota UMKM yang sudah bergabung dengan GoFood yang sehat.