Tujuh Provinsi Defisit Beras
Ada tujuh provinsi mengalami defisit stok beras, 11 provinsi defisit stok jagung, dan 23 provinsi defisit stok cabai besar.
JAKARTA, SRIPO -- Presiden Joko Widido (Jokowi) menyoroti sejumlah kebutuhan pokok masyarakat di tengan pandemi virus corona (Covid-19). Jokowi mengatakan, dirinya mendapati laporan soal bahan kebutuhan pokok yang mengalami defisit di sejumlah provinsi.
Ia lantas membeberkan ada tujuh provinsi mengalami defisit stok beras, 11 provinsi defisit stok jagung, dan 23 provinsi defisit stok cabai besar. Meski begitu, Jokowi tidak menyebutkan provinsi yang mengalami defisit.
“Stok cabai rawit defisit di 19 provinsi. Stok bawang merah diperkirakan juga defisit di satu provinsi dan stok telur ayam defisit di 22 provinsi,” kata Jokowi, Selasa (28/4).
• Hadapi Ramadhan dan Idul Fitri di Tengah Covid-19, Stok Beras di Kabupaten Ogan Ilir Surplus
• Baznas Musirawas Salurkan Beras 8,2 Ton untuk Warga Terdampak Covid-19 di Kecamatan Selangit
Jokowi pun menyampaikan stok minyak goreng diperkirakan cukup untuk 34 provinsi. Sedangkan stok gula pasir diperkirakan defisit di 30 provinsi. Begitu juga dengan stok bawang putih yang diperkirakan defisit di 31 provinsi.
“Hal-hal seperti ini harus kita antisipasi untuk memenuhi kebutuhan pokok bagi rakyat kita,” ucapnya.
Untuk itu, Kepala Negara meminta Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Bulog segera melalukan perhitungan terkait kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Jokowi juga meminta jajarannya menyisir kembali daerah mana yang mengalami defisit dan surplus bahan pokok.
“Asesment yang cepat terhadap kebutuhan bahan pokok setiap daerah setiap provinsi agar dihitung mana provinsi yang surplus, mana provinsi yang defisit, berapa produksinya, semuanya harus kita hitung,” tegas Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga meminta kementerian terkait memperhatikan manajemen pengelolaan beras dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Karena menurutnya manajemen pengelolaan beras yang baik menjadi kunci dalam mengantisipasi dan mitigasi krisis pangan yang diprediksi oleh lembaga pangan dunia (FAO).
“Oleh sebab itu, sekali lagi kalkulasi secara detail. hitung betul secara detail mengenai ketersediaan stok, tentu dengan memperhitungkan stok di masyarakat, stok di penggilingan, stok di gudang dan stok di bulog,” kata Presiden.
Meskipun produksi beras tahun ini cukup baik mencapai 5,62 juta ton, presiden meminta Kementerian terkait mewaspadai terjadinya kemarau panjang, yang dapat mengganggu produksi beras. “Walau prediksi BMKG tidak ada cuaca yang ekstrem. namun tetap harus diwaspadai terutama yang berkaitan dengan ketersediaan beras nasional kita,” katanya.
Presiden juga meminta Bulog untuk untuk membeli gabah petani dengan insentif harga yang layak, dengan fleksibilitas yang memadai. Sehingga produksi pangan tetap terjaga.
“Pastikan juga agar petani tetap berproduksi tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan yang baik dan program stimulus ekonomi betul-betul bisa juga menjangkau yang berkaitan dengan produksi beras kita. artinya menjangkau petani kita,” pungkasnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bawah pemerintah akan melakukan operasi pasar untuk memastikan ketersediaan pangan sehingga harga stabil.”Tentunya nanti Bulog dan Kemendag akan melakukan operasi agar stok pangan di daerah bisa tercapai,” kata Airlangga.
Sejauh ini menurut Airlangga sebagian besar komoditas harganya stabil. Hanya terdapat 5 komoditas yang mengalami kenaikan 0,27-2,5 persen.
Menurut Airlangga secara keseluruhan ketersediaan bahan pangan, terutama beras terjaga. Beberapa daerah yang mengalami keterbatasan stok, akan disuplai oleh daerah yang mengalami surplus.