Faktor Ekonomi Dorong Pelaku Tipsani
Para pelaku lebih termotivasi lingkungan orang yang sukses melakukan penipuan ketimbang pelaku terkena hukuman.
PALEMBANG, SRIPO -- Pengamat Sosial, Prof Abdullah Idi menilai perilaku tipu sana-sini alias Tipsani yang dilakukan sekelompok masyarakat di Sumsel lantaran didorong oleh faktor ekonomi. Para pelaku yang tak memiliki penghasilan tetap namun ingin hidup enak, akhirnya memilih jalan pintas melakukan penipuan demi meraup pundi-pundi rupiah tanpa harus bekerja keras.
"Faktor ekonomi yang mendesak menyebabkan mereka melakukan hal ini. Mereka ingin dapat uang banyak secara cepat tapi tidak mau bekerja," katanya, Selasa (14/3).
Dengan tafsiran yang salah dalam cara mudah mencari uang, membuat para pelaku terus termotivasi melakukan tindak kriminal tersebut. Terlebih, lingkungan sekitar mereka sudah menjadikan tindakan itu sebagai hal yang lumrah, bahkan pihak keluarga juga mendukung hingga ikut dalam sindikat penipuan.
• Hidup Mewah Tanpa Kerja, Gaya Hidup Sindikat Penipuan Layanan SMS dan Ponsel
• Pasal Berlapis Jerat Pelaku Tipsani
• Video Ekslusif: Hidup Mewah Tanpa Kerja, Gaya Hidup Sindikat Penipuan Layanan SMS dan Ponsel
• Begini Aksi Para Tipsani, Manfaatkan Kelemahan Sistem Keamanan
Abdullah Idi menyebutkan, meski resiko besar hingga kurungan penjara menunggu para pelaku, namun tak membuat para pelaku gentar. Penyebabnya, para pelaku lebih termotivasi lingkungan orang yang sukses melakukan penipuan ketimbang pelaku terkena hukuman.
"Mereka lihat pelaku yang sukses banyak dapat uang, jadi tak ada rasa takut mereka untuk melakukan kejahatan," jelas Abdullah Idi.
Menurutnya, untuk memutus mata rantai turun-temurun perilaku tipsani ini merupakan peran penting dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat hingga aparat keamanan untuk membina kelompok masyarakat yang melakukan aksi penipuan.
Selain itu, pemerintah daerah juga harus membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk meminimalisir prilaku tersebut terjadi di lingkungan masyarakat.
"Larangan itu juga harus diimbangi dengan lapangam pekerjaan. Pemerintah melakukan edukasi, sementara pihak keluarga berperan menanamkan pendidikan moral dan agama," ujarnya. (oca)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/hidup-mewah-tanpa-kerja.jpg)