Kala Modernisasi Budaya 'Membunuh' Ladang Uang Nelayan di OKI dan Mencemari Udara
Aktifitas menambang pasir sudah menjadi budaya dilakukan sebagian besar masyarakat OKI. Namun, perkembangan teknologi memberikan dampak negatif.
"Sekarang mau dapet 10 kilo sehari saja susah, padahal sekali memakai perahu bisa abis lebih dari 2 liter bensin jadi untungnya sedikit.
Beda sama sebelum banyaknya mesin penyedot pasir itu, ikan dan udang sangat melimpah mau dapetin 2 kwintal pun bisa dalam sehari, penurunan pendapatan sekarang tinggal hanya 10 % saja," tegasnya.
• Taman Budaya Sumsel di Dekranasda Palembang, Alternatif Libur Weekend Sembari Lihat Pameran Lukisan
Hal tersebut tidak begitu saja di diamkan oleh warga masyarakat yang terkena dampak. Muhaimin menjabat ketua RT 1 mengungkapkan tambang pasir tersebut sangat merugikan banyak warga sekitar.
"Disini sudah banyak keluhan dari masyarakat apalagi yang bermata pencaharian sebagai nelayan sangat sulit mendapatkan ikan," pungkasnya.
Belum lagi suara bising yang dikeluarkan dari mesin tersebut ditambah air sungai menjadi keruh dan tidak layak digunakan.
"Dekat sini saja ada 2 tambang pasir, setiap hari selalu berbunyi mesinnya tidak kenal musim kemarau maupun banjir selalu menyedot, suaranya sangat bising apalagi malam hari warga tidak dapat istirahat dengan tenang.
Ditambah lagi itu oli yang tumpah ke air membuat sungai jadi keruh, selain itu sering juga terjadi longsor disisi sungai, dan sungai yang sebelumnya luas jadi sempit," ungkap Muhaimin.
Usaha warga sekitar untuk menyampaikan keluh kesah mereka kepada Camat Kayuagung belum juga di tindak lanjut dan menemukan titik terang.
• Dinilai Kurang Budaya Nusantara, Seragam PNS Disebut Warisan Belanda, Bahannya Dianggap Tak Cocok!
"Pada tahun ini seluruh masyarakat yang berjumlah sekitar seratus orang sudah tanda tangan keberatan adanya tambang pasir, dan sekitar 4 bulan yang lalu surat sudah di sampaikan ke Camat Kayuagung.
Namun hingga saat ini belum juga ada penjelasan apalagi tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk menertibkan tambang pasir diduga banyak yang tidak memiliki ijin resmi tersebut," tutupnya.
Sementara itu saat wartawan Tribunsumsel mendatangi kantor Camat Kayuagung untuk meminta keterangan, petugas jaga memberitahu kalau Camat sedang ada rapat di luar.
"Bapak tidak ada, lagi rapat di luar, tidak tahu besok ada atau tidak," kata petugas yang enggan menyebutkan nama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/nelayansungai.jpg)