Kala Modernisasi Budaya 'Membunuh' Ladang Uang Nelayan di OKI dan Mencemari Udara

Aktifitas menambang pasir sudah menjadi budaya dilakukan sebagian besar masyarakat OKI. Namun, perkembangan teknologi memberikan dampak negatif.

Tayang:
Editor: Refly Permana
tribunsumsel.com/nando
Seorang nelayan yang akan memulai aktifitas mencari ikan di Sungai Komering OKI. 

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG - Datang ke Ogan Komering Ilir (OKI) tak sulit melihat sebagian masyarakatnya menambang pasir di tepi sungai. Setiap kali ada aliran Sungai Komering di tepi jalan, di titik itu pula ada masyarakat yang kesehariannya mengambil dan mengolah pasir dari sungai.

Sejarah asal mulanya Pertambangan pasir di sepanjang sungai Komering sudah ada sejak sekitar tahun 1960 yang lalu. Saat itu masyarakat masih menggunakan alat mendulang pasir secara tradisional.

Gubernur Sumsel Apresiasi Terbentuknya Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia, Apa Itu?

Tak salah jika selain disebut mata pencaharian aktifitas ini sudah menjadi salah satu budaya di sana.

Dengan alat tradisional berupa ayakan untuk memilah pasir banyak warga di pinggir sungai Komering bermata pencaharian sebagai penambang pasir.

"Dulu memang banyak masyarakat di aliran sungai Komering yang melakukan penambangan pasir secara tradisional dan itu pun dilakukan saat air sedang dangkal atau tidak banjir," ucap Yusrizal, sejarawan Kabupaten OKI, Kamis (5/12/2019).

Namun, sekitar 10 tahun belakangan,ada modernisasi dari budaya tersebut.

Alat tradisional berupa ayakan kini sudah tergantikan oleh mesin penambangan.

Pesona Masjid Muhammad Cheng Hoo Palembang, Masjid yang Memadukan 3 Unsur Kebudayaan

Dengan mesin ini, aktifitas menambang pasir lebih sederhana dan hasilnya lebih maksimal.

Secara perlahan, aktifitas menambang pasir konvensional mulai ditinggalkan.

Aktifitas menambang pasir di sungai yang kini sudah menggunakan mesin modern.
Aktifitas menambang pasir di sungai yang kini sudah menggunakan mesin modern. (tribunsumsel.com/nando)

"Tetapi sangat disayangkan dalam beberapa tahun belakangan mulai bermunculan banyak penambang pasir yang memakai mesin untuk melakukan penambangan dan itu membuat sungai jadi mengecil serta air sungai menjadi hitam karena oli mesin yang menetes ke air sungai," katanya.

Keadaan tersebut berdampak buruk pula pada kehidupan ekosistem dalam air dikarenakan pencemaran lingkungan.

Seperti yang di sampaikan Edi warga RT 1, RW 1 Kelurahan Kayuagung Asli yang hampir keseluruhan warganya bermata pencaharian sebagai nelayan.

Blusukan Jokowi dan Iriana di Korsel, Desa Budaya Gamcheon Dulunya Kumuh

"Disini puluhan Kepala Keluarga menggantungkan hidup dari mencari ikan di sungai Komering," ujar Edi.

Diceritakan lebih lanjut sebelum menjamurnya ratusan penambang pasir mulai dari Kelurahan Jua-jua hingga ke arah danau Teloko, masyarakat sekitar leluasa dalam mencari ikan.

"Ya dulu enak kalau nyari ikan bisa berpindah-pindah tanpa dihalangi oleh penambang yang tidak diketahui memiliki ijin atau tidak tersebut.

Kkalau sekarang tidak mungkin lagi nyari ikan dekat mesin penambang karena banyak oli berjatuhan di air, apalagi di bawah sungai di penuhi lumpur," tuturnya.

Dengan banyaknya mesin penambangan dan pencemaran lingkungan, berakibat pula pada anjloknya penghasilan nelayan dalam menangkap ikan dengan menggunakan jaring dan jala di sungai.

"Sekarang mau dapet 10 kilo sehari saja susah, padahal sekali memakai perahu bisa abis lebih dari 2 liter bensin jadi untungnya sedikit.

Beda sama sebelum banyaknya mesin penyedot pasir itu, ikan dan udang sangat melimpah mau dapetin 2 kwintal pun bisa dalam sehari, penurunan pendapatan sekarang tinggal hanya 10 % saja," tegasnya.

Taman Budaya Sumsel di Dekranasda Palembang, Alternatif Libur Weekend Sembari Lihat Pameran Lukisan

Hal tersebut tidak begitu saja di diamkan oleh warga masyarakat yang terkena dampak. Muhaimin menjabat ketua RT 1 mengungkapkan tambang pasir tersebut sangat merugikan banyak warga sekitar.

"Disini sudah banyak keluhan dari masyarakat apalagi yang bermata pencaharian sebagai nelayan sangat sulit mendapatkan ikan," pungkasnya.

Belum lagi suara bising yang dikeluarkan dari mesin tersebut ditambah air sungai menjadi keruh dan tidak layak digunakan.

"Dekat sini saja ada 2 tambang pasir, setiap hari selalu berbunyi mesinnya tidak kenal musim kemarau maupun banjir selalu menyedot, suaranya sangat bising apalagi malam hari warga tidak dapat istirahat dengan tenang.

Ditambah lagi itu oli yang tumpah ke air membuat sungai jadi keruh, selain itu sering juga terjadi longsor disisi sungai, dan sungai yang sebelumnya luas jadi sempit," ungkap Muhaimin.

Usaha warga sekitar untuk menyampaikan keluh kesah mereka kepada Camat Kayuagung belum juga di tindak lanjut dan menemukan titik terang.

Dinilai Kurang Budaya Nusantara, Seragam PNS Disebut Warisan Belanda, Bahannya Dianggap Tak Cocok!

"Pada tahun ini seluruh masyarakat yang berjumlah sekitar seratus orang sudah tanda tangan keberatan adanya tambang pasir, dan sekitar 4 bulan yang lalu surat sudah di sampaikan ke Camat Kayuagung.

Namun hingga saat ini belum juga ada penjelasan apalagi tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk menertibkan tambang pasir diduga banyak yang tidak memiliki ijin resmi tersebut," tutupnya.

Sementara itu saat wartawan Tribunsumsel mendatangi kantor Camat Kayuagung untuk meminta keterangan, petugas jaga memberitahu kalau Camat sedang ada rapat di luar.

"Bapak tidak ada, lagi rapat di luar, tidak tahu besok ada atau tidak," kata petugas yang enggan menyebutkan nama.

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved