Berita Banyuasin

Persoalan Plasma, Warga Desa Sebubus Banyuasin dan PT TBL Saling Klaim Hak, Temui Jalan Buntu

Sebaliknya, pihak perusahaan juga mengklaim bahwa tidak ada lagi lahan plasma. Sehingga tidak ada kesingkronan antara data PT TBL dan masyarakat.

Persoalan Plasma, Warga Desa Sebubus Banyuasin dan PT TBL Saling Klaim Hak, Temui Jalan Buntu
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
Asisten I Setda Banyuasin, Ir Kosarudin didampingi Kabid Pertanahan Fujianto dan dihadiri Humas PT TBL Edi Karo-karo, Kades Bubusan Sarman dan perwakilan warga serta aktivis Amunisi, memediasi Perusahaan PT TBL dan masyarakat Desa Bubusan. 

SRIPOKU.COM, BANYUASIN -- Persoalan sengketa lahan maupun plasma di Kabupaten Banyuasin, yang dijanjikan perusahaan, kerap kali menjadi pil pahit bagi masyarakat Desa Sebubus Kecamatan Air Kumbang.

Mengapa tidak, antara masyarakat dan pihak perusahaan PT Tunas Baru Lampung atau PTT BL saling klaim hak sehingga antara keduanya tidak pernah cocok dan temui jalan buntu, tidak ada penyelesain yang serius.

Padahal masyarakat hanya menuntut janji dan hak plasma seluas 310 hektar dari luas 612 hektar terdiri dari 516 hektar lahan inti dan 310 hektar lahan plasma yang diharapkan masyarakat selama ini yang tak kunjung selesai.

Pada pertemuan yang dimediasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuasin, Selasa (5/11/2019) di ruang rapat Wakil Bupati (Wabup) H Slamet SH yang dipimpin Asisten I Ir Kosarudin didampingi Kabid Pertanahan Fujianto dan dihadiri Humas PT TBL Edi Karo-karo, Kades Bubusan Sarman dan perwakilan warga serta aktivis Amunisi.

"Mediasi ini guna menyelesaikan tuntutan masyarakat yang mengklaim memiliki lahan diarea PT TBL tetapi belum mendapatkan lahan plasma," kata Kosarudin.

Namun sebaliknya, pihak perusahaan juga mengklaim bahwa tidak ada lagi lahan plasma. "Ini nama tidak kesingkronan antara data PT TBL dan masyarakat baik dari jumlah, luas dan nama-nama pemiliknya," yang harus diperhatikan lagi.

BPBD OKU Selatan Imbau Warga Bermukim di Tebing dan DAS untuk Waspada Rawan Longsor

Komisi IV DPRD Sumsel Menilai Ada Pemborosan pada Teknis Pemeliharaan Dua Jalan Provinsi

Sutina PRT Mengaku Melahirkan dalam Posisi Berdiri Bayinya Langsung Jatuh dan Dimasukan Mesin Cuci

Masyarakat hanya mengklaim luasan plasma 310 hektar. Sebab itu, riwatnya lahan juga harus jelas pada mediasi ini. Apalagi lahan seluas 310 hektar yng diklim masyarakat, tak sesuai dengan lahan ini yang dimiliki perusahaan sekarang ini.

"Lahan seluas 612 hektar yang diusahakan perusahaan terdiri lahan inti 516 hektar dan sisanya lahan plasma. Lahan yang dituntut warga seluas 310 hektar sehingga terjadi tidak singkron," katanya seraya menyebutkan, belum ada titik temu persoalan ini, karena pihak yqng berwenang mengambil keputusan kerap tidak hadir.

"Akan kita telusuri permasalahan lahan plasma yang dituntut masyarakat dimana, kenapa jumlahnya tidak sesuai dengan lahan inti perusahaan," jelasnya.

Humas PT TBL Edi Karo-Karo menyebutkan, sesuai peta lahan 612 lahan yang dibebaskan oleh Dedi selaku masyarakat dan lahan dibeli perusahaan 516 inti dan sisanya plasma. Jadi tidak seluruh lahan diusahakan perusahaan, sebagian lahan dibagi-bagi ke Dedi selaku masyarakat.

"Masyarakat yang minta plasma banyak sekali jadi tidak bisa dipenuhi dengan jumlah lahan yang dimiliki perusahaan," tutur Edi Karo-karo.

Terpisah M Yusuf selaku warga didampingi Kades Sebusus Kecamatan Air Kumbang Sarman berharap jika lahan plasma yang dijanjikan pihak perusahaan di kembalikan ke masyarakat sesuai yang menjadi tuntutan.

"Diharapkan dari pertemuan ini, perusahaan bisa memberikan keinginan masyarakat sesuai dengan keinginn," tandasnya.

Penulis: Mat Bodok
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved