Dalam Kubur

Penyeselan Orang Di Dalam Kubur

Dalam surah Al-Alaq Allah SWT menyatakan yang artinya “sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs. H. Syarifuddin Ya'cub MHI 

A.    Mengingat Mati ; Sebagaimana telah dikemukakan pada awal tulisan ini bahwa manusia dihidupkan di dunia ini adalah untuk diuji, siapa yang paling baik amal ibadahnya di antara me­re­ka!

Maka orang-orang yang mendapat hidayah Allah SWT akan merasa mudah saja melakukan amal-amal shaleh sebelum menemui kematiannya. "Yang menjadikan mati dan hidup (bagi ma­nu­sia) untuk menguji, siapa diantara kamu (manusia) yang baik amal ibadahnya dan Allah ma­ha gagah dan maha pengampun". (QS:67 Al Mulk:02)

Rasulullah SAW mengingatkan kepada para sahabat dengan sabda beliau yang artinya: "Jadilah ka­lian di dunia ini seperti orang asing, atau orang yang sedang dalam perjalanan (pelancong), dan bersiaplah diri kamu sebagai ahli (penghuni) kubur." (HR. Mujahid dari Ibnu Umar ra.)

Kemudian Rasulullah bertanya: "Kalian ingin masuk surga! Jawab sahabat; "Ingin ya rasul!" La­lu beliau bersabda; "Lenyapkan khayalanmu, hendaklah malu kepada Allah SWT dengan su­ng­guh-sungguh." Sahabat menjawab, "kami sudah malu kepada Allah", maka jawab Nabi M­uhammad SAW; "Bukan demikian, yang dimaksud ialah; Ingat kubur dan isinya, pelihara pe­rut dan isinya, pelihara kepala dan panca indera, dan barang siapa ingin mulia di akhirat; ting­gal­kan kemewahan dunia.

Itulah yang dimaksud dengan malu kepada Allah SWT dengan dem­i­ki­an kalian menjadi kekasih-Nya." Lalu Rasulullah membaca ayat: Artinya: "Kalian dilupakan oleh ke­mewahan dunia, sampai masuk ke dalam kubur." ( QS. 102. At-Takatsur :1-2)

Lalu sabda beliau: "Manusia mengaku: Ini hartaku, Ini kepunyaanku, ketahuilah: kepunyaanmu ti­­dak bermanfaat, kecuali yang dimakan habis, atau dipakai sampai rapuh, atau yang di se­de­kahkan, itulah yang tetap". (HR. Humaidy Thawil dari 'Ajil)

Karena itulah mereka (yang ingin beruntung di akhirat) mempersiapkan diri, dan memanfa'atkan waktu yang tersisa dalam kehidupan kesehariannya dengan ibadah sebagai berikut;

B.     Meningkatkan Ibadah : Orang-orang mukmin akan memprioritaskan amal ibadahnya pada ha­ri Jum'at, karena hari Jumat adalah hari yang sangat mulia, salah satu dari 3 hari raya agama Islam.

Pa­da hari Jum'at, Allah SWT menyempurnakan serta meridlai Islam sebagai agama dan nikmat bagi umat manusia. Pada hari Jum'at, Allah SWT menciptakan Nabi Adam as.

Me­ma­suk­­kannya ke dalam surga, mengeluarkannya dari surga, serta memberikannya rahmat dan am­punan.

Allah SWT memerintahkan kiamat pada hari Jum'at, dan ada suatu saat di hari Jum'at jika se­orang muslim meminta sesuatu kepada Allah 'Azza wa Jalla, niscaya Allah akan memenuhinya.

Ap­abila pada hari Jum'at permintaan hambanya tidak dipenuhi-Nya, sungguh Allah SWT telah menyimpankan untuk hamba-Nya bagian yang lebih baik.

Apabila hamba-hamba Allah SWT selamat pada hari Jum'at, maka selamatlah mereka pada hari lain.

Allah SWT mewajibkan Shalat Jum'at (fardlu 'ain) bagi Mukmin, Muslim -Laki-laki yang mer­de­­ka, baligh, berakal, sehat dan berada di kota atau desa (mustautin).

Kecuali budak yang di­mi­liki, pe­rempuan, anak-anak, orang sakit dan musafir. Firman Allah SWT dalam surah Al Jumu'ah ayat 9 yang artinya; "Wahai sekalian orang yang beriman! Apabila diserukan untuk shalat di ha­ri Jum'at, maka bersegeralah kamu sekalian menuju zikir kepada Allah (shalat Jum'at), dan ting­galkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat te­­lah didirikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah. Dan i­ngatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung". (QS 62 Al-Jumu'ah:9-10).

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Tags
Penyeselan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved