Breaking News

Mengisi Kemerdekaan

Mengisi Kemerdekaan Melalui Budaya Literasi

Tepat tanggal 17 Agustus 2019, sudah 74 Tahun negara Indonesia merdeka.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Kencana Sari, M.Pd 

Kenyataan di atas dapat dibaca bahwa masyarakat Indonesia masih mengedepankan budaya lisan dari pada membaca.

Menurut Kultural, keadaan ini menunjukan peringkat rendah dari perkembangan peradaban maju dunia.

Fenomena rendahnya literasi membaca di Indonesia bisa kita kait kan dengan angkat buta huruf di indoensia yang masih tinggi, diera informasi dan teknologi yang masif sekarang ini, tidak bisa menyingkirkan fakta penduduk indonesia yang jutaan masih ada yang buta huruf.

Secara keseluruan, persentase buta huruf yang di miliki indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, sebesar 4,78 persen pada usia 15 tahun ke atas, 1,10 persen untuk usia 14-44 tahun, dan untuk usia 45 tahun keatas 11,98 persen

Hasil data ini dapat memprihatinkan, literasi belum sepenuhnya dapat di rangkul, sebagai budaya literasi yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, fenomena dapat dilihat dengan kasat mata pada lingkungan sekitar, budaya yang masih langkah dijumpai.

Dikutip, tanggal 18 Mei 2016 yang lalu, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan memebentuk sebanyak 31 kampung literasi di 31 kabupaten untuk menarik ingin membaca dan menulis untuk membagun kemandirian lingkungan.

Pada hari buku Nasional tahun 2015, Anis Baswedan pernah mencanangkan Gerakan 10 Menit Membaca dengan tujuan meningkatkan minat baca dikalangan generasi muda.

Kalau kita ambil intisarinya, sangat ironis apabila dalam kurung waktu satu tahun tak satupun buku yang selesai dibaca, ataupun separuhnya, ditambah kemapuan menulis rendah di kelilingi akses kemudahan teknologi yang pesat.

Kata bijak tersampaikan” jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradapan, hancurkan buku- bukunya: dipastikan bangsa itu akan musnah”

Kemerosotan besar dalam literasi sudah mulai menjadi peringatan, sebelum penghancuran buku dapat terjadi.

Sewajarnya kita perlu menyiapkan formulasi lebih jitu untuk menumbuhkan budaya literasi untuk jangka panjang.

Sebab membangun sebuah bangsa tidak hanya berfokus pada fisik semata, melainkan seiring dengan membangun wawasan segenap sumber daya manusia, keterlibatan pendiri bangsa dan para pemikir dengan berhasil memerdekakan pikiran terlebih dahulu.

Literasi suatu kata yang genting harus diperjuangkan dan digalakkan dari data-data diatas adalah fenomena yang harus ditransformasikan.

Membaca, menganalisis, menulis, diskusi dan meneliti yang menjadi perjuangan kultural agar perjuangan literasi dapat bangkit, dan diaplikasikan dalam perilaku sehari-hari bagi masyarakat Indonesia.

Penerapan secara efektif wajib membaca disetiap jenjang, lingkungan sekolah khusunya dalam durasi waktu tertentu, memungkinkan solusi berdampak positif karena dirutinitaskan kebijakan ini, sehinggan budaya literasi secara perlahan akan hidup dengan sendirinya, karena muncul dari sebuah kebiasaan.

Sumber:
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved