Memetik Hikmah Ibadah Haji dan Kurban
Dapat disebut bahwa Ibadah massal terbesar sepanjang sejarah manusia adalah ibadah haji.
Bila ibadah haji mengajarkan pesan tauhid al-'ibadah dan tauhid al-ummah, maka demikian pula halnya ibadah kurban menghendaki lahirnya nilai-nilai keshalihan vertikal (ritual-individual) dan keshalihan horizontal (ritual-sosial).
Dalam istilah lain, ibadah kurban paling tidak mengandung dua dimensi hikmah, yakni hikmah ilahiyyah dan hikmah ijtima'iyyah.
Hikmah 'ilahiyyah adalah bentuk dan bukti ketaatan atas perintah Tuhan, sedangkan hikmah ijtima'iyyah adalah lahirnya nilai-nilai solidaritas dan ketulusan sosial.
Artinya, ibadah kurban selain salah-satu bukti cinta dan ketaatan seorang pada Tuhan-nya -sebagaimana halnya Nabi Ibrahim as. yang telah mengorbankan putranya Isma'il as.- juga menanamkan nilai dan arti penting dari keshalihan sosial dalam bentuk solidaritas, kesetiaan dan kepedulian.
Berangkat dari pesan ini, kedudukan ajaran "berbagi" menjadi sangat penting. Perintah "zakat, infaq dan shadaqah" dalam ajaran Islam mengambil peranan sangat strategis dan urgen.
Pesan ini antara lain disebutkan dalam Qs. ath-Thalaq : 6 "Hendaknya orang yang memiliki kelebihan rizki dalam hidupnya senantiasa berbagi dengan sesamanya; dan bagi orang yang disempitkan rizkinya, hendaknya ia berbagi sesuai dengan kadar kemampuan yang ia sanggupi".
Lebih tegas lagi diingatkan dalam Qs. al-Hasyr : 7 bahwa tujuan ajaran berbagi adalah "agar supaya harta kekayaan dunia ini tidak hanya dikuasai oleh kelompok tertentu saja, tapi juga harus dirasakan dan dinikmati oleh semua orang".
Karena pentingnya sikap berbagi, maka, Rasulullah SAW mengatakan : "Tidak akan masuk surga, seorang muslim yang tidur lelap dengan perut yang kenyang, sementara ada tetangganya yang melewati malam dengan menahan perih karena lapar".
Selain itu, perkembangan dan kemajuan sistem kehidupan masyarakat sedikit banyak telah menyebabkan terjadinya pergesaran paradigm dalam konteks ibadah kurban.
Hal ini kemudian menjadikan ibadah kurban hampa makna dan tidak banyak membawa pengaruh dalam menumbuhkan nilai-nilai spiritualitas, baik individual maupun sosial.
Ibadah ini seringkali terkesan hanya sebagai ekspresi penerimaan terhadap perintah agama dan rutininitas tahunan.
Bahkan, kalau boleh dikata, hanya sekedar "meat party" atau ritual "pesta daging" yang dilakukan atas nama ibadah.
Paradigma ini membuat makna ibadah kurban menjadi expired dan tidak memberikan motivasi apapun.
Padahal Al Qur’an telah menegaskan bahwa kurban mengandung pesan moral yang sangat mulia, jika dilihat dari berbagai konteks kehidupan dan setting sosial. Qs. al-Hajj : 37 misalnya menyebutkan : "sekali-kali bukanlah daging dan darah hewan kurban itu yang menjadikan Allah ridha atas kamu, tapi sungguh ketaqwaan, ketaatan dan kecintaan kamu kepadaNya "itulah yang menjadi asbab keridhaanNya".
Typekal umat di mana Nabi Ibrahim as. hingga Rasulullah SAW diutus adalah adalah sebuah masyarakat yang nomaden-pastoralis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jhon4.jpg)