Memetik Hikmah Ibadah Haji dan Kurban

Dapat disebut bahwa Ibadah massal terbesar sepanjang sejarah manusia adalah ibadah haji.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
H. John Supriyanto 

Bila ibadah haji mengajarkan pesan tauhid al-'ibadah dan tauhid al-ummah, maka demikian pu­la halnya ibadah kurban menghendaki lahirnya nilai-nilai keshalihan vertikal (ritual-individual) dan keshalihan horizontal (ritual-sosial).

Dalam istilah lain, ibadah kurban paling tidak meng­an­du­ng dua dimensi hikmah, yakni hikmah ilahiyyah dan hikmah ijtima'iyyah.

Hikmah 'ila­hi­yyah a­dalah bentuk dan bukti ketaatan atas perintah Tuhan, sedangkan hikmah ijtima'iyyah adalah lahirnya nilai-nilai solidaritas dan ketulusan sosial.

Artinya, ibadah kurban selain salah-satu bu­k­ti cinta dan ketaatan seorang pada Tuhan-nya -sebagaimana halnya Nabi Ibrahim as. yang te­lah mengorbankan putranya Isma'il as.- juga menanamkan nilai dan arti penting dari ke­sha­lih­an so­sial dalam bentuk solidaritas, kesetiaan dan kepedulian.

Berangkat dari pesan ini, kedudukan ajaran "berbagi" menjadi sangat penting. Perintah "zakat, in­faq dan shadaqah" dalam ajaran Islam mengambil peranan sangat strategis dan urgen.

Pesan ini antara lain disebutkan dalam Qs. ath-Thalaq : 6 "Hendaknya orang yang memiliki kelebihan rizki dalam hidupnya senantiasa berbagi dengan sesamanya; dan bagi orang yang disempitkan rizkinya, hendaknya ia berbagi sesuai dengan kadar kemampuan yang ia sanggupi".

Lebih tegas lagi diingatkan dalam Qs. al-Hasyr : 7 bahwa tujuan ajaran berbagi adalah "agar su­pa­ya harta kekayaan dunia ini tidak hanya dikuasai oleh kelompok tertentu saja, tapi juga harus di­rasakan dan dinikmati oleh semua orang".

Karena pentingnya sikap berbagi, maka, Rasulullah SAW mengatakan : "Tidak akan masuk surga, seorang muslim yang tidur lelap dengan perut yang kenyang, sementara ada tetangganya yang melewati malam dengan menahan perih karena la­par".

Selain itu, perkembangan dan kemajuan sistem kehidupan masyarakat sedikit banyak telah menyebabkan terjadinya pergesaran paradigm dalam konteks ibadah kurban.

Hal ini kemudian menjadikan ibadah kurban hampa makna dan tidak banyak membawa pengaruh dalam menumbuhkan nilai-nilai spiritualitas, baik individual maupun sosial.

Ibadah ini seringkali terkesan hanya sebagai ekspresi penerimaan terhadap perintah agama dan rutininitas tahunan.

Bahkan, ka­lau boleh dikata, hanya sekedar "meat party" atau ritual "pesta daging" yang dilakukan atas na­ma ibadah.

Paradigma ini membuat makna ibadah kurban menjadi expired dan tidak mem­be­ri­kan motivasi apapun.

Padahal Al Qur’an telah menegaskan bahwa kurban mengandung pesan mo­ral yang sangat mulia, jika dilihat dari berbagai konteks kehidupan dan setting sosial. Qs. al-Hajj : 37 misalnya menyebutkan : "sekali-kali bukanlah daging dan darah hewan kurban itu yang menjadikan Allah ridha atas kamu, tapi sungguh ketaqwaan, ketaatan dan kecintaan kamu ke­padaNya "itulah yang menjadi asbab keridhaanNya".

Typekal umat di mana Nabi Ibrahim as. hingga Rasulullah SAW diutus adalah adalah sebuah masyarakat yang nomaden-pastoralis.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved