Memetik Hikmah Ibadah Haji dan Kurban

Dapat disebut bahwa Ibadah massal terbesar sepanjang sejarah manusia adalah ibadah haji.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
H. John Supriyanto 

Ta­uhid al-ibadah adalah penyatuan ibadah dan penghambaan hanya tertuju kepada Allah SWT.

Meski jutaan jama'ah haji itu berbeda dalam hal mazhab fiqh, teologi, manhaj dan aliran ke­islaman, namun yang hendak dituju dalam ibadah tersebut hanyalah semata-mata Allah SWT.

Secara sunnatullah, manusia memang dicipta dalam keberagaman dari berbagai aspeknya ter­masuk pada model dan tata cara beribadah, namun titik fokus utama ibadah itu adalah Allah SWT.

Pesan inilah sebenarnya yang dikandung dalam ajaran ikhlash "wa ma umiru illa liya'bu­du Allah mukhlishina lahu ad-din" (kamu tidak diperintahkan kecuali ibadah dan beragama de­ngan ikhlash).

Selanjutnya, tauhid al-ummah adalah memposisikan kemuliaan manusia dalam kedudukan yang sama tanpa adanya label dan pengelompokan tertentu yang membedakan mereka.

Satu-satunya standar dasar yang membedakan kemuliaan manusia dalam perspektif Allah SWT adalah nilai dan kualitas ketaqwaannya seseorang (Qs. al-Hujurat : 13).

Atas dasar ini, maka agama sangat mengecam mentalitas yang seringkali memandang mulia seseorang atau satu kelompok atas kelompok lainnya, hanya karena faktor nasab, etnis, ras dan warna kulit.

Sebagaimana halnya juga bahwa hakikat kehormatan seseorang tidak boleh diukur atas dasar strata sosial, profesi, e­ko­nomi, kekuasaan dan intelektualitas.

Sebab, mentalitas seperti ini pada akhirnya meng­an­tarkan seseorang kepada sifat "kibr" (sombong) yang sangat dicela agama.

Dalam sebuah hadits di­sebutkan : "tidak akan masuk sorga seseorang ya­ng dalam hatinya terdapat sifat sombong, meski hanya sekecil biji sawi".

Nilai-nilai tauhid al-ummah dari pelaksanaan haji ini mengingatkan bahwa semua manusia ada­lah sama dalam pandangan Tuhan.

Tidak seorangpun berhak memandang dan menganggap di­ri­nya lebih mulia atau lebih terhormat dari manusia yang lain dengan dalih dan alasan apapun.

Oleh karena itulah Rasulullah SAW mengingatkan, "Setiap manusia berasal dari Adam, dan A­d­am berasal dari tanah. Tidak ada kelebihan sedikitpun orang-orang Arab atas orang-o­ra­ng 'ajam, selain daripada nilai-nilai ketaqwaan dan ketaatannya kepada Allah SWT."

Pesan ini ten­tu­nya sangat relevan dan aktual bagi umat Islam Indonesia yang akhir-akhir ini nyaris kehi­la­ng­an semangat persaudaraan dan kebersamaan, hanya karena masing-masing kelompok atau go­­lo­ngan saling mengklaim kebenaran secara sepihak.

Di saat yang sama, selain kurang pandai ber­pikir atas dasar perspektif orang lain juga cenderung sulit untuk menghargai sebuah per­bedaan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved