Komitmen Seorang Mukmin

Komitmen Seorang Mukmin Di Hadapan Allah SWT.

Roh manusia sudah disiapkan Allah SWT jauh sebelum ditautkan kedalam janin yang ada di rahim seorang ibu

Komitmen Seorang Mukmin  Di Hadapan Allah SWT.
ist
Drs. H. Syarifuddin Ya'cub MHI

Siapapun yang telah mengikrarkan diri sebagai seorang muslim harus melaksanakannya.

Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa shalat adalah hal pokok dalam Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. "Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Perbuatan manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik, dia akan beruntung dan selamat. Akan tetapi, bila shalatnya tidak benar, dia akan gagal dan merugi. Jika ada yang kurang sedikit dari kewajiban yang dilakukannya, kelak Tuhan Yang Mahagagah dan Mahamulia akan berfirman: "(Wahai malaikat), perhatikanlah apakah hamba-Ku melakukan shalat sunnah sehingga dapat menyempurnakan kekurangannya dalam melakukan shalat wajib, kemudian semua amalnya akan dihisab dengan cara seperti ini." (HR.Tirmidzi, Hadits Hasan) .
Maksud hadits ini adalah seseorang dinilai taat beragama manakala dia menunaikan kewajiban shalat dengan benar.

Seseorang yang mengaku muslim tetapi terkadang meninggalkan shalat fardhu berarti tidak taat beragama.

Bila dia melakukan shalat tetapi tidak mengikuti tuntunan Rasulullah SAW berarti shalatnya tidak benar.

Shalat yang dilaksanakan dengan benar syarat dan rukunnya berdasar-kan petunjuk Rasulullah SAW adalah shalat yang sah.

Sedangkan shalat yang dilaksanakan secara khusyuk; Tuma'ninah, khudhur dan Tadabbur adalah shalat yang diterima Allah SWT dan inplikasinya akan tampak pada perilaku akhlaq kesehariannya dalam hidup bermasyarakat.

Untuk mencapai martabat shalat yang dimaksud, maka perlu diperhatikan petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang artinya; "SHALATLAH KAMU SEBAGAIMANA KAMU MELIHAT AKU SHALAT".
Pada bagian lain Rasulullah SAW bersabda: "Telah berfirman Allah SWT, Aku telah mewajibkan kepada ummatmu shalat lima waktu, dan Aku berjanji kepada diriKu. Sesungguhnya barang siapa yang melaksanakan shalat itu tepat pada waktunya, akan Aku masukkan ke dalam surga. Dan barang siapa yang tidak menjaganya, maka tak ada ikatan janji lagi baginya terhadapKu." (HR.Ibnu Majah dari Abu qatadah)

Keutamaan shalat berjama'ah di masjid juga untuk memupuk sikap kebersamaan, saling menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama komunitas jama'ah dan untuk menghindari kemurkaan Allah SWT sebagaimana Hadits qudsi yang sampaikan rasulullah SAW : "Sesungguhnya Allah SWT berfirman, 'Sesungguhnya Aku benar-benar akan menimpakan azabKu kepada penduduk bumi, tetapi apabila Aku memandang kepada orang-orang yang meramaikan rumaKu (masjid) dan orang-orang yang saling menyayangi demi karena Aku, serta orang-orang yang mohon ampun di waktu sahur (shalat Tahajjud), maka Aku kesampingkan azabKu dari mereka". (HR.Al-Bayhaqy).

Orang yang meramaikan rumahku, maksudnya memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah lima waktu dan jum'at, menghadiri majelis ta'lim.

Adapun fadhilah atau keutamaan shalat berjamaah adalah 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. riwayat dari Ibnu Umar, Abu Hurairah ra. dari Abu Sa'id al-Khudri, Ahmad dari Ibnu Masud: "Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat (kedudukan di sisi Allah) daripada shalat sendiri. Sedangkan dalam riwayat lain, Dua puluh lima derajat." (HR.Bukhari).

Di dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Masud ra. dinyatakan; "Siapa yang ingin bertemu dengan Allah, besok dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat.

Karena dia akan dipanggil dengan shalat-shalatnya itu.

Allah telah mewajibkan kepada Nabi SAW kalian sunnah-sunnah pada Nabi.

Di antara sunnah-sunnah itu adalah shalat berjamaah. Jika kalian melakukan shalat di rumah kalian saja, seperti yang dilakukan oleh orang bodoh di rumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi SAW kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian niscaya kalian akan sesat.
Setiap orang yang bersuci dengan benar di rumahnya, lalu sengaja pergi ke masjid, maka Allah akan mencatat
setiap langkahnya itu sebagai kebaikan, diangkat satu derajat untuknya, dan dihapus satu kejelekan darinya.

Kami telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang yang meninggalkan shalat berjamaah hanyalah orang munafik yang terkenal kemunafikannya berdiri di barisan shalat," (HR.Muslim dan Abu Dawud).
Shalat berjamaah di masjid ini diutamakan bagi laki-laki, adapun kaum wanita menurut mazhab Syafi'i di dalam kitab Mughnil Muhtaaj, Vol.1, hlm.220; dibolehkan atas izin suami dan tidak memakai parfum, meskipun rumah tetap lebih baik bagi mereka.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW: "Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk keluar ke masjid, meskipun rumah mereka lebih baik untuk mereka." Dalam teks lain berbunyi: "Jika para istri kalian meminta izin untuk keluar ke masjid di malam hari, maka berilah mereka izin." (HR Semua imam hadits kecuali Ibnu Majah).

Ada pula hadits dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. bersabda :"Janganlah kalian melarang para wanita Allah ke masjid Allah, dan hendaknya mereka keluar tanpa memakai parfum." (HR.Ahmad dan Abu Dawud). Menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya, Rawatib, Tahajjud dan Dhuha, maka seseorang dikelompokkan pada kelompok hamba Allah yang istqomah, konsisten dengan pernyataan atau komitmentnya sejak di alam ruh.

===

Tonton Video Terbaru di Youtube Sriwijaya Post! Dont Forget Like, Comment, Subscribe and Share!
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved