Quantum Ikhlas
Seorang muslim yang beruntung dalam perspektif agama adalah orang yang meningkat kualitas dan nilai keshalihannya.
Tapi sebaliknya, kekerasan, keangkuhan, kejantanan itu adalah sebuah kelemahan.
Apalagi kesombongan, kata Rasul SAW, seseorang yang terdapat kesombongan dalam jiwanya, tidak akan pernah mencium bau surga, apalagi masuk ke dalamnya.
Tapi kelembutan seperti air dan halus seperti udara, itulah yang paling istimewa di mata Allah SWT.
Kemudian dilanjutkan dalam hadits tersebut bahwa para malaikat kembali bertanya : "Apakah masih ada yang lebih kuat dan hebat daripada udara, ya Allah?". Allah SWT menjawab : "Ada, dan ini yang paling hebat, tidak ada lagi yang lebih hebat sesudahnya". "Apa itu, ya Allah?".
Para malaikat bertanya. "Anak Adam yang bershadaqah dengan tangan kanannya, tapi tidak diketahui oleh tangan kirinya". Ikhlas adalah sebuah kekuatan yang paling kuat di mata Allah SWT.
Jadi orang yang ikhlas itu lebih besar daripada gunung; lebih kuat dari besi; lebih punya power daripada api; lebih bertenaga dari air; bahkan lebih dahsyat daripada udara.
Di antara implementasi ikhlas adalah merahasiakan dan menyembunyikan kebaikan.
Selama seseorang masih panen pujian dan menikmati terima kasih yang banyak dari orang lain atas kebaikan yang ia lakukan, jangan-jangan ia belum termasuk dalam kategori mukhlis yang dimaksudkan dalam hadits di atas.
Banyak orang yang bangga dengan banyaknya ucapan terima kasih yang ia terima dari orang lain, berkat jasa dan kebaikan yang telah ia lakukan.
Tapi perlu dicatat, bahwa boleh jadi semakin banyak orang yang berterima kasih itu adalah pertanda bahwa semakin banyak prestasi ibadah dan kebaikan yang telah ia bocorkan kepada orang lain.
Orang yang menikmati pujian dari ibadahnya, --menurut para ulamathariqat, pertanda masih ada hijab antara dirinya dengan Allah SWT.
Akibatnya, dikhawatirkan, kelak di akhirat ia tidak dapat mengetam, padahal telah sekian banyak ia telah menanam. Bukankah menanam tapi tak mengetam adalah bentuk dari sebuah kebangkrutan?
Oleh karena itu, jangan bangga dengan banyaknya terima kasih yang diperoleh, sebab boleh jadi itu adalah sebuah bukti dari ketidak-ikhlasan.
Padahal hadits di atas menunjukkan bahwa implementasi ikhlas itu adalah menyembunyikan kebaikan, seperti orang yang menyumbang tangan kanannya, tapi tangan kirinya saja tidak tahu, apalagi orang lain.
Ibnu 'Athaillah dalam kitab "Al-Hikam" mengatakan : "Tanamlah kebaikan sebanyak mungkin di bumi dengan ketidak-terkenalan, jika ingin panen nanti di akhirat. Karena seluruh amal kebaikan yang ditanam di bumi dengan keterkenalan, hanya akan panen di dunia, tidak lagi panen di akhirat". Qs. Ali Imran : 145 menyebutkan : "Dan barangsiapa yang mengharapkan balasan dunia, Kami pasti berikan dan barangsiapa yang mengharapkan balasan akhirat Kami pasti akan berikan. Dan Kami pasti akan membalas orang-orang yang bersyukur".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jhon1_20180906_095611.jpg)