Quantum Ikhlas
Seorang muslim yang beruntung dalam perspektif agama adalah orang yang meningkat kualitas dan nilai keshalihannya.
Orang yang beramal shalih dan mengharapkan kebaikan-kebaikan jangka pendek di dunia dari kebaikannya adalah tak ubahnya seperti orang yang membawa wadah yang bocor.
Ketika nanti menghadap Allah SWT, ia akan bertanya "kemana pahala amal ibadah yang sekian banyak yang telah aku kerjakan di dunia?".
Para malaikat menjawab : "Wadahmu bocor. Ketika di dunia ini engkau sudah dipuji orang dan engkau menikmati pujian-pujian itu. Itu berarti kamu sudah mendapatkan pahalanya".
Oleh karena itu, setiap mukmin haruslah meningkatkan kualitas ibadah dan kebaikan salah-satunya adalah dengan cara menyembunyikan kebaikan, satu persatu.
Semakin hanya Allah SWT saja yang tau kebaikan yang dilakukan, maka semakin bernilai dan berkualitas di sisi Allah SWT.
Di dalam Al Qur'an terdapat dua kategori keikhlasan, yakni al-mukhlish dan al-mukhlash.
Orang yang ikhlash dalam kategori mukhlish adalah orang yang masih mengingat kebajikan-kebajikan yang pernah ia lakukan, sehingga peluang-peluang untuk bocor karena riya’ di kemudian hari masih bisa terjadi.
Kasus kebocoran ini misalnya seseorang yang beramal dengan membiayai sekolah seorang anak yatim. Ketika sang anak telah menjadi sukses dan berhasil, ia mengatakan kepada temannya : "Dia itu, dulu saya yang membiayai pendidikannya. Jika saat itu, saya tidak membiayai sekolahnya, mungkin dia tidak akan menjadi sukses dan sehebat seperti sekarang ini".
Pada awalnya ia mampu beramal ikhlas dan merahasiakan kebaikannya, namun ternyata jebol kemudian seiring perjalanan waktu. Inilah ikhlas dalam kategori mukhlish, belum bebas iblis.
Maka itu, bila betul-betul ingin menjadi orang yang ikhlas, persis seperti yang dikatakan Rasul SAW. "menyumbang tangan kanannya, tangan kirinya tidak tahu", lupakanlah semua kebaikan, agar tidak teringat untuk dibocorkan di kemudian hari.
Orang yang sudah melupakan semua ibadah kebaikan dan semuanya semata-mata karena Allah SWT, itulah orang yang disebut ikhlash dengan kategori al-mukhlas.
Ketika Allah SWT telah memvonis iblis sebagai penghuni tetap neraka, ia berdo'a kepada Allah SWT. : "Ya Allah, panjangkan umurku, sehingga aku mampu menyesatkan sebanyak-banyaknya manusia untuk menjadi temanku di neraka kelak". Lalu do'a iblis diperkenankan oleh Allah SwT.
Maka iblis bersumpah : "Aku akan menyesatkan seluruh umat manusia di bumi dengan segala kekuatanku. Kecuali orang yang "mukhlash" di antara hamba-hambaMu (Qs. al-hijr : 34-40). Begitu kuat dan hebatnya seorang yang ikhlash itu, sehingga iblis-pun tidak mampu untuk merusaknya.
Bila ingin terjadi peningkatan prestasi dan kualitas dalam ibadah dan keshalihan, maka belajarlah menjadi pribadi yang mukhlash.
Di antara caranya adalah dengan merahasiakan setiap kebaikan, lalu segeralah melupakan kebaikan-kebaikan itu, sehingga tidak memberi peluang jebol di kemudian hari.
Dunia adalah media untuk menanam semua macam kebaikan, sementara akhirat adalah musim dan tempat untuk mengetam. Karenanya, ikhlaslah dalam beramal. Insya Allah, kita akan mengetam. Wallahu a'lam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jhon1_20180906_095611.jpg)