Gema yang Tak Akan Terdengar Lagi
"Tak pernah kita pikirkan kelak akan sampai pada kepunahan, Begitu pula pikirannya burung Dodo dahulu kala."
Bahasa Palembang dan beberapa bahasa daerah sekitarnya pun sudah lama mengenal tulisan Jawi, tetapi penggunaannya terbatas pada bidang agama Islam, apalagi tulisan Jawi pada zaman sekarang tidak aktif dipakai lagi dalam sehari-hari.
Terlebih, generasi muda tidak berminat belajar aksara-aksara mereka lagi.
Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan aksara pun tidak menjamin satu bahasa lokal aman dari ancaman kepunahan.
Banyak orang tidak begitu menyadari kepunahan bahasa tidak jauh berbeda dengan kepunahan jenis hewan dan tumbuhan di alam raya ini.
Pakar-pakar linguistik menitikberatkan bahwa di kawasan yang memiliki berbagai jenis hewan dan tumbuhan dengan jumlahnya yang sangat banyak lazim sistem ekologinya berhubungan erat dengan adanya bahasa-bahasa lokal setempat.
Istilah petunjuk, info atau pengetahuan atas berbagai jenis hewan dan tumbuhan di suatu tempat merujuk pada terkandungnya bahasa lokal dalam masyarakat penutur tersebut.
Oleh sebab itu, jika suatu bahasa lokal tidak akan digunakan, maka banyak data info atas alam setempat pun akan susah ditanggulangi kepunahannya.
Kawasan pasifik di garis katulistiwa, yakni Nusantara umumnya merupakan satu-satunya kawasan di atas bumi yang memiliki sistem ekologi yang sangat aktif sehingga memiliki berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang jumlahnya sangat beragam.
Di Sumatera, yang bagian tengahnya dilalui garis katulistiwa, jenis hewan dan tumbuhan sangatlah banyak sehingga pernah berperan besar sebagai tempat pusat yang menghasilkan komoditi dari hewan
dan tumbuhan yang beragam untuk perdagangan antarbangsa sejak zaman Sriwijaya.
Tidak hanya dari segi ekologi, berbagai aspek dari kegiatan budaya pun tercermin melalui bahasa-bahasa lokal yang bersangkutan.
Kesastraan bersamaan dengan dongeng, cerita rakyat, idiom, teka-teki, pepatah, puisi, atau pantun di Indonesia lazim dianggap oleh para linguis sebagai sebuah bunga yang dikembangkan dari penuturan bahasa-bahasa daerah yang sangat beraktivitas.
Pada abad ke-16, petualang-petualang Eropa yang pernah mengunjungi Nusantara, keheranan terhadap literasi di Indonesia saat itu sudah berkembang tinggi.
Jika mengingat keberadaan 700-an bahasa bersamaan dengan penggunaannya 20-an jenis aksara sejak abad ke-5, dapat diperkirakan bahwa literasi di Nusantara pada abad ke-16 sudah jauh lebih berkembang daripada Eropa yang baru dapat mengakses umum pengaksaraan setelah Gutenberg menciptakan acuan huruf logam pada abad pertengahan ke-15.
Keberagaman bahasa dan aksara lokal sudah menjadi sebuah fondasi sekaligus bukti untuk mengembangkan beragam kesastraan sehingga meningkat tinggi literasinya di Indonesia sejak zaman dahulu.
Menurut info dari Balai Bahasa Sumatera Selatan, sekitar 230-an sastra yang berbentuk jenis lisan pernah didokumentasikan di Provinsi Sumatera Selatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/cho_20181028_175801.jpg)