Keypad HADI PRAYOGO

Disrupsi Politik, Caleg Harus Gunakan Cara dan Norma Baru Jika Ingin Menang

Disrupsi meminjam istilah pengamat ekonomi paling beken saat ini Rhenald Kasali adalah sebuah perubahan mendasar yang membuat sebuah organisasi

Tayang:
Penulis: Hadi Prayogo | Editor: Siti Olisa
SRIPOKU.COM/HADI PRAYOGO
Hadi Prayogo Dirut Sriwijaya Post/Kepala Newsroom Sripo-Tribun Sumsel/Ketua KG Sumbagsel 

Kini, guru tidak mungkin mampu bersaing dengan mesin dalam hal melaksanakan pekerjaan hapalan, hitungan, hingga pencarian sumber informasi.

Mesin jauh lebih cerdas, berpengetahuan, dan efektif dibandingkan kita karena tidak pernah lelah melaksanakan tugasnya.

Karena itu, fungsi guru bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itulah yang tidak dapat diajarkan oleh mesin.

Jika tidak, wajah masa depan pendidikan kita akan suram.

Guru perlu untuk memulai mengubah cara mereka mengajar, meninggalkan cara-cara lamanya serta fleksibel dalam memahami hal-hal baru dengan lebih cepat.

Demikian juga para politisi terutama yang saat ini sedang bersiap bertarung dalam Pileg harus
pula mempersiapkan perubahan cara dan norma berpolitik atau disrupsi politik.

Yang pertama, ubah bahwa menjadi seorang legislatif itu sebuah pekerjaan untuk menjadi kaya mendadak. Menjadi legislatif adalah memperjuangkan hak dan aspirasi rakyat.

Sangat jarang seorang Caleg dalam sosialisasi dan kampanye mengetengahkan program berjuang untuk rakyat. Yang ditonjolkan casing foto berbagai gaya dan sisi sehingga dia kelihatan menawan.

Ini yang mengakibatkan jika seorang keren dalam penampilan langsung dikomentari kenapa tidak menjadi Caleg atau maju dalam Pilkada.

Stop politik uang, mulai kembangkan program yang menyentuh rakyat dan konsisten ketika terpilih duduk jadi wakil rakyat.

Yang ada saat ini anggota dewan mementingkan diri dan partainya, bisa dilihat berapa Raperda menjadi Perda hasil sidang DPRD dalam kurun waktu lima tahun bekerja.

Yang sering kita lihat justru, oknum anggota dewan kena OTT KPK karena korupsi atau disuap atau bahkan yang miris tertangkap selingkuh dan lain-lain yang merusak citra lembaga legislatif.

Gunakan teknologi kekinian misal Facebook, Instagram , Grup WhatsApp, Line dan lainnya.

Sampaikan program pro rakyat ke berbagai platform bukan hanya sosialisasi dan kampanye di media cetak tapi juga di online dan sosial media termasuk YouTube.

Sehingga antar Caleg adu program menarik. Misal tagline Berjuang Palembang Bebas Banjir atau Siap Mundur Jika Ada Rakyat Tergusur, dan lainnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved