Suhu Politik

Mengkritik dan Dikritik Dalam Ranah Berbangsa dan Bernegara

Belakangan, berita politik yang lagi heboh dan viral menjadi pembicaraan publik adalah pernyataan tokoh politik nasional Amin Rais,

Mengkritik dan Dikritik Dalam Ranah Berbangsa dan Bernegara
ist
Ki Joko Siswanto 

Sering kali isi kritik memang asal bunyi atau asal beda dengan kekuasaan atau yang dikritik.

Yang penting pihak yang dikritik kelimpungan dan dirinya mendapat apresiasi publik.

Itulah sebabnya para pengritik ini selalu berusaha mencari panggung agar bisa melontarkan kritik-kritiknya.

Kondisi seperti ini akan semakin semarak oleh dukungan media massa yang suka kepada hal-hal kontroversial dan menjadikan mereka yang suka melakukan kritik dan selalu bertentangan dengan pemerintah ini dijadikan nara sumber atau diminta opininya.

Publik dan media sudah paham seperti apa perilaku dan tutur kata Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Amin Rais sebagai tokoh-tokoh elite politik yang selalu berseberangan dengan pemerintah.

Akan berbeda jika pihak pendukung pemerintah yang melakukan kritik.

Mereka akan melakukan kritik secara tertutup dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan.

Oleh karena itu, isi kritik dan cara penyampaian kritik tidak perlu sensaional, tidak perlu mencari panggung, tidak perlu koar-koar melalui media massa, tidak perlu mencari simpati dan dukungan publik.

Yang utama dan penting isi kritik bisa diterima dan tidak mempermalukan pemerintah/penguasa.

Selain isi kritik harus berdasar data dan logis, siapa yang menyampaikan kritik dan cara penyampaian kritik harus dipertimbangkan dengan matang.

Di kalangan seniman (musikus, komedian, dramawan, dan lain-lain) sering melontarkan kritik tajam kepada pemerintah (kekuasaan) tetapi disikapi dengan ketawa dan sebagai kontrol positif dan tidak direspon atau dilawan secara negatif oleh pemerintah.

Misalnya, musikus Iwan Fals, syair lagu-lagunya dikenal penuh kritik sosial dan politik kepada penguasa, seperti lagu dengan judul WaKil Rakyat, tapi tidak menjadikan wakil rakyat (anggota DPR/D) menjadi marah, karena waktu itu fakta memang demikian dan disampaikan dengan lagu.

Dramawan WS Rendra dengan lakon Sekda di jaman orde baru sangat keras kritiknya kepada pemerintah saat itu, namun tetap dibolehkan pentas karena dikemas secara arstistik dan humor.

Komedian Butet, Slamet Rahardjo, Cak Lonthong, grup Sri Mulat, dalang wayang kulit dan para pelaku seni lainnya sering melakukan kritik kepada pemerintah dan kondisi sosial politik dalam pentas-pentasnya, tetapi kritik para seniman tersebut ditanggapi oleh pemerintah dengan positif dan suasana senang karena disampaikan dengan bahasa kemasan humor yang tidak menyakitkan, tetapi menghibur.

Jadi kritik bisa menjadi hiburan jika mampu mengemas dengan baik dan menyenangkan. 

Sebetulnya kalau belajar dari kearifan dan budaya lokal, khususnya budaya Jawa, ada warisan perilaku budaya cara menyampaikan kritik yang tidak menyakiti penerima kritik dan tidak mengganggu suasana (masyarakat) menjadi kacau dan heboh. \

Ungkapan atau paribasan (peribahasa) kena iwakke aja nganti buthek banyune (ikan tertangkap tetapi air jangan keruh) merupakan ajaran yang bisa diterapkan dalam melakukan kritik.

Tujuan kritik tercapai, yakni bisa diterima oleh penerima kritik, tetapi tidak menimbulkan heboh atau gaduh masyarakat.

Artinya, jika akan melakukan kritik hendaknya bisa bersikap empan papan (tahu tempat, tahu waktu dan tahu cara) dan tidak hantam kromo (semauanya sendiri), misalnya, bertemu/menghadap langsung dengan yang mau dikritik, tidak mempermalukan yang kritik dan dengan bahasa yang santun dengan didukung data/fakta, maka kritik akan bisa diterima alias berhasil.

Selain itu, ada ungkapan juga ngono ya ngono ning aja ngono (begitu ya begitu tetapi jangan begitu).

Kalimat ini mempunyai makna yang dalam karena harus diterjemahkan dengan melihat konteks masalah yang dihadapi.

Jika diterapkan dalam seni melakukan kritik bisa dimaknai atau dijabarkan silahkan melakukan kritik, boleh-boleh saja melakukan kritik, tetapi hendakmnya memperhatikan isi kritik, siapa yang dikritik dan bagaimana cara mengritiknya, bukan asal bunyi atau asal mbacot (ngomong).

Ini merupakan ajaran untuk bisa bersikap toleransi yang tinggi sehingga antara yang melakukan kritik dan yang menerima kritik tidak ada dendam dan akhirnya tujuan kritik untuk memperbaiki keadaan dan hasil karya bisa tercapai.

Kepada siapa kritik itu ditujukan juga perlu diperhatikan agar kritik bisa efektif, tidak menyakitkan dan bisa diterima.

Dalam kultur Jawa ada ungkapan semu bupati, esem mantri dugang/dhupak bujang (ekspresi wajah/sikap tubuh atau isyarat untuk bupati, tersenyum kecil untuk mantri dan ditendang untuk pembantu/abdi/pelayan/bawahan).

Maknannya, dalam konteks melakukann kritik harus dilihat strata atau status sosial dan jabatan/kedudukan seseorang yang dikritik.

Asumsinya, semakin tinggi status sosial dan kedudukannya dianggap semakin mempunyai perasaan yang lebih halus, lebih peka, lebih mengerti permasalahan, lebih pintar, lebih santun, dan lebih-lebih tentang hal hal lainnya.

Oleh karena itu, ketika yang dihadapi bupati (kedudukannya tinggi) maka seorang raja kalau menegur bupati tidak perlu ngomong, tetapi cukup dengan semu atau menunjukkan ekspresi wajah tertentu atau bahasa tubuh tertentu atau isyarat tertentu saja.

Bupati dengan melihat wajah atau bahasa tubuh raja sudah paham maksudnya, dan segera akan mawas diri, memperbaiki diri atau evaluasi terhadap tugas dan hasil karyanya. Jadi, teguran atau nkritik sampai dan tidak heboh atau gaduh.

Dengan mantri yang berstatus sosial lebih rendah dari bupati, maka raja harus tersenyum kecil.

Untuk ukuran mantri tidak akan tanggap dan paham hanya dengan pasemon atau bahasa tubuh dan isyarat.

Untuk itu, perlu tindakan yang lebih riil tetapi tetap menghormati yang dikritik atau yang ditegur, yakni dengan tersenyum kecil yang penuh makna.

Dengan melihat raja tersemyum kecil terhadap dirinya, maka sang mantri sudah mengerti apa yang dimaksud oleh rajanya dan segera akan merubah dan melakukan evaluasi diri baik mungkin perilaku dan atau kinerjanya.

Jadi, raja tidak perlu banyak omong, cukup pasemon dan esem untuk menegur atau mengritik bupati dan mantri. Dan ini efektif, berhasil, tidak gaduh dan humanis.

Nah, raja baru menendang, dalam hal ini berupa tindakan ngomong jelas dan gamblang jika yang dihadapi adalah mereka atau orang-orang yang berstatus sosial rendah seperti bujang (bawahan/pegawai/pembantu/abdi/buruh/budak) yang status sosialnya rendah dengan asumsi mereka bodoh dan kurang peka terhadap permasalahan yang dihadapi.

Oleh karena itu, bahasa yang digunakan untuk menegur atau mengritik bujang harus bahasa yang vulgar, jelas, gamblang, tidak bertele-tele, tegas agar bisa dimengerti oleh mereka dan agar efektifr.

Mereka tidak akan tanggap dan mengerti jika raja bersikap dengan pasemon dan esem. Jadi, semakin tinggi kedudukan sosial seseorang baik yang melakukan kritik dan yang dikritik tidak perlu disampaikan secara vulgar agar sisi etika dan estetika serta suasana guyub rukun tetap terjaga. Yang penting isi kritik bisa diterima dan ada perbaikan situasi.

Bangsa Indonesia mempunyai perilaku budaya yang adiluhung dan kearifan lokal warisan leluhur bangsa yang patut untuk dihormati dan dijalankan karena sangat mendukung iklim demokrasi Indonesia yang Pancasila, bukan semata-mata demokrasi Barat yang liberalistis.

Jadi, jika ada pihak yang berstatus sosial tinggi melakukan kritik kepada yang juga berstatus sosial tinggi dengan bahasa yang vulgar maka pihak yang melakukan kritik tersebut bisa dikatakan sudah tercerabut dari akar budayanya dan itu sudah sangat tidak tepat untuk budaya politik yang sudah terbuka seperti saat ini.

Bagi yang menerima kritik (pemerintah) hendaknya juga harus pandai melihat siapa pihak yang melakukan kritik.

Jika karakter yang melakukan kritik bertujuan untuk menjatuhkan atau melemhkan dan pihak tersebut memang senang serta biasa membuat gaduh dan publik pun sudah mengetahuinya, sebaiknya pemerintah tidak perlu berlebihan dalam meresponnya namun tetap diwaspadai dan dicermati perilakunya.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved