Suhu Politik
Mengkritik dan Dikritik Dalam Ranah Berbangsa dan Bernegara
Belakangan, berita politik yang lagi heboh dan viral menjadi pembicaraan publik adalah pernyataan tokoh politik nasional Amin Rais,
Sering kali isi kritik memang asal bunyi atau asal beda dengan kekuasaan atau yang dikritik.
Yang penting pihak yang dikritik kelimpungan dan dirinya mendapat apresiasi publik.
Itulah sebabnya para pengritik ini selalu berusaha mencari panggung agar bisa melontarkan kritik-kritiknya.
Kondisi seperti ini akan semakin semarak oleh dukungan media massa yang suka kepada hal-hal kontroversial dan menjadikan mereka yang suka melakukan kritik dan selalu bertentangan dengan pemerintah ini dijadikan nara sumber atau diminta opininya.
Publik dan media sudah paham seperti apa perilaku dan tutur kata Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Amin Rais sebagai tokoh-tokoh elite politik yang selalu berseberangan dengan pemerintah.
Akan berbeda jika pihak pendukung pemerintah yang melakukan kritik.
Mereka akan melakukan kritik secara tertutup dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan.
Oleh karena itu, isi kritik dan cara penyampaian kritik tidak perlu sensaional, tidak perlu mencari panggung, tidak perlu koar-koar melalui media massa, tidak perlu mencari simpati dan dukungan publik.
Yang utama dan penting isi kritik bisa diterima dan tidak mempermalukan pemerintah/penguasa.
Selain isi kritik harus berdasar data dan logis, siapa yang menyampaikan kritik dan cara penyampaian kritik harus dipertimbangkan dengan matang.
Di kalangan seniman (musikus, komedian, dramawan, dan lain-lain) sering melontarkan kritik tajam kepada pemerintah (kekuasaan) tetapi disikapi dengan ketawa dan sebagai kontrol positif dan tidak direspon atau dilawan secara negatif oleh pemerintah.
Misalnya, musikus Iwan Fals, syair lagu-lagunya dikenal penuh kritik sosial dan politik kepada penguasa, seperti lagu dengan judul WaKil Rakyat, tapi tidak menjadikan wakil rakyat (anggota DPR/D) menjadi marah, karena waktu itu fakta memang demikian dan disampaikan dengan lagu.
Dramawan WS Rendra dengan lakon Sekda di jaman orde baru sangat keras kritiknya kepada pemerintah saat itu, namun tetap dibolehkan pentas karena dikemas secara arstistik dan humor.
Komedian Butet, Slamet Rahardjo, Cak Lonthong, grup Sri Mulat, dalang wayang kulit dan para pelaku seni lainnya sering melakukan kritik kepada pemerintah dan kondisi sosial politik dalam pentas-pentasnya, tetapi kritik para seniman tersebut ditanggapi oleh pemerintah dengan positif dan suasana senang karena disampaikan dengan bahasa kemasan humor yang tidak menyakitkan, tetapi menghibur.
Jadi kritik bisa menjadi hiburan jika mampu mengemas dengan baik dan menyenangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/joko_20170531_102046.jpg)