Ajaran Tarekat

Bertarekat Itu Keren Bagi Yang Menikmatinya

Mengapa orang harus bertarekat dan apa nikmatnya bertarekat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab.

Editor: Salman Rasyidin
SRIPO/WAHYU
H. Hendra Zainuddin. M.Pd.I 

Dengan bertarekat, para salikin akan dituntut oleh mursyidnya untuk beribadah kepada Allah SWT dengan benar.

Baik secara syariat, tarekat, dan hakikat.

Karena tidak ada satupun syaikh tarekat yang menyuruh muridnya untuk meninggalkan syariat dan mengamalkan hakikat saja.

Kalaupun ada, maka golongan ini dinamakan dengan mutashowsif atau pseudo sufi (sufi gadungan) karena ulama-ulama tasawuf sering mendengungkan ungkapan;

"Barang siapa berfikih tidak berhakikat, maka fasiq dan barangsiapa berhakikat tanpa berfikih, maka zindiq".

Pseudosufi adalah orang yang sudah masuk ke dalam dua syair di atas dan acapkali tuduhan miring tentang praktik-praktik sufi dan kepada orang-orang sufi muncul dari sini.

Di dalam tarekat terdapat Syaikh Mursyid (guru), zikir dan salikin (penganut tarekat).

Jika guru diibaratkan dokter, zikir adalah obat, maka salikin adalah pasien-pasien yang sakit dan ingin disembuhkan penyakit-penyakit hati dan batinnya.

Dengan mengikuti bimbingan guru, diharapkan para salikin bisa menjadi muslim yang progresif, lebih peka terhadap masalah-masalah umat.

Di samping itu juga engaplikasian ibadah-ibadah syariat seperti shalat, puasa, zakat, haji lebih dimotivasi untuk lebih giat dan benar dibawah bimbingan sang guru atau mursyid.

Mursyid bukanlah sembarang guru. Ia adalah orang-orang yang memiliki dua ciri lahir, yaitu rahmatan dari Allah dan ilmu laduni.

Seperti disebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 65 menerangkan; "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (QS. al-Kahfi: 65).

Ilustrasi
Ilustrasi (ist)

Dari sini bisa kita tarik kesimpulan bahwa bertarekat itu mengasyikkan (enjoy) sebagai sarana bagi seseorang yang berusaha untuk ingin lebih memantapkan dan menggiatkan di dalam ibadah syariatnya supaya benar, baik secara lahiriah (memenuhi syarat dan rukun-rukunnya) dan juga batiniah (tarekatnya beribadah untuk mencari ridla Allah SWT, hakekatnya hanya Allah lah semata yang menggerakkan kita), sehingga terjadi singkronisasi antara keduanya; lahir dan batin.

Jadi tidaklah benar tuduhan-tuduhan miring dari sebagian orang yang mengatakan bahwa praktik-praktik sufi tarekat itu adalah sesat, bid’ah dan kehidupan bersufi hanya membawa kemunduran agama dan kehidupan berbangsa.

Sebaliknya, bila kita melihat sejarah Syaikh Arsyad al-Banjari, ulama terkemuka Indonesia abad ke-18 M yang terjun langsung bersama Sultan Agung Tirtayasa Banten dalam memimpin peperangan melawan kolonial Belanda, sehingga ia ditangkap dan harus diasingkan ke Ceylon Srilangka. Kemudian, karena masih dianggap berbahaya beliau diasingkan ke Kapeton (Tanjung Harapan) Afrika Utara.

Demikian juga halnya Syaikh KH. Ahmad Rifai bin Muhammad Markhum, Pahlawan Nasional, adalah tokoh ulama kharismatik di Jawa abad ke-19 M yang telah berhasil menanamkan kebenaran di hati murid-muridnya tentang keharusan ingkar terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Sehingga, ulama produktif ini (karena telah menulis lebih dari 62 judul kitab tentang Ushul, Fiqih, Tasawuf madzhab Syafii berbahasa Jawa dan Melayu) harus dipenjara kemudian diasingkan ke Batu Merah Ambon Maluku, terus dibuang sampai Kampung Jawa Tondano Minahasa bersama Kiai Modjo.

Bahkan Khadlaratussyaikh Hasyim Asyari, Pahlawan Nasional dan juga sebagai ulama harismatik pendiri Nahdlatul Ulama ini adalah murid KH. Kholil Bangkalan Madura yang setia pada jalan tarekat.

Masih banyak lagi ulama tokoh sufi terkemuka di Indonesia yang ternyata adalah penganut tarekat atau bahkan Syaikh tarekat itu sendiri. Wassalam.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved