Breaking News

Ajaran Tarekat

Bertarekat Itu Keren Bagi Yang Menikmatinya

Mengapa orang harus bertarekat dan apa nikmatnya bertarekat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab.

Editor: Salman Rasyidin
SRIPO/WAHYU
H. Hendra Zainuddin. M.Pd.I 

Dalam hal mengikuti organisasi tarekat atau mengamalkan ajaran, selama ini mungkin muncul anggapan di antara kita bahwa tarekat itu suatu praktik amaliyah yang rumit dan eksklusif atau tertutup.

Bahkan ada pendapat yang ekstrim bertarekat itu harus menyendiri di tempat yang sunyi dalam mengamalkan ajaran tarekatnya, sehingga kita tidak bisa bekerja lain hanya dzikir atau praktik amaliyah lainnya yang membutuhkan waktu yang lama.
Sehingga kita lalai untuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga (menelantarkan keluarga).

Atau mungkin ada pula anggapan bahwa penganut suatu ajaran tarekat harus menggunakan simbol-simbol tertentu yang berbeda dengan umat muslim lainnya serta meninggalkan semua kehidupan du niawi yang dianggap :kotor".
Pada kenyataannya, anggapan semacam itu tidak seluruhnya benar.

Penganut tarekat, khususnya tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah tidaklah harus meninggalkan kehidupan duniawi.

Sebab mencari nafkah untuk keluarga dan kehidupan duniawi merupakan salah satu sarana atau alat untuk kita lebih tekun beribadah pada Allah SWT.

Pun, ajaran tarekat ini tidak eksklusif dan "mengasingkan" diri atau menggunakan simbol-simbol keagamaan tertentu.

Bagi panganut tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, misalnya, sangat ditekankan agar menjalani kehidupan di dunia ini haruslah secara normal.

Boleh jadi, ia berprofesi sebagai pengusaha, pejabat, banker, dokter, dosen, guru, atau profesi lainnya, tidak-lah menghalanginya untuk mengikuti atau mengamalkan ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah.

Sebab sebagaimana dijelaskan di atas, inti ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah adalah dzikrullah (mengingat Allah SWT) di mana dan kapan pun kita berada.

Dzikrullah merupakan latihan psikologis (riyadah al-nafs) agar seseorang dapat mengingat Allah SWT di setiap waktu dan kesempatan.

Sumber ajarannya tidak terlepas dari al-Qur'an, Rasulullah SAW dan teladan para Salafus Shalihin. Di kalangan Jamiyah Ahli Al Thariqah Al-Muktabarah Al-Nahdliyyah (JATMAN-NU), tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah termasuk dari 45 tarekat mu'tabaroh (tarekat yang absah).

Bertarekat Itu Mengasyikkan

Dewasa ini perkembangan tarekat-tarekat sufi di negara-negara dunia mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Meski di sisi lain, acap kali praktik-praktik tarekat sufi sering mendapat kritikan pedas bahkan ada anggapan bernada miring oleh sebagian umat muslim.

Tudingan-tudingan miring ini disebabkan ketidaktahuan mereka tentang prakik-praktik tarekat sufi.
Karena mereka mendapatkan informasi dari hanya membaca tulisan-tulisan pemikir atau membaca buku-buku saja tanpa terjun langsung dalam praktik tarekat.

Tuduhan tersebut tegas ditolak oleh Azyumardi Azra (1999), yang menyatakan bahwa justru tokoh-tokoh sufilah yang menuntun umat menjadi lebih progresif di dalam berbagai hal kebaikan dan agresif dalam menolak segala kemungkaran dengan cara-cara yang lebih rahmat.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved