Ajaran Tarekat
Bertarekat Itu Keren Bagi Yang Menikmatinya
Mengapa orang harus bertarekat dan apa nikmatnya bertarekat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab.
Dan dzikir tersebut akan menggantikannya dengan rasa kenikmatan, keharmonisan (ketentraman), kebahagiaan, dan kelapangan.
Selanjutnya, yang maksud dalam firman-Nya "hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" adalah sudah nyata, dan sudah sepantasnya hati (manusia) tidak akan pernah merasakan ketentraman, kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah SWT.
Bahkan, sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati yang hakiki. Dzikir merupakan makanan pokok bagi hati dan ruh.
Apabila (jiwa) seseorang kehilangan dzikir ini, maka ia hanya bagaikan seonggok jasad yang jiwanya telah kehilangan makanan pokoknya.
Sehingga tidak ada kehidupan yang hakiki bagi sebuah hati, melainkan dengan dzikrullah (mengingat Allah).
Jelaslah sesungguhnya tidak ada penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu gelisah, resah, dan gundah, melainkan hanya dengan dzikrullah.
Dzikrullah inilah yang menjadi inti ajaran tarekat, khususnya tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Inti Tarekat Dzikrullah Namun di era modern atau globalisasi saat ini terkadang tidak sedikit kaum Muslimin yang belum memahami hal ini.
Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi dengan mendatangi tempat hiburan malam, minum-minuman keras hingga mengkonsumsi narkoba dan main perempuan.
Padahal kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki tidaklah mungkin dihasilkan, melainkan hanya dengan dzikrullah.
Menurut Syaikh Ibnul Qayyim, sesungguhnya, hati tidak akan (merasakan) ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dengan Allah SWT (dengan melakukan ketaatan kepada-Nya).
"Barangsiapa yang tujuan utama (dalam hidupnya), kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dari-Nya, kelezatan dari-Nya, kemuliaan dari-Nya, dan kebahagiaan dari-Nya untuk selama-lamanya".
Kadar kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa seseorang, itu sangat bergantung kepada sejauh mana kedekatannya kepada Allah.
"Orang yang paling mulia jiwanya, yang paling tinggi derajatnya dalam merasakan kelezatan (dalam hatinya), adalah (orang yang paling) mengenal Allah, yang paling mencintai Allah, yang paling rindu dengan perjumpaan dengan-Nya, dan yang paling (kuat) mendekatkan dirinya kepada-Nya dengan segala hal yang dicintai dan diridhai oleh-Nya," kata Ibnul Qayyim.
Itulah dzikrullah sebagai kunci utama untuk membuka hati seseorang dalam merealisasikan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwanya.
Dengan kata lain, orang yang paling berbahagia, tenteram, dan tenang jiwanya adalah seorang Muslim yang selalu berdzikir, bertauhid dan merealisasikan tauhidnya dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia ini, dan tidak merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman jiwa yang hakiki dan abadi, adalah orang yang tidak pernah berdzikir dan selalu bermaksiat kepada Allah SWT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/hendra-zainudin_20180116_175029.jpg)