Ajaran Tarekat
Bertarekat Itu Keren Bagi Yang Menikmatinya
Mengapa orang harus bertarekat dan apa nikmatnya bertarekat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab.
Bertarekat Itu Keren Bagi Yang Menikmatinya
Oleh: H. Hendra Zainuddin. M.Pd.I
Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dan Pimpinan/Pengasuh Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Palembang
Bagi orang yang belum mengikuti ajaran tareket tentu bertanya, apa itu tarekat?.
Mengapa orang harus bertarekat dan apa nikmatnya bertarekat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab.
Sebab berkaitan dengan "rasa", hati atau dalam bahasa kaum sufi disebut "dzauq" (pengalaman batin).
Berbeda halnya dengan orang yang telah mengikuti atau mengamalkan ajaran tarekat.
Ketika ia mengamalkan ajaran tarekat memiliki rasa nikmat, kebahagiaan dan ketentraman dalam dirinya.
Bahkan, kesempurnaan bertarekat seseorang ditandai kalau ia bisa merasakan bahwa bertarekat itu nikmat.
Karenanya, ia akan mengesampingkan segala kenikmatan duniawi untuk mencapai kenikmatan tersebut.
Kenikmatan bertarekat merupakan buah dari keimanan yang menancap kuat dalam dirinya melalui media dzikrullah (mengingat Allah SWT) sebagai inti bertarekat.
Dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, misalnya, dzikrullah merupakan media yang diyakini paling efektif dan efisien untuk menghantarkan pengamalnya kepada tujuan tertinggi, yakni Allah SWT.
Dalam surat ar-Ra'd ayat 28, Allah SWT berfirman,"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dalam kitabnya berjudul Al-Wabil ash-Shayyib, Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa di antara faidah dzikir adalah dapat mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, dan kelapangan bagi orang yang melakukannya, serta dapat melahirkan ketenangan dan ketenteraman di dalam hati orang yang melakukannya.
Makna firman Allah "dan hati mereka tenteram" adalah hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan dengan) kegelisahan dan kegundahan dari dalam hati.
Dan dzikir tersebut akan menggantikannya dengan rasa kenikmatan, keharmonisan (ketentraman), kebahagiaan, dan kelapangan.
Selanjutnya, yang maksud dalam firman-Nya "hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" adalah sudah nyata, dan sudah sepantasnya hati (manusia) tidak akan pernah merasakan ketentraman, kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah SWT.
Bahkan, sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati yang hakiki. Dzikir merupakan makanan pokok bagi hati dan ruh.
Apabila (jiwa) seseorang kehilangan dzikir ini, maka ia hanya bagaikan seonggok jasad yang jiwanya telah kehilangan makanan pokoknya.
Sehingga tidak ada kehidupan yang hakiki bagi sebuah hati, melainkan dengan dzikrullah (mengingat Allah).
Jelaslah sesungguhnya tidak ada penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu gelisah, resah, dan gundah, melainkan hanya dengan dzikrullah.
Dzikrullah inilah yang menjadi inti ajaran tarekat, khususnya tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Inti Tarekat Dzikrullah Namun di era modern atau globalisasi saat ini terkadang tidak sedikit kaum Muslimin yang belum memahami hal ini.
Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi dengan mendatangi tempat hiburan malam, minum-minuman keras hingga mengkonsumsi narkoba dan main perempuan.
Padahal kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki tidaklah mungkin dihasilkan, melainkan hanya dengan dzikrullah.
Menurut Syaikh Ibnul Qayyim, sesungguhnya, hati tidak akan (merasakan) ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dengan Allah SWT (dengan melakukan ketaatan kepada-Nya).
"Barangsiapa yang tujuan utama (dalam hidupnya), kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dari-Nya, kelezatan dari-Nya, kemuliaan dari-Nya, dan kebahagiaan dari-Nya untuk selama-lamanya".
Kadar kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa seseorang, itu sangat bergantung kepada sejauh mana kedekatannya kepada Allah.
"Orang yang paling mulia jiwanya, yang paling tinggi derajatnya dalam merasakan kelezatan (dalam hatinya), adalah (orang yang paling) mengenal Allah, yang paling mencintai Allah, yang paling rindu dengan perjumpaan dengan-Nya, dan yang paling (kuat) mendekatkan dirinya kepada-Nya dengan segala hal yang dicintai dan diridhai oleh-Nya," kata Ibnul Qayyim.
Itulah dzikrullah sebagai kunci utama untuk membuka hati seseorang dalam merealisasikan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwanya.
Dengan kata lain, orang yang paling berbahagia, tenteram, dan tenang jiwanya adalah seorang Muslim yang selalu berdzikir, bertauhid dan merealisasikan tauhidnya dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia ini, dan tidak merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman jiwa yang hakiki dan abadi, adalah orang yang tidak pernah berdzikir dan selalu bermaksiat kepada Allah SWT.
Dalam hal mengikuti organisasi tarekat atau mengamalkan ajaran, selama ini mungkin muncul anggapan di antara kita bahwa tarekat itu suatu praktik amaliyah yang rumit dan eksklusif atau tertutup.
Bahkan ada pendapat yang ekstrim bertarekat itu harus menyendiri di tempat yang sunyi dalam mengamalkan ajaran tarekatnya, sehingga kita tidak bisa bekerja lain hanya dzikir atau praktik amaliyah lainnya yang membutuhkan waktu yang lama.
Sehingga kita lalai untuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga (menelantarkan keluarga).
Atau mungkin ada pula anggapan bahwa penganut suatu ajaran tarekat harus menggunakan simbol-simbol tertentu yang berbeda dengan umat muslim lainnya serta meninggalkan semua kehidupan du niawi yang dianggap :kotor".
Pada kenyataannya, anggapan semacam itu tidak seluruhnya benar.
Penganut tarekat, khususnya tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah tidaklah harus meninggalkan kehidupan duniawi.
Sebab mencari nafkah untuk keluarga dan kehidupan duniawi merupakan salah satu sarana atau alat untuk kita lebih tekun beribadah pada Allah SWT.
Pun, ajaran tarekat ini tidak eksklusif dan "mengasingkan" diri atau menggunakan simbol-simbol keagamaan tertentu.
Bagi panganut tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah, misalnya, sangat ditekankan agar menjalani kehidupan di dunia ini haruslah secara normal.
Boleh jadi, ia berprofesi sebagai pengusaha, pejabat, banker, dokter, dosen, guru, atau profesi lainnya, tidak-lah menghalanginya untuk mengikuti atau mengamalkan ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah.
Sebab sebagaimana dijelaskan di atas, inti ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah adalah dzikrullah (mengingat Allah SWT) di mana dan kapan pun kita berada.
Dzikrullah merupakan latihan psikologis (riyadah al-nafs) agar seseorang dapat mengingat Allah SWT di setiap waktu dan kesempatan.
Sumber ajarannya tidak terlepas dari al-Qur'an, Rasulullah SAW dan teladan para Salafus Shalihin. Di kalangan Jamiyah Ahli Al Thariqah Al-Muktabarah Al-Nahdliyyah (JATMAN-NU), tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah termasuk dari 45 tarekat mu'tabaroh (tarekat yang absah).
Bertarekat Itu Mengasyikkan
Dewasa ini perkembangan tarekat-tarekat sufi di negara-negara dunia mengalami kemajuan yang cukup signifikan.
Meski di sisi lain, acap kali praktik-praktik tarekat sufi sering mendapat kritikan pedas bahkan ada anggapan bernada miring oleh sebagian umat muslim.
Tudingan-tudingan miring ini disebabkan ketidaktahuan mereka tentang prakik-praktik tarekat sufi.
Karena mereka mendapatkan informasi dari hanya membaca tulisan-tulisan pemikir atau membaca buku-buku saja tanpa terjun langsung dalam praktik tarekat.
Tuduhan tersebut tegas ditolak oleh Azyumardi Azra (1999), yang menyatakan bahwa justru tokoh-tokoh sufilah yang menuntun umat menjadi lebih progresif di dalam berbagai hal kebaikan dan agresif dalam menolak segala kemungkaran dengan cara-cara yang lebih rahmat.
Dengan bertarekat, para salikin akan dituntut oleh mursyidnya untuk beribadah kepada Allah SWT dengan benar.
Baik secara syariat, tarekat, dan hakikat.
Karena tidak ada satupun syaikh tarekat yang menyuruh muridnya untuk meninggalkan syariat dan mengamalkan hakikat saja.
Kalaupun ada, maka golongan ini dinamakan dengan mutashowsif atau pseudo sufi (sufi gadungan) karena ulama-ulama tasawuf sering mendengungkan ungkapan;
"Barang siapa berfikih tidak berhakikat, maka fasiq dan barangsiapa berhakikat tanpa berfikih, maka zindiq".
Pseudosufi adalah orang yang sudah masuk ke dalam dua syair di atas dan acapkali tuduhan miring tentang praktik-praktik sufi dan kepada orang-orang sufi muncul dari sini.
Di dalam tarekat terdapat Syaikh Mursyid (guru), zikir dan salikin (penganut tarekat).
Jika guru diibaratkan dokter, zikir adalah obat, maka salikin adalah pasien-pasien yang sakit dan ingin disembuhkan penyakit-penyakit hati dan batinnya.
Dengan mengikuti bimbingan guru, diharapkan para salikin bisa menjadi muslim yang progresif, lebih peka terhadap masalah-masalah umat.
Di samping itu juga engaplikasian ibadah-ibadah syariat seperti shalat, puasa, zakat, haji lebih dimotivasi untuk lebih giat dan benar dibawah bimbingan sang guru atau mursyid.
Mursyid bukanlah sembarang guru. Ia adalah orang-orang yang memiliki dua ciri lahir, yaitu rahmatan dari Allah dan ilmu laduni.
Seperti disebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 65 menerangkan; "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (QS. al-Kahfi: 65).
Dari sini bisa kita tarik kesimpulan bahwa bertarekat itu mengasyikkan (enjoy) sebagai sarana bagi seseorang yang berusaha untuk ingin lebih memantapkan dan menggiatkan di dalam ibadah syariatnya supaya benar, baik secara lahiriah (memenuhi syarat dan rukun-rukunnya) dan juga batiniah (tarekatnya beribadah untuk mencari ridla Allah SWT, hakekatnya hanya Allah lah semata yang menggerakkan kita), sehingga terjadi singkronisasi antara keduanya; lahir dan batin.
Jadi tidaklah benar tuduhan-tuduhan miring dari sebagian orang yang mengatakan bahwa praktik-praktik sufi tarekat itu adalah sesat, bid’ah dan kehidupan bersufi hanya membawa kemunduran agama dan kehidupan berbangsa.
Sebaliknya, bila kita melihat sejarah Syaikh Arsyad al-Banjari, ulama terkemuka Indonesia abad ke-18 M yang terjun langsung bersama Sultan Agung Tirtayasa Banten dalam memimpin peperangan melawan kolonial Belanda, sehingga ia ditangkap dan harus diasingkan ke Ceylon Srilangka. Kemudian, karena masih dianggap berbahaya beliau diasingkan ke Kapeton (Tanjung Harapan) Afrika Utara.
Demikian juga halnya Syaikh KH. Ahmad Rifai bin Muhammad Markhum, Pahlawan Nasional, adalah tokoh ulama kharismatik di Jawa abad ke-19 M yang telah berhasil menanamkan kebenaran di hati murid-muridnya tentang keharusan ingkar terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Sehingga, ulama produktif ini (karena telah menulis lebih dari 62 judul kitab tentang Ushul, Fiqih, Tasawuf madzhab Syafii berbahasa Jawa dan Melayu) harus dipenjara kemudian diasingkan ke Batu Merah Ambon Maluku, terus dibuang sampai Kampung Jawa Tondano Minahasa bersama Kiai Modjo.
Bahkan Khadlaratussyaikh Hasyim Asyari, Pahlawan Nasional dan juga sebagai ulama harismatik pendiri Nahdlatul Ulama ini adalah murid KH. Kholil Bangkalan Madura yang setia pada jalan tarekat.
Masih banyak lagi ulama tokoh sufi terkemuka di Indonesia yang ternyata adalah penganut tarekat atau bahkan Syaikh tarekat itu sendiri. Wassalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/hendra-zainudin_20180116_175029.jpg)