Pergantian tahun Hijriah
Menyambut Tahun baru Hijrah 1439, Tahun Sinar Pembaruan
Tanggal 21 September ini kembali menjambangi kita dengan tibanya tahun baru Hijrah 1439 dan itu berarti sudah setahun pula umur kita berkurang.
Karena pemgertian perkembangan di sini adalah perubahan.
Contohnya bila di era tahun lima puluhan, untuk menyeberangi sungai Musi dengan kapal roda lambung atau dengan perahu jukung.
Sekarang untuk menyeberang sudah tersedia beberapa rentang jembatan seperti Jembatan Ampera, Musi 2, Musi 6 dan akan menyusul jembatan lainnya.
Demikian juga berbagai rentang jalan baru dibangun termasuk jalan-jalan TOL untuk mengurai kemacetan.
Belum puas dengan itu, untuk memperlancar dan mempercepat sampai tujuan dibangun pula LRT.
Dengan banyaknya dibangun jalan-jalan, maka tidak ada lagi daerah yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan, minimal sepeda motor.
Begitu puga di bidang ekonomi, sekarang telah dibangun perekonomian rakyat, sehingga kesejahteraan rakyat semakin meningkat.
Di bidang teknologi dan industri, telah pula dibangun berbagai industri yang berteknologi tinggi, dan berbagai kemajuan lainnya yang kesemuanya berawal dari makna hijrah yaitu perubahan.
Begitu tingginya nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah ini.
Salah satu ayat yang menunjukkan begitu tingginya nilai hijrah, adalah dalam Surat At Taubah ; "orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihat di jalan Allah dengan harta dan be-
nda termasuk diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang yang mendapat kemenangan".
Oleh sebab itu walaupun kita hidup sudah ribuan tahun sesudah hijrah, namun kita wajib untuk mengambil nilainya hijrah itu, karena kita juga memiliki kesempatan untuk mengikuti jejak hijrah Rosulullah untuk meningkatkan amal perbuatan kita.
Sesuai dengan Sabda Rasulullah : "orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah”". Sebagai contoh bagi para pejabat dan elit kita segera membubarkan jamaahnya yang selama ini menggerogoti uang negara dan masing-masing meninggalkan ke biasaan itu.
Sebagai seorang muslim peristiwa hijrah merupakan sebuah petunjuk dan isyarat secara jelas bahwa orang yang sudah menyatakan beriman kepada Allah haruslah secara tegas sanggup merubah secara total segala sikap dan tindakan yang tidak sesuai dengan syari’at Islam secara murni dan konsekuen.
Rasa keimanan bukan hanya diucapkan dibibir semata, melainkan harus dibuktikan dengan amal perbuatan nyata, dan bukan iman yang hanya berupa khayalan saja, sebagaimana sebuah hadits Rosulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah : "Iman adalah kepercayaan di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan".
Dengan melestarikan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW, maka diharapkan setiap umat muslim dapat mengenang kembali nilai utama dalam peristiwa histories itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/daud_20170630_151612.jpg)