Sejarah
Ternyata Jenderal Besar TNI AH Nasution Pernah jadi Guru di Tanjungraja Sumsel. Ini Lokasinya
Perjalanan hidup manusia memang tidak lepas dari kehendak Allah SWT yang Maha Mengatur. Walau punya talenta dan didkukung riwayat pendidikan memadai
Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
kemudian Ia menjadi seorang perwira di KNIL atau Koninklijk Nederlands-Indische Leger.
Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia, lalu Nasution ditugaskan ke Surabaya untuk mempertahankan pelabuhan.
Nasution kembali ke Bandung untuk bersembunyi karena takut ditangkap oleh Jepang.
Tapi kemudian Ia membantu milisi Peta namun tidak benar-benar menjadi anggota.
Pejalanan Karier Militer
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Nasution bergabung dengan TKR atau tentara keamanan Rakyat dan pada Mei 1948.
Ia diangkat menjadi Panglima Regional Divisi Siliwangi yang menjaga keamanan Jawa Barat.
Pada tahun 1948, Nasution naik jabatan menjadi wakil Panglima TKR meskipun hanya berpangkat.
Tahun 1950, Nasution menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan T.B Simatupang menggantikan Soedirman yang telah meninggal sebagai Kelapa Staf Angkatan Perang. Pada tahun 1952,
Nasution dan Simatupang memutuskan untuk mengadopsi kebijakan restrukturisasi dan reorganisasi ABRI untuk menciptakan tentara yang lebih kecil tetapi yang lebih modern dan profesional.
Pada 17 Oktober 1952, Nasution dan Simatupang memobilisasi pasukan mereka dalam unjuk kekuatan, mereka memprotes campur tangan sipil dalam urusan militer, pasukan Nasution dan Simatupang mengelilingi Istana Kepresidenan dan mengarahkan moncong meriam ke Istana dengan permintaan agar Soekarno membubarkan DPR.
Lalu Soekarno keluar dari Istana Kepresidenan dan meyakinkan baik tentara dan warga sipil untuk pulang serta Nasution dan Simatupang telah dikalahkan.
Nasution dan Simatupang kemudian diperiksa oleh Jaksa Agung Suprapto.
Pada Desember 1952, mereka berdua kehilangan posisi di ABRI dan diberhentikan dari ikatan dinas.
Ketika bukan laki KSAD, Nasution menulis buku berjudul Pokok-Pokok Gerilya. Buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya yang berjuang dan mengorganisir perang gerilya selama Perang Kemerdekaan Indonesia.
Setelah 3 tahun pengasingan. pada 27 Oktober 1955, Nasution diangkat kembali menjadi KSAD.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/nasu_20170818_105231.jpg)