Sejarah

Ternyata Jenderal Besar TNI AH Nasution Pernah jadi Guru di Tanjungraja Sumsel. Ini Lokasinya

Perjalanan hidup manusia memang tidak lepas dari kehendak Allah SWT yang Maha Mengatur. Walau punya talenta dan didkukung riwayat pendidikan memadai

Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
Jenderal Besar TNI (Purn_) AH Nasution 

Nasution dan istrinya terganggu oleh nyamuk dan terjaga. Nyonya Nasution yang mendengar pintu dibuka paksa ia bangun dari tempat tidur untuk memeriksa dan membuka

pintu kamar tidur, ia melihat tentara Cakrabirawa dengan senjata siap menembak lalu ia berteriak pada suaminya.

\Nasution yang ingin melihatnya namun saat membuka pintutentara menembak ke arahnya.

Sang istri menyuruh suaminya untuk keluar memalui pintu lain, Nasution berlari ke halaman rumah menuju dinding pemisah antara rumahnya dengan Kedutaan Besar Irak.

Tentara menemukannya dan menembaknya namun meleset, lalu nia memanjat dinding dan Ia tidak dikejar.

Seluruh penghuni rumah termasuk ibu dan adik Nasution, Mardiah ketakutan, lalu ia berlari ke kamar Nasution dan membawa putri bungsu Nasution yaitu Irma yang baru

berusia 5 tahun. Saat mencoba mencari tempat yang aman, seorang kopral penjaga istana melepaskan tembakan dan Irma tertembak dengan 3 peluru dipunggunggnya.

Sementara putri Sulung Nasution, Hendrianti Saharah Lari bersama dengan pengasuhnya ke pondok ajudan dan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Ajudan Nasution yaitu Tendean mengambil senjatanya dan lari dari rum,ah namun baru beberapa langkah ia tertangkap. Setelah menyuruh suaminya pergi, Ia masuk ke rumah dan membawa putrinya yang terluka.

Saat menelpon dokter pasukan cakrabirawa memaksa Ia untuk memberi tahu dimana suaminya lalu ia menjawab bahwa suaminya berada di luar kota. Pasukan cakrabirawa kemudian pergi dari rumah Nasution dan membawa Tendena bersama mereka.

Nyonya Nasution kemudian ke rumah sakit pusat angkatan darat membawa putrinya yang terluka.

Nasution yang bersembunyi hingga pukul 06:00, saat kembali ke rumahnya dalam keadaan patah pergelangan kaki.

Nasution menguruh ajudannya untuk membawanya ke Departemen Pertahanan dan Keamanan. Pada tanggal 2 Oktober pukul 06:00, Gerakan 30 September berhasil dikalahkan.

Beberapa Minggu setelah G30S, Nasution berusaha melobi Soekarno agar menjadikan Soeharto sebagai Panglima Nagkatan Darat dan pada 14 Oktober 1965, Soeharto diangkat sebagai Panglima Angkatan Darat.

Pada Februari 1966, Nasution tidak lagi menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam perombakan kabinet dan juga posisi

Kepala Staf ABRI dihapuskan.

Harapan untuk melakukan sesuatu telah hilang, para perwira dan juga gerakan mahasiswa berada dibelakang Soeharto, walaupun begitu Ia tetap menjadi tokoh yang dihormati.

Nasution di nominasikan untuk posisi ketua MPRS oleh semua fraksi di MRPS dan ia menjadi ketua MPRS.

Walaupun di bantu oleh Nasution, Soeharto menganggap Nasution sebagai saingan. Pada 1969, Nasution dilarang berbicara di Akademi Militer dan Seskoad dan pada 1971

Nasution diberhentikan dari dinas militer. Pada tahun 1972, posisi Ketua MPRS digantikan oleh Idham Chalid. Karena jatuh dari kekuasaan tersebut, Ia mendapat julukan Gelandangan Politik.

Pada 6 September 2000, setelah menderita Stroke dan koma, Ahmad Haris Nasution meninggal. Kemudian Ia di makamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

Nama: J enderal Besar TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution Profil Singkat Abdul Haris Nasution
Lahir: Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal : Jakarta, 5 September 2000 (umur 81)
Pasangan : Johanna Sunarti
Anak:

Hendrianti Saharah
Ade Irma Suryani

Agama : Islam

Pendidikan :

HIS, Yogyakarta (1932)
HIK, Yogyakarta (1935)
AMS Bagian B, Jakarta (1938)
Akademi Militer, Bandung (1942)
Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
Universitas Mindanao, Filipina (1971)

Karier :

Guru di Bengkulu (1938)
Guru di Palembang (1939-1940)
Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
Panglima Komando Jawa (1948-1949)
KSAD (1949-1952)
KSAD (1955-1962)
Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
Ketua MPRS (1966-1972)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved